Maudy Ayunda

Maudy mencoba mengubah citranya di dunia tarik suara. Harusnya berhasil, karena sebelumnya beberapa kali perempuan pemalu ini sukses keluar dari zona nyaman.

Nova - - Cover Story - WIDA CITRA DEWI FOTO: ISTIMEWA

Maudy Ayunda cantik, pandai berakting, merdu suaranya, gemilang pula di dunia akademik. Lantas, apa masih perlu mencari sensasi?

Betapa tidak. Pada 5 Oktober 2017 lalu, perempuan berusia 22 tahun ini menggemparkan dunia maya. Sederet nomor telepon terpampang di akun media sosialnya. Tak hanya itu, ia pun meminta para penggemarnya untuk meninggalkan panggilan tak terjawab di nomor tersebut.

Alhasil, ribuan Maudears—sebutan untuk penggemar berat Maudy—berlomba-lomba meneleponnya. Tak kurang dari 17 ribu missed calls dalam satu pekan! Tak cukup, Maudy kerap membubuhkan inisial misterius, KK, di media sosialnya. Banyak yang mengira, itu adalah singkatan dari nama Kugy dan Keenan, dua tokoh utama dalam film Perahu Kertas yang dulu dibintangi olehnya dan Adipati Dolken. Ada apa dengan Maudy? Syukurlah Maudy segera memberi jawaban. “Banyak yang mengira itu untuk film

Perahu Kertas. Seru, sih, berarti orang-orang masih pada ingat dengan film itu dan sosok aku di film itu. Itu bikin aku kaget karena ternyata orang-orang masih terkesan dan masih menantikan ada sesuatu yang baru dari Kugy dan Keenan.”

Padahal, inisial “KK” yang kerap ditulisnya itu adalah lagu barunya yang berjudul, Kutunggu Kabarmu.

Meskipun sukses membuat para penggemarnya penasaran, Maudy mustinya tak sekadar mencari sensasi melakukan itu semua.

Karena sebagai figur publik, penting bagi seorang Maudy untuk menjaga tingkah laku dan ucapannya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Untuk membangun dan menjaga citra diri dan personal branding yang positif, Maudy juga dibantu oleh kedua orang tuanya.

“Sama saja seperti anak muda lainnya, pasti dipilah-pilah mana yang mau di-share di dunia maya. Bukan cuma soal image, tapi juga privasi kita,” ucapnya, “Aku mencoba untuk tidak melakukan hal-hal negatif yang bisa ditiru temanteman.”

Meskipun Maudy sangat paham, menjadi seorang

public figure menjadi momok tersendiri. Pasalnya, apapun yang dilakukan oleh seorang

public figure, pasti disorot oleh jutaan pasang mata. Setitik kesalahan yang ia lakukan pun bisa saja menjadi bumerang yang menghancurkan.

Melawan Rasa Malu

Jadi, yang dilakukan Maudy di medsos belakangan ini, tak jauh dari upayanya menjaga personal branding?

Mungkin iya. Tapi yang pasti, Maudy tak ingin terkungkung pada karakter dirinya yang telanjur dicap “adem”. Sebut saja, ia mengaku, lagu yang kelak menjadi pembuka di album barunya ini menampilkan sisi autentik dari seorang Maudy Ayunda. Jika biasanya Maudy akrab dengan lagu bertempo balada yang sukses membuat banyak orang merasa gundah, kali ini musik dan liriknya justru terdengar lebih segar, fun, dan upbeat.

“Aku pengin nulis lagu yang menggambarkan sebuah hubungan yang duaduanya habis berantem dan keduanya lagi enggak saling ngomong. Keduanya bahkan sudah lupa alasan mereka berantem. Namun, keduanya sama-sama gengsi untuk saling ngabarin. Menurut aku, sih, dalam hubungan, ini fase yang lagi lucu-lucunya, duaduanya sama-sama tarik ulur dalam hubungan,” papar Maudy yang juga menggandeng Ifa Fachir dan DJ asal Malaysia, Tatsuro Miller, untuk menggarap lagunya itu. Tapi toh soal berani keluar dari zona nyaman bukan sesuatu yang baru bagi Maudy. Urusan rekaman di

studio, tentu tak masalah – karena jauh dari sorotan kamera. Namun, yang kemudian terjadi, setelah sukses merilis 2 album ia juga membintangi sederet film layar lebar.

Padahal, “Aku aslinya introvert dan pendiam banget. Aku paling malas kalau harus keluar, pergi ke acara-acara yang terlalu ramai. Aku lebih memilih menghabiskan waktu di kamar, membaca buku, diam sendirian. Beda, ya, dengan ketika aku di depan kamera? Hahaha.”

Ia juga menambahkan, dirinya sempat harus bersusah payah melawan rasa malu dan rasa tidak percaya diri ketika dirinya baru menjajaki karier sebagai seorang aktris dan penyanyi.

Tak hanya itu, setelah susah payah beradaptasi dengan lingkungan dunia nyanyi dan akting, ia pun harus bertemu lagi dengan lingkungan yang serba baru, yakni saat ia diterima sebagai mahasiswi di universitas bergengsi dunia, Oxford University, Inggris. Dan sukses pula ia menjalaninya. Maudy berhasil meraih gelar sarjana untuk jurusan PPE (Politics, Philosophy, and Economy) dalam waktu 3 tahun. Jadi, tak usah heran jika banyak perempuan muda – bisa juga kita – yang bisa sepertinya. Cantik, pintar nyanyi dan main film, encer otaknya, juga ingin menjadi figur publik? “Menjadi public figure itu serba salah. Di satu sisi, kita pasti mau menjadi diri kita apa adanya, diterima saat kita jadi diri kita yang autentik, tak mau tampil palsu, dan enggak mau menutupnutupi. Tapi sebagai manusia, pasti pernah melakukan kesalahan tanpa kita inginkan, lalu terekspos,” keluh Maudy. Lalu, ia pun mulai bosan jadi public figure? Belumlah. Toh ia tahu caranya agar selalu eksis dengan baik dan benar. “Yang bisa kita kontrol adalah hari ini dan besok. Yang penting bagaimana cara kita merespons dan meng-handle masalah sehingga kita bisa tumbuh dari pengalaman.”

Nah, jadi beda kan antara sekadar mencari sensasi dengan mempromosikan lagu baru?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.