AWAS HAMIL AKIBAT SPIRAL SUDAH KEDALUWARSA

Karena jangka waktu penggunaannya cukup lama— 5 sampai 10 tahun—kadang-kadang orang suka lupa melepas KB spiral. Bahaya tidak, ya?

Nova - - Kesehatan - WIDA CITRA DEWI

Memasuki penghujung tahun, mendadak Rini teringat kalau dirinya sudah lama tak pergi ke dokter kandungan untuk mengecek KB spiral yang dipasang di rahimnya. Jika diingat-ingat, tampaknya KB spiral miliknya juga sudah melebihi batas kedaluwarsa. Berbagai pertanyaan memenuhi benak Rini. Jangan-jangan, hal itu bisa membahayakan dirinya.

Pernahkah Anda mengalami kejadian serupa? Tentunya banyak pertanyaan yang bermunculan begitu Anda menyadari bahwa alat kontrasepsi yang Anda pasang sudah kedaluwarsa. Apakah hal ini berbahaya? Apakah ada efek samping? Lalu apa yang harus Anda lakukan?

Menurut dr. Muhammad Dwi Priangga, SpOG dari Klinik Bamed dan Staf Pengajar RSCM FKUI, pemakaian alat kontrasepsi berjenis intra uterine device (IUD) atau yang biasa disebut KB spiral memang merupakan alat kontrasepsi yang paling efisien dalam mencegah kehamilan. Selain itu, biayanya pun cukup terjangkau, minim keluhan, dan memiliki jangka waktu pemakaian yang cukup panjang.

Jenis-Jenis KB Spiral

Ada berbagai jenis KB spiral dalam sejarah medis. Sebelum ada KB spiral modern yang berbentuk seperti huruf T, ada yang disebut lippes loop karena bentuknya yang melingkarlingkar dan seperti zigzag. Bahan utama dari lippes loop adalah benang polyethylene.

Lippes loop sendiri sejatinya bisa digunakan seumur hidup, selama tidak ada keluhan atau indikasi-indikasi lainnya. Namun, masalah yang kerap timbul adalah tertanamnya benang di dinding endometrium yang menebal saat adanya regenerasi lapisan fungsional endometrium. Setelah lippes loop ditarik dari pasaran, kini dunia medis menghadirkan KB spiral dengan bentuk yang jauh lebih modern dan aman digunakan.

“KB spiral bentuk T saat ini sudah dimodifikasi sehingga lebih modern dan aman untuk semua kalangan. KB spiral juga dibuat dari bahan-bahan yang aman digunakan. Bagian utamanya berbahan dasar plastik. Sementara kedua lengannya dilapisi tembaga yang cenderung tidak bereaksi pada tubuh. Fungsi tembaga adalah untuk menghambat pergerakan sperma sehingga kehamilan bisa dicegah,” kata dr. Angga.

Masa Kedaluwarsa

Umumnya, KB spiral memiliki jangka waktu penggunaan yang relatif lama, yaitu 5 hingga 10 tahun. Namun, jangka waktu pemakaian KB spiral yang cukup lama sering kali membuat banyak perempuan lupa untuk melepas spiral di batas kedaluwarsanya. Lantas apakah hal tersebut berbahaya?

“Sebetulnya, KB spiral punya masa penggunaan yang lebih lama dari batas kedaluwarsanya. Misalnya, KB spiral yang memiliki masa penggunaan 5 tahun bisa digunakan hingga 7 atau 8 tahun. Tidak ada efek samping apapun karena bahan yang digunakan sangat aman. Jika sudah telat, bisa langsung menemui dokter atau bidan yang berpengalaman untuk melepasnya. Jika mau langsung diganti pun bisa,” terangnya.

Hanya saja, penggunaan KB spiral yang melebihi batas kedaluwarsanya berpengaruh pada kemampuannya dalam mencegah kehamilan. Umumnya, efektivitas KB spiral hilang setelah lewat dari batas kedaluwarsanya sehingga kehamilan bisa saja terjadi.

Selain itu, meskipun pemasangan KB spiral sangat aman, ada baiknya jika Anda tetap melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan. Pasalnya, perpindahan lokasi KB spiral bisa saja terjadi di dalam rahim. Pemeriksaan rutin juga bermanfaat untuk memeriksa kondisi dan kualitas KB spiral yang terpasang.

“Dulu ada mitos bahwa KB spiral bisa pindah-pindah. Sebetulnya tidak bisa, asal pemasangannya tepat. Jika dari awal letaknya kurang tepat, misalnya agak masuk ke otot rahim, bisa jadi dia bergerak atau malah susah dilepas karena tertanam di endometrium. Makanya pengecekan KB spiral penting dilakukan untuk evaluasi pasca pemasangan.”

Pengecekan KB spiral biasanya dilakukan secara berkala. Usai dipasang di dalam rahim, biasanya dokter atau bidan akan melakukan pengecekan melalui USG. Selanjutnya, pengecekan rutin dilakukan setelah 1 bulan, 6 bulan, dan setelahnya setiap satu tahun sekali.

DR. MUHAMMAD DWI PRIANGGA, SPOG

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.