MENTANG-MENTANG KEMBAR, HARUS SAMA TERUS?

Mengasuh anak kembar, menjadi kegiatan yang gampang-gampang susah. Supaya adil keduanya harus mendapat perlakuan yang sama. Tetapi, rupa yang sama bukan berarti semuanya harus sama, lho.

Nova - - Anda & Anak - PINGKI AULIA FOTO: ISTOCK Astrid Wen, M.Psi Psikolog Anak dan Praktisi Theraplay

“Ibu, aku bosan punya barang yang sama terus,” ujar si kembar ketika diberikan barang yang sama dengan kembarannya.

Anak kembar memang identik dengan barang-barang yang sama, entah itu baju, celana, hingga mainan. Banyak yang beranggapan, hal ini membuat si kembar telihat lebih lucu dan menggemaskan, bahkan bisa menjadi pusat perhatian. Padahal, walau kembar tiap-tiap anak tetap memiliki kesukaan, keunikan, dan karakter yang berbeda.

Menurut Astrid Wen, M. Psi, Psikolog di PION Clinician and Theraplay, anak kembar senang memiliki barang yang sama hingga berusia lima tahun, setelah itu mereka akan memilih hal-hal yang mereka sukai. “Seiring dengan tumbuh kembang anak, mereka akan mempunyai sifat yang berbeda. Nah, orangtua harus peka dengan perbedaanperbedaan pada anak kembar mereka. Misalkan yang satu lebih pendiam, yang satu lebih banyak berbicara, berarti kita peka terhadap perbedaan karakter ini dan kita tidak bisa paksakan mereka untuk menjadi sama,” katanya.

Bersikap adil bukan berarti memperlakukan anak sama persis, justru itu malah tidak adil untuk si anak. Ketika orangtua memperlakukan anak dengan sama persis, mereka menjadi tidak sensitif terhadap kebutuhan masing-masing anak.

“Yang namanya adil itu adalah memberikan sesuatu yang dibutuhkan anak, sesuai yang dibutuhkannya. Kalau dia membutuhkannya sedikit, ya, dikasih sedikit. Kalau dia membutuhkannya banyak, ya, dikasih banyak. Tidak mendiskriminasikan,” jelas Astrid.

Dukung Pilihan si Kembar

Walaupun lahir dengan identitas “anak kembar”, anak bisa memiliki perbedaan minat. Tidak menutup kemungkinan jika yang satu senang dengan musik yang lainnya lebih suka bermain di luar ruangan. Sebagai orang tua dari anak kembar, sudah tugas Anda untuk mendukung minat keduanya. Jangan sampai hanya memihak dan bangga hanya kepada salah satunya saja, karena sikap memihak sama saja dengan mendiskriminasikan anak.

“Dengan mengetahui adanya hal-hal yang berbeda dengan diri anak, orangtua dapat membantu si anak agar tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal. Misalnya, di sekolah mereka ada perayaan kostum, yang satu mau memakai kostum polisi, yang satu pakai kostum koki. Lalu, orangtua memberikan sesuai dengan keinginan anak tersebut,” jelas Astrid mencontohkan.

Sayangi Keduanya

Ketika berhadapan dengan dua anak sekaligus, sayangi keduanya jangan hanya salah satu. Jika hanya menunjukan rasa sayang kepada salah satu anak saja, hal tersebut mampu memicu timbulnya kecemburuan.

“Tidak ada diskriminasi perlakuan terhadap anak, artinya tidak memperlakukan anak lebih baik daripada yang lain. Ada favorism. Jadi, kalau bisa dua-duanya dianggap favorit. Saat tumbuh kembang, dua-duanya dicek apa, sih, keunikan dari masing-masing anak,” kata Astrid.

Menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk tidak melakuakan favorism saat memiliki anak kembar. Karena sangat memungkinkan ketika salah satu lebih sehat, lebih bisa melakukan banyak hal, ia lebih mudah disukai. Tapi itu bukan menjadi suatu alasan, untuk hanya menyayangi dan perhatian kepada salah satunya saja.

“Favorism memang seharusnya hati-hati, jadi cari tahu kelebihan setiap anak. Jangan memberikan label kepada anak pada waktu kita tidak suka pada anak. Karena label itu malah menguatkan kita untuk membenarkan akan suatu hal. Jadi sebaiknya kita tidak memberikan label-label negatif pada anak,” jelas Astrid.

Ajarkan Resolusi Konflik

Menurut Astrid Wen, anak kembar cenderung memiliki ikatan batin yang kuat daripada anak tunggal. Mereka memiliki bonding yang sangat lekat, terikat, saling mengerti, dan lebih positif satu sama lain. Namun, dengan memiliki ikatan batin yang kuat apakah anak kembar tidak bisa bertengkar? Tentu saja bisa.

“Jadi kalau ternyata ada rasa iri, ada jealousy antara satu sama lain, berantem, ya, harus dilihat apa yang menyebabkannya. Apakah di pola asuh kita, kita sering membanding-badingkan, kita mendiskriminasikan, atau hubungan kita tidak positif terhadap satu sama lain. Jadi kalau anak kembar sering berantem, kita harus cek apa yang harus diperbaiki dalam pengasuhan kita, apakah kita secara tidak sengaja menanamkan benih-benih rasa tidak disayang tanpa sadar,” tukas Astrid.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.