SENTUHAN KREATIVITAS, DONGKRAK NILAI BEKATUL

Usaha tidak pernah mengingkari hasil. Pameo ini pantas disematkan untuk kerja keras Ismiyati. Ditangan Ismiyati bekatul diolah menjadi produk makanan yang bergizi dan berhasil menembus pasar ritel modern dan supermaket dengan merek Super Roti.

Nova - - Kisah Sukses - FAJAR SODIQ

Bekatul adalah serbuk halus atau tepung yang diperoleh setelah padi ditumbuk dan kulit padi dipisahkan dari bulirnya. Jamak orang berpikiran bahwa bekatul adalah pakan ternak, padahal bekatul ini kaya akan kandungan vitamin dan protein. Atas dasar manfaat tersebut, Ismi— begitu panggilan akrabnya—mengembangkan bisnis roti yang unik, bukan berbahan dasar tepung terigu seperti yang banyak dilakukan pengusaha roti lainnya, namun memanfaatkan bekatul.

Ismi melakoni bisnis roti bekatul secara autodidak. Pada awalnya Ismiyati merupakan karyawan di salah satu dealer sepeda motor di Semarang. Setelah 12 tahun bekerja ia merasa stagnan, “Tahun 2011 itu saya merasa stag baik dalam hal karier maupun pendapatan. Akhirnya kepikiran untuk bisnis sampingan,” kata perempuan berhijab ini.

Ismi yang mempunyai hobi memasak khususnya membuat roti, memutuskan untuk berbisnis membuat cake dengan modal awal Rp30 juta—yang berasal dari tabungan dan pinjaman dari adik. Modal tersebut dipergunakan untuk membeli alat pembuatan roti seperti oven dan proofer.

“Bisnis roti ini saya jadikan bisnis sampingan karena masih kerja di dealer. Untuk membantu produksi, saya dibantu oleh satu koki dan satu helper. Sedangkan untuk marketing-nya dibantu oleh suami. Setelah berjalan satu tahun, saya merasa perkembangan bisnis ini lambat,” ujarnya.

Melihat perkembangan usahanya yang lambat dan ingin fokus dalam bisnisnya, akhirnya Ismiyati yang pada saat itu menduduki posisi Kepala Dealer sepeda motor di Semarang membuat keputusan untuk keluar dari pekerjaannya. Setelah keluar, Ismiyati selain mengurus bisnis roti juga melakoni kursus pembuatan roti untuk meningkatkan pengetahuan dalam pembuatan roti ini. “Kami juga melayani pesanan, saat Lebaran biasanya pesanannya melonjak,” ujarnya.

Sempat Ditinggal Karyawan

Saat semangat-semangatnya menekuni usaha roti, cobaan datang kepadanya. Empat karyawannya memilih untuk keluar. “Akhirnya saya cari karyawan lagi. Lambat laun usaha lumayan berkembang,” tuturnya. Peruntungannya dalam bisnis roti semakin berkibar saat dirinya mengikuti lomba Inspiring Women Preneur Competition di Semarang tahun 2015. Berawal dari kemenangan itu, muncul ide untuk memproduksi roti dengan bahan yang tidak biasa yaitu bekatul. Ia pun gerak cepat untuk mencari informasi baik melalui internet maupun kepada temannya yang berprofesi dokter, mengenai manfaat bekatul serta kandungan gizi bekatul. “Saya menemukan banyak informasi, bahwa tidak semua bekatul enak diolah jadi roti. Saya pun hanya memilih bekatul dari beras merah yang organik karena tidak menghasilkan rasa yang pahit,” jelasnya. “Ide ini sebenarnya simpel saja. Saya melihat teman-teman kalau pameran, sebagian besar menggunakan bahan tepung dan untuk bekatul itu seringnya cuma dipakai untuk sereal, minuman. Saya kepikiran, gimana kalau membuat kreasi roti tapi bahan utamanya bekatul,” paparnya.

Bukan hal mudah bagi Ismi untuk membuat roti bekatul. Selama empat bulan, Ismi bereksperimen membuat roti bekatul. Bekatul itu susah-susah gampang diolah menjadi roti. Bukan hanya masalah takaran yang tepat, tapi bahan pendukungnya juga harus pas.

Kreasi roti dengan berbahan bekatul memang ditujukan untuk menghadirkan roti yang sehat dan bergizi, untuk itu Ismi enggan menggunakan gula pasir. Ia kemudian mencoba dengan menggunakan gula aren, gula semut, gula palem, gula rendah kalori, macam-macam pemanis. Tapi dari sekian pemanis tidak ada yang cocok.

“Akhirnya saya menggunakan fruktosa kristal. Fruktosa ini jarang ditemui di Semarang. Ini bahannya impor. Sedangkan untuk menggantikan margarin, saya menggunakan minyak kelapa dan madu,” jelasnya.

Uji Laboratorium

Didorong keinginan untuk memastikan kandungan gizi dari roti bekatul hasil produksinya, Ismi membawa roti buatannya ke laboratorium. Hasil uji laboratorium, produk roti bekatul milik Ismiyati yang diberi label (merek) Super Roti dinyatakan sebagai roti sehat yang aman untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes, kolesterol tinggi, dan mereka yang sedang diet pun bisa mengonsumsi roti ini.

Butuh Pembinaan UKM

Kini Super Roti sudah masuk toko modern, toko oleh-oleh, dan apotek. Animo masyarakat terhadap produk Super Roti sangat baik. Produk Bagelen bekatul menjadi andalannya. Dalam jangka waktu lima tahun Super Roti mengalami perkembangan yang cukup pesat. “Saya promosi menggunakan media online dan ikut pameran-pameran olahan makanan juga,” ujarnya.

Dari lima karyawan, kini Super Roti memiliki 18 karyawan meliputi tenaga produksi dan marketing. Tempat produksinya pun sudah cukup memadai. Pada tahun 2013, tempat produksi semula di rumahnya kini sudah berpindah ke Jalan Batursari IV, Kota Semarang.

“Roti bekatul ini sudah dipesan hingga luar kota. Ada konsumen dari Medan, Palangkaraya, Lombok, Malang, Gresik, Jakarta, Bandung, Magelang, Jogja,” kata Ismi yang juga sedang mengembangkan olahan makanan dari biji nangka.

Seratus Kilogram Bekatul

Super Roti makin besar. Dari yang hanya mengolah 30 kilogram bekatul, kini sudah 100 kilogram yang dibuatnya jadi roti setiap bulan. Menurutnya 1 kilogram bekatul ini merupakan hasil dari 10 kilogram dedak. Omzet kotornya sudah mencapai Rp100 juta sebulan.

“Setiap hari memproduksi 100 pack lentul. Satu pack ada yang berisi 100 gram dan 200 gram. Harga lentulnya dari Rp18.000 hingga Rp45.000. Untuk roti basahnya sekitar 100 biji,” jelas Ismi yang pernah meraih juara 1 BUMN Award kategori ritel.

Ismi tak menyangka jika usahanya berkembang. Sebagai Usaha Kecil Menengah (UKM), salah satu kendala yang dialami adalah masalah modal dan pembinaan. Ismi mengaku UKM bukan hanya membutuhkan pinjaman bunga kredit rendah tetapi juga pembinaan. Sehingga tak hanya solusi suntikan modal, masalah pemasaran dan promosi melalui pameran mendapat perhatian dari bank.

Walau mendapatkan kesuksesan yang terbilang cepat, Ismiyati bukan sosok yang pelit ilmu. Memegang prinsip “memberi bukan berarti mengurangi”, Ismiyati kerap membagikan ilmu-ilmu olahan makanan kepada ibu-ibu dan mahasiswa. Tujuannya agar para ibu-ibu ini bisa produktif.

“Banyak siswa, mahasiswa dan UKMUKM yang belajar di sini. Itu pun saya tidak tarik bayaran, tapi saya senang berbagi dengan mereka. Setiap dua kali dalam setahun, Super Roti juga memberikan pelatihan gratis untuk ibu-ibu untuk menciptakan olahan makanan yang baru,” kata Ismi yang memiliki dua buah hati ini.

“Bank BRI membantu sekali. Saya sudah dua kali meminjam dana dari Bank BRI senilai Rp120 juta, tahun 2014 untuk membeli dan merenovasi bangunan untuk pabrik pembuatan roti. Kemudian tahun 2016 dapat kredit lagi untuk menguatkan dan mengembangkan kapasitas produksi roti,” ujarnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.