Jelajah Gizi 2017 MALANG TAK CUMA APEL

Di kota ini kami tak hanya disuguhi penganan bergizi. Kelezatannya, membuat tak ada lagi ruang tersisa di perut.

Nova - - Ragam - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: BAGUS SEPTIAWAN

Di telinga, “mendol” memang tidak terdengar sexy. Tapi begitu ia dikunyah, dijamin kita akan lupa dengan namanya. Karena yang teringat hanya begitu lezatnya penganan berbentuk lonjong kecokelatan nan krispi ketika digigit, dan yang tersisa di lidah hanya: ketagihan.

Namun mendol yang berbahan dasar kedelai ini, ternyata hanyalah sedikit dari makanan khas Malang yang wajib kita cicipi, hingga perlu dieskplor. Pantaslah Malang dijadikan destinasi kegiatan Jelajah Gizi 2017 yang dihelat Nutricia Sarihusada, belum lama ini.

Hal lainnya, seperti kita tahu, Malang kota yang sejuk di Jawa Timur itu dikaruniai tanah tanah yang subur—yang selanjutnya berpotensi baik menghasilkan bahan pangan dari sektor pertanian.

Namun, apalah artinya kalau makanan hanya lezat tapi kandungan gizinya meragukan. Nah, di acara ini pun edukasi tentang kadar gizi yang terkandung pada setiap panganan lokal khas Malang pun menjadi sesi yang menarik. Adalah Prof Ir Ahmad Sulaeman, MS, PhD selaku pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor yang turun memandu.

Olahan Tempe

Batu yang berjarak sekitar 17 kilometer dari Malang jadi lokasi pertama yang dituju. Sepanjang jalan menuju ke sana hawa sejuk pegunungan terasa menyapa. Maklum, kota ini berdekatan dengan Gunung Arjuna.

Hawa dingin membuat perut terasa cepat lapar. Tapi jangan khawatir, di Batu tersedia beragam rumah makan yang siap menyajikan kuliner khas. Salah satunya adalah Rumah Makan Khas Jawa, yang menyediakan banyak masakan dan camilan khas Kota Apel ini.

Selain menyajikan camilan mendol, ada hidangan lain yang juga berbahan ampas tempe atau kedelai hitam, yakni menjes. Bedanya dengan mendol, menjes berbentuk persegi panjang yang digoreng bersama tepung terigu. Jadi ketika dicicip, rasa khas kedelai begitu terasa, bercampur dengan tekstur krispi yang makin menambah kenikmatan.

Kedua menu tadi adalah hasil olahan tempe yang kedelainya didapat dari para produsen asal Malang. “Sebenarnya, Indonesia sangatlah kaya akan pertanian yang hasilnya sangat bagus dijadikan bahan pangan. Salah satunya di sini. Selain segar, semua olahan menu yang bahannya didapat dari pertanian lokal pasti sehat dan memiliki kandungan gizi cukup untuk tubuh. Jadi, sangat direkomendasikan jika olahan tempe ini dibuat sebagai lauk utama saat makan,” jelas Prof Ahmad Sulaeman.

Setelah puas bersantap, perjalanan kembali dilanjut. Tentu, lokasi yang dikunjungi bukan lagi rumah makan. Melainkan hamparan perkebunan luas dengan aneka tanaman di dalamnya. Ya, salah satu tanamannya adalah apel, buah khas Malang.

Banyak hal menarik tentang apel di Kusuma Agrowisata Batu ini. Dalam kebun agrowisata seluas 70 hektar, tumbuh dua jenis tanaman apel. Yakni apel manalagi dan apel anna. Apel manalagi adalah jenis apel yang umum ditemui dan banyak ditanam di berbagai kebun petani sekitar Batu. Bentuknya bulat. Kalau sudah matang, apel ini berwarna hijau kekuningan. Teksturnya sedikit agak keras saat digigit dan beraroma harum. Pantaslah jika apel ini menjadi salah satu favorit warga. Sementara apel anna berbentuk sedikit lebih lonjong. Saat matang, warnanya berubah menjadi hijau kemerahan. Baunya pun harum dan bertekstur lebih empuk dibanding apel manalagi. Soal rasa, apel anna memiliki variasi antara manis dan asam.

“Cara petiknya mudah. Pegang tangkai dengan tangan kiri dan putar buah apelnya pelan-pelan dengan tangan kanan, ya!” saran Sumarmo, seorang pemandu agrowisata.

Setiap pengunjung diberi jatah dua buah untuk dipetik sendiri selama berada dalam agrowisata petik apel. Silakan dimakan di tempat, atau boleh juga dibawa pulang. Apel yang layak dipetik, biasanya berusia lima bulan dan sudah berubah warna.

Cegah Penuaan Dini

Puas memetik, pengunjung bisa bergeser ke pabrik pengolahan hasil tanaman Kusuma Agrowisata. Jaraknya tak jauh dari kebun. Bagi pengunjung yang malas berjalan, bisa menggunakan shuttle bus.

Di pabrik itu buah-buah diolah. Khusus untuk apel, hasil olahannya berupa sari apel, cuka apel, hingga jenang apel.

“Makan berbagai olahan apel memang baik. Tapi tak sebaik ketika kita memakannya langsung dalam bentuk buah utuh.”

Buah apel seperti kita tahu, baik untuk tubuh. Bahkan menurut Prof. Ahmad Sulaeman apel bisa mencegah penyakit jantung, mencegah asma, membantu menurunkan berat badan, meningkatkan sistem kerja imun, dan melancarkan pencernaan. Selain itu, fungsi apel bagi tubuh yang paling dominan adalah menjaga kesehatan kulit dan mencegah penuaan dini.

Lantas, bagaimana cara mengonsumsi apel yang tepat agar hal-hal baik tadi dapat dirasakan tubuh? “Sebenarnya tak ada batasan seberapa banyak kita harus mengonsumsi apel setiap harinya. Tapi agar efektif, makanlah lima sampai tujuh buah apel setiap hari agar manfaatnya terasa di tubuh. Jumlah tadi sudah sesuai dengan yang disarankan organisasi kesehatan dunia (WHO).”

Steak Rawon

Mendol sudah. Apel menyusul. Kelar? Belum. Karena yang ini, bakal lebih menggoyang lidah: steak rawon. Sudah begitu, yang memasaknya pun Chef Revo, jebolan Junior Master Chef.

Bumbu utama rawon adalah kluwek. Namun biasanya kluwek digunakan pada campuran kuah rawon sehingga menimbulkan cita rasa khas. Namun pada steak rawon, dua butir kluwek yang sudah diblender bersama kunyit, jahe, bawang putih, dan bawang merah dilumuri ke setiap sudut daging selama beberapa menit agar meresap.

Setelahnya, Chef Revo memanaskan wajan yang sudah dituang olive oil. Tak lupa, ia tambahkan daun jeruk dan serai agar menambah aroma sedap pada masakan. “Ini saatnya daging dimasukkan ke wajan. Goreng beberapa saat sampai tingkat kematangan

medium rare,” ujarnya. Sambil membolakbalik daging agar matangnya merata, Chef Revo dengan sigap membuat taburan

tambahan untuk campuran di steak rawon. Pertama, ia memarut kuning telur asin yang sudah dibuka cangkangnya. Lalu ia menyiapkan tepung roti sebagai taburan utama. “Kalau warna cokelat sudah merata, itu artinya daging sudah matang. Tapi, sisakan sedikit minyaknya untuk menggoreng taburan telur asin dan tepung roti tadi,” sautnya.

Di tengah proses menggoreng taburan, Chef Revo mulai memotong tipis steak daging yang kemudian langsung ia tata di atas piring saji. Setelah matang, taburan itu pun diserakkan ke atas steak daging yang aromanya kian membangkitkan selera makan. Dan akhirnya, steak bernuansa Jawa Timur siap dinikmati. Cita rasa khas rawon memang kuat terasa. Apalagi ditaburi tepung roti bercampur kuning telur. Yummy!

Steak rawon selesai dihidangkan, Chef Revo berlanjut ke proses pembuatan salad apel jenis manalagi. Caranya, parut dua potong apel, siapkan juga olive oil. Tangannya pun berlanjut dengan memarut kulit sedikit lemon dan keju, tambahkan garam, lada bubuk, dan jus lemon. Aduk-aduk, kemudian sisihkan.

Untuk pelengkap lain dalam salad, Chef Revo memotong buah apel lainnya menjadi empat bagian. Tumis dengan mentega hingga kekuningan dan agak layu. Setelah matang masukkan selada dan bayam. Aduk rata, jangan lupa tambahkan olive oil. Lalu aduk rata dengan dressing salad. Saat pengadukan, Revo menaburkan gula dan garam. “Supaya rasanya kaya,” sautnya.

Di sela pengerjaan, ia kembali menyiapkan wajan dengan sedikit

olive oil untuk menyangrai tepung roti. Setelai selesai, bahan itu disisihkan. Kemudian, sajikan salad yang sudah dicampur dengan dressing salad, lalu taburi dengan tepung roti yang telah disangrai. Selanjutnya, tambahkan irisan apel segar di atasnya. Salad apel siap dinikmati. Rasa manis, asam, dan sedikit gurih menyapa lidah setiap penikmatnya.

“Dengan begini kita sadar, hasil pertanian kita memang bisa diolah ke dalam bentuk makanan apa pun. Dan yang terpenting, semua itu memiliki ragam kandungan gizi yang sehat bagi tubuh. Jadi, mulai sekarang jangan takut untuk mengeksplor ragam panganan lokal ya, ” himbau Prof. Ahmad Sulaeman.

Kapan lagi ya ada Jelazah Gizi ke Malang?

Gambaran proses pengolahan apel menjadi berbagai produk di pabriknya

Olahan tempe, menjes

Ragam olahan apel

Steak rawon

Memasak olahan hasil bumi Malang bareng Chef Revo

Tampak depan Kusuma Agrowisata di kota Batu

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.