Lagi Nyetir, Kok, Kupingnya Disumpel?

Bila Anda menganggap penggunaan headset saat berkendara sanggup membuat pengalaman mengemudi jadi aman dan nyaman, Anda tentu keliru besar.

Nova - - Tips Oto - JEANETT VERICA FOTO: ISTOCK

Celaka memang bisa datang dan mendera kapan saja. Akan tetapi apabila kita lihai menghindarinya, mengapa tidak dilakukan? Seperti kata pepatah saja: sedia payung sebelum hujan; waspada sebelum hal-hal yang tidak diinginkan menyerang. Maksudnya begini. Dewasa ini, di jalan-jalan kecil maupun besar, tak jarang kita melihat banyak pengendara yang sibuk membagi fokus berkendaranya dengan telepon genggam. Bukan cuma driver ojek online yang sibuk melototin telepon melihat pesanan penumpang. Hampir sebagian besar pengendara umum—laki-laki maupun perempuan—juga tampak sibuk dengan gawainya. Jangan dikira gawai itu hanya “direngkuh” saat berada di tengah kemacetan atau lampu merah. Saat sedang ngegas pun, jemari tak lepas dari smartphone.

Tentu baik bila Anda sudah mulai mengurangi aktivitas “sibuk” ini. Apalagi, hal semacam itu sejatinya telah dikategorikan pelanggaran dalam undang-undang kita, dan diatur dalam pasal 106 ayat (1) Undangundang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan hukuman yang cukup berat. Alasannya, aktivitas ini dinilai mengurangi konsentrasi pengendara yang seharusnya menyumbang perhatian penuh pada aktivitas lalu lintas.

Sosialisasi peraturan ini telah dilakukan Humas Mabes Polri cukup lama—lewat berbagai media, media konvensional ataupun media sosial. Seharusnya, peraturan ini sudah bisa kita pahami dengan baik.

Sayang kenyataannya tidak semulus itu, Sahabat Nova. Banyak di antara teman kita di luar sana—termasuk kita barangkali—masih sering kecanduan menggunakan telepon genggam. Beberapa tahun belakangan ini malah sudah banyak pengendara yang juga mengenakan headset saat berkendara. Telinga mereka disumpel, demi mendengarkan musik atau menelepon. Salah? Tentu. Karena, “Mengemudi adalah kegiatan multitasking dan mengemudi menuntut konsentrasi yang penuh dan mampu mengendalikan seluruh anggota tubuh, termasuk tangan dan kaki dalam mengoperasikan komponen kendaraan,” kata Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) sebagaimana dilansir dari laman GridOto.com.

“Di saat itu konsentrasi berkurang, nah di saat yang sama ditambah tugas yang lain yaitu menggunakan headset, konsentrasi jadi lebih berkurang,” sambungnya.

Ya, penggunaan headset—entah itu untuk mendengarkan musik atau sedang menelepon tanpa memegang langsung peranti smartphone—tentu pertama-tama sanggup mengurangi konsentrasi Anda. Kedua, fungsi telinga untuk mendengar klakson dari pengendara di sekeliling juga akan tereduksi.

Belum bisakah kita membayangkan bahaya dan celakanya? Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Headset untuk Telepon

Soal headset, Anda mungkin menganggapnya aman digunakan tatkala ingin menelepon sambil menyetir mobil atau motor. Pasalnya, Anda tentu tak perlu repot memegang telepon secara utuh karena kedua tangan diharuskan memegang kemudi dengan baik.

Tapi tahukah kita bahwa headset pun sama tak amannya?

“Tidak aman (menggunakan headset untuk telepon). Kalau tidak aman berarti tidak boleh,” jelas Jusri—masih dikutip dari laman yang sama.

Menggunakan headset saat berkendara sudah jelas membuat konsentrasi kita berkurang karena harus membagi pikiran untuk berkomunikasi dengan lawan bicara di seberang sana. Ini tentu berbeda dengan memasang radio—di mobil—karena sifat komunikasi radio adalah satu arah— sementara pada telepon berlaku komunikasi dua arah.

Komunikasi dua arah, sejatinya perlu dilakukan dengan penuh konsentrasi—sama dengan menyetir. Maka, dua hal ini dianjurkan untuk tak dilakukan berbarengan karena dalam berkendara, kita dituntut sangat awas melihat situasi kendaraan di sekitar dan waspada melihat lampu merah.

Headset untuk Musik

Tak hanya ketika menelepon, headset pun sama berbahayanya jika kita gunakan untuk menghibur diri dengan mendengarkan musik— anggaplah ketika macet.

Ochi (29) yang kerap berkendara dengan motor, misalnya, mengaku selalu menggunakan headset dan memutar lagu dari aplikasi streaming lagu berbayar selama dirinya berkendara membelah jalanan ibukota. Lebih semangat, ungkapnya.

“Ya, gimana, ya? Jenuh dan sudah biasa denger lagu kalau ngapa-ngapain,” kata Ochi jujur.

Bahkan bukan hanya pengendara motor, para pengendara mobil pun kadangkala sengaja menggunakan headset untuk mendengar lagu—sekalipun mobilnya telah dilengkapi sound system.

Apapun alasannya, penggunaan tetap saja salah.

Kalau kita mengunci lubang telinga dengan headset, otomatis tingkat kewaspadaan kita turut berkurang. Terhadap bunyi klakson, atau terhadap suara kendaraan lain yang mendekat. Tanda kereta api mau lewat pun bisa saja tak terdengar jikalau headset menutup telinga sangat dalam dan bunyi musik sangat keras.

Sebutlah Anda sangat bosan dan merasa butuh hiburan—terlebih saat mengendarai motor di tengah jalanan yang macet dan ingin mendengar musik, Jusri menuturkan sebuah pengecualian.

“Boleh saja (mendengarkan musik), selama headset tadi tidak maksimal menutup kuping, seperti menggunakan headset sebelahnya saja,” kata Jusri.

Atau ya, sediakan saja “payung” lain dengan tak menggunakan headset—melainkan menyalakan radio dan musik di mobil, atau menepikan motor sejenak ke pinggir bila sudah terlalu lelah dan mengantuk. Bila masih bandel juga, peraturannya sudah tinggal bergerak dan menindak. Anda tentu tak mau berurusan dengan hukum, kan? headset

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.