40 JUTA BALITA INDONESIA PEROKOK PASIF

Bisa dipastikan, merokok memicu penyakit kardiovaskular yang termasuk “5 penyakit pembunuh” saat ini. Lebih celaka lagi, jika sang perokok itu adalah perempuan.

Nova - - Kesehatan - AGHNIA HILYA N FOTO: ISTOCK

Berhenti merokok atau membuat si kecil menderita? Buat Anda yang masih merokok, masihkah ini pilihan sulit? Harusnya tidak.

Karena, perempuan maupun laki-laki punya potensi sama besar untuk terkena penyakit kardiovaskular—yang salah satu penyebabnya adalah karena merokok.

Dulu, menurut dr. Ade Meidian Ambari, ada anggapan kalau perempuan masih menstruasi maka dia masih memproduksi hormon estrogen yang bisa mengamankannya dari terkena serangan jantung. Namun sekarang, belum tentu. Banyak perempuan usia muda yang juga bisa terkena serangan jantung atau penyakit jantung koroner.

“Pada perempuan prevalensinya memang masih dikit, tetapi ada kencenderungan tren itu berubah. Bahkan sekarang ada anekdot, kalau kamu mau kurus kamu merokok, kalau berhenti nanti kamu gemuk. Ternyata itu enggak (benar). Risiko perempuan sama pria untuk penyakit jantung koroner sama,” jelas Ade Meidian yang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita itu.

Dan celakanya lagi, tak sedikit di saat mengandung pun, perempuan masih saja merokok. Sudah begini, apa yang akan terjadi pada sang buah hati di dalam kandungan?

Kejadian yang paling sering terjadi, sang bayi lahir dengan prematur. Karena bayi lahir tidak pada waktunya−kurang bulan−maka berat badannya menjadi kurang sehingga bayi pun lemah. Hal tersebut bisa membuat ukuran bayi lebih kecil daripada ukuran bayi pada umumnya. Bahayanya ketika dia sudah dewasa, dia akan lebih mudah terpapar penyakit paru-paru, seperti asma.

“Jika ibunya perokok tidak terlalu aktif, bisa aja bayinya lahir normal, tapi paparan asap rokok itu racunnya kan banyak, bahaya, apalagi anak-anak usianya masih muda jadi lebih rentan,” ujar Ade.

Tambahan lagi, anak yang terlahir dari ibu perokok maka otomatis akan menjadi seorang perokok pasif. Dampak lainnya, sang anak pun dapat menjadi perokok aktif karena melihat ibunya.

Hal tersebut selaras dengan data WHO tahun 2015, lebih dari sepertiga anak lakilaki usia 13-15 tahun di Indonesia saat ini mengonsumsi produk tembakau. Lebih dari 3,9 juta anak—antara usia 10-14 tahun— menjadi perokok setiap tahunnya. Setidaknya 239.000 anak di bawah umur 10 tahun sudah mulai merokok. Celakanya lagi, lebih dari 40 juta anak di bawah 5 tahun menjadi perokok pasif.

Hal lain yang tak kalah penting, kita harus mencari dukungan. Kita akan menjadi lebih kuat dan konsisten ketika keluarga dan orangorang yang kita sayang mendukung keputusan kita untuk berhenti merokok.

Selesai membaca ini, langsung katakan, “Selamat tinggal rokok!”

dr. Ade Meidian Ambari Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.