KE uDIK AKu KAN (SELALu) KEMBALI

Kampung halaman selalu menawarkan kenyamanan. Selain di sana bisa ketemu sanak saudara, teman, penganan lezat, kita pun bisa mendapat pengalaman batin yang sangat bermanfaat.

Nova - - Isu Spesial -

Mudik Lebaran tahun ini sungguh berkesan buat Alila. Salah satu teman kita yang baru 3 tahun berumah tangga ini mendapat “oleh-oleh” yang sungguh lezat dari kampungnya.

Makanan, kue kering, jadah, atau seperangkat kain batik?

Bukan, bukan hanya itu. Meskipun ia membawa pulang 2 dus berisi kripik paru, rengginang, juga enting-enting—lantaran capek dan keesokan hari harus masuk kantor—buah tangan dari kampung itu belum sempat dibukanya.

“Aku enggak jadi menggugat cerai suamiku,” kata Alila menjelaskan ‘oleh-oleh’ yang didapatnya saat mudik ke kampungnya di satu kota kecil di Jawa Tengah, kemarin ini. Yup, tebakan kalian tepat! Alila membawa pulang “oleh-oleh” satu pengalaman batin yang didapatnya saat berhari-hari berkumpul dengan sanak saudara dan beberapa kerabatnya di kampung.

Pengalaman itu merasuk dalam batinnya saat ia berinteraksi dengan Bude Marni. Kakak perempuan ibunya yang sudah paruh baya itu dilihatnya begitu sabar, sangat telaten, dan penuh kasih melayani suaminya. “Padahal pakde-ku sangat galak, malah kalo ngomong suka kasar gitu,” jelas Alila.

Hingga di satu saat seusai salat subuh, Alila ngobrol dengan sang bude.

“Dari matamu Bude bisa menebak. Pasti kamu heran dan bertanya, Kok bisa ya Bude tahan puluhan tahun hidup sama Pakde?” Tapi gak apa-apa. Karena kamu kan hanya melihat, tapi tak pernah merasakan. Bude memang tak kenal betul seratus persen pakde-mu. Begitu juga dia sama Bude. Tapi, kami setiap hari, setiap malam masih nyempet-nyempetin ngobrol. Dan kami punya waktu yang banyak untuk itu. Nah, dari situlah kami sama-sama belajar untuk saling mengenal untuk saling menyayangi, sampai Gusti Allah memanggil kami,” cerita Bude Marni dengan suara bergetar. Serrrr... Udara hangat pun langsung mengisi hati Alila di pagi yang dingin itu.

Pengalaman batin Alila dengan sang bude itu menjadi pelajaran buat Alila: jarang ngobrol itulah yang menurutnya jadi pangkal persoalan ia jadi sering ribut dengan suaminya. Alasan sama-sama sibuk pun mulai diyakininya itu hanya ilusi belaka. Karena jika disempatkan, selalu masih ada waktu untuk mereka berdua.

Jarum jam yang konon bergerak lebih lambat kalau di kampung, dijadikan Alila sebagai pelajaran—justru bukan untuk meremehkan waktu—tapi malah ia kian menghargainya.

Lantas, oleh-oleh macam apa lagi yang dibawa teman-teman kita usai mudik kemarin ini?

Belajar Cium Tangan

Silvia Junaidi (35), meskipun harus bermobil belasan jam dari Jakarta ke kampung suaminya di Madiun, Jawa Timur, mengaku tak pernah kapok. Sudah tujuh tahun ritual semacam itu dilakoninya bersama keluarga, dan di tahun-tahun mendatang ia sudah berniat keras untuk mengulang, mengulanginya lagi.

“Saya senang pulang kampung, karena budaya di kampung lebih tradisional, enggak kayak di Jakarta. Orang-orang di kampung lebih sopan dan santun. Mereka ramah sekali. Uniknya, anak saya betah di kampung karena di sana ramai bisa bermain dengan sepupusepupunya,” ungkapnya.

Selama di kampung, Silvia mengaku banyak mendapat nilai-nilai kehidupan yang baik untuk keluarganya. Misal, anak laki-lakinya yang berusia delapan tahun, kalau saat di Jakarta, susah betul diajak bersilaturahmi ke rumah saudara. Tapi begitu di kampung, sikap sang anak kontan berubah. “Sampai diajak pulang ke Jakarta aja dia enggak mau. Katanya mau menghabiskan liburan di kampung aja,” tutur Silvia.

Menurut Silvia, putranya itu menemukan kembali “dunia bermain anak-anak” yang sesungguhnya di kampung. Bukan bermain

gadget yang selama ini menjadi dunia bermainnya jika di Jakarta.

Silvia dan Alila tentu tak sendiri. Bisa jadi banyak teman-teman kita lainnya yang membawa “oleholeh” yang tak kalah nikmat sepulang mudik.

Nissa, misalnya. Karena besar di Jawa, ia tidak doyan masakan pedas bersantan. Tapi, sepulang mudik ke Sumatera Barat, kampung sang suami, Nissa kini jatuh cinta dengan masakan Padang. Tak hanya Nissa, ketiga anaknya juga merasakan hal yang sama. Walau sekadar mencicip makanan, Nissa mengakui jika kuliner membuat keluarganya memahami adanya keberagaman.

“Pulang kampung membuat saya dan anak-anak belajar jadi lebih humble, bisa menyesuaikan dengan kebiasaan di rumah yang berbeda-beda, juga makanan yang berbeda, itu juga melatih empati kami,” katanya.

Sementara Alfa (32), ibu beranak dua ini mengaku membawa “oleh-oleh” yang tak kalah lezat dari Palembang. Tentu, bukan sekadar pempek-pempek

bercuko sedap itu, tapi ia juga membawa kenangan manis dari kampung halamannya.

“Di sana rasa kekeluargaan sangat terasa. Setiap acara makan selalu dilakukan bersama, saling memanggil dan mengingatkan untuk berkumpul bersama saat waktunya makan tiba. Sehingga pada waktu makan tersebut, banyak terjadi obrolan dan tukar cerita yang semakin mengakrabkan kami sebagai keluarga,” jelasnya.

Tak hanya itu, Alfa mengaku anakanaknya pun mendapat pelajaran yang baik. Jika selama ini sang anak jika hendak pergi sekadar bilang pamit, sekarang tak lagi begitu.

“Anak saya jadi terbiasa berpamitan dan mencium tangan. Karena pas di kampung, ia harus melakukan itu sama kakeknenek, paman-bibi, yang ada di rumah saat pergi dan pulang ke rumah. Bagi saya, itu bagian dari pembelajaran sopan santun untuk menghormati orang yang lebih tua,” pungkasnya.

Lidah Kuliner

“Masyarakat di kampung itu cenderung bersifat homogen. Jadi mereka punya kesamaan. Biasanya dalam suatu lingkungan atau kawasan, kalau enggak profesinya sama, atau masih ada hubungan keluarga. Itu yang membuat kekerabatan dan keramahan jauh lebih terasa,” jelas Dr. Devie Rahmawati CPR sebagai ahli budaya, komunikasi, sosial dan digital dari Kepala Program Studi Vokasi Komunikasi Universitas Indonesia.

Kelanjutan dari yang disampaikan Dr. Devie, sebagian besar orang di kampung memang masih menjunjung tinggi nilai sosial yang menjadi kearifan lokal. Budaya sopan, santun, saling menghormati dan tolong menolong masih begitu dijaga. Tak pandang usia, ras maupun agama, semua saling terima dan mengutamakan kebersamaan.

Semangat gotong royong yang dicetuskan para pendahulu kita sejak dulu juga masih menyala di banyak kampung. Misal, jika hanya butuh sembako, ada saja tetangga yang mau menolong tanpa minta imbalan. Belum lagi kalau mau membangun pos gardu jaga. Nyaris semua bapak-bapak di kampung turun tangan menjadi tukang bangunan.

“Kalau di kampung, silaturahmi antartetangga masih sangat kental. Tapi, kalau di Jakarta, kadang setahun tinggal di sebuah kawasan, mereka masih saja saling tidak kenal satu sama lainnya. Karena, mereka tidak berasal dari daerah yang sama,” jelas Devie.

Sementara kota—apalagi kota besar—telah menjadi belantara lengkap dengan “hukum rimba”-nya. Begitu kompetitif. Terlupakanlah norma-norma sosial yang pernah kita anut dulu di kampung.

Menurut Dr. Devie, kota sudah tak punya lagi budaya orisinil. Tak punya lagi ruang untuk manusia yang sesungguhnya makhluk sosial. Sementara di kampung ruang itu masih terhampar lebar. Jadi, jika arus mudik setiap tahun selalu meningkat pesat, karena kita memang rindu, ingin mengenakan lagi “kulit” kita yang sesungguhnya di kampung. Suasana nyaman, tenang, dan ramah yang tidak dapat di kota, membuat kita tak pernah kapok untuk mudik. Karena memang banyak pengalaman batin yang indah kita dapat dari mudik.

Lantas, rugikah kita kalau saat mudik kemarin hanya ingin “wisata kuliner”? Tidak juga. Toh menurut Devie, kuliner itu bisa jadi jembatan kita mengenang keindahan kampung halaman. Sebab, “Kenangan itu paling ampuh teringat dari lidah. Kuliner di rumah selalu bisa membangkitkan romantisme masa lalu kita ketika di kampung halaman.” TENTRY YUDVI/AALEYAH BHASKORO | FOTO: ISTOCK, DOK.PRIBADI

DR. DEVIE RAHMAWATI CPR SEBAGAI AHLI BUDAYA DAN KOMUNIKASI DARI UNIVERSITAS INDONESIA.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.