MERTUA JUGA PUNYA HARGA

Berapa “harga” yang harus kita bayar pada mertua saat menitipkan si kecil? Jangan-jangan lebih mahal ketimbang pada babysitter atau di tempat penitipan anak.

Nova - - Isu Spesial - PRIBADI TENTRY YUDVI | FOTO: ISTOCK, DOK.

Harus menyiapkan dana sekitar Rp3 juta per bulan sebagai biaya “penitipan anak” tentu tak mudah buat banyak pasangan muda—di kota besar sekalipun.

Itulah yang dikeluhkan Mona, salah satu teman kita ini.

“Padahal, aku dan Andy sedang merintis karier. Mau menitipkan anak ke ibu, beliau sudah kerepotan juga dengan keponakanku.

Ada sih, jalan terbaiknya, nitipin anak ke mertua, tapi sopan enggak, ya?”

Belum sempat kita memberi tahu, Mona sudah melontarkan pernyataan dan pertanyaan lagi.

“Aku takutnya, pola asuh mertua enggak sesuai dengan prinsipku. Sudah gitu, apakah aku harus membayar jasa mereka? Kalau sama ibuku, sih, aku lebih santai. Ini kan, aku enggak dekat dengan mertuaku.”

Nah, lalu apa yang harus dilakukan Mona?

Negoisasi dengan Mertua

Jangan lupa ya, mertua juga adalah kakek nenek buat si kecil. Mereka, umumnya akan senang hati diminta tolong mengasuh cucu.

Namun, ya tetap saja namanya mertua, tentu kita tak seenteng seperti harus berurusan dengan ibu dan ayah sendiri.

Misal, sebelum menitipkan anak ke mertua, tentunya, kita juga harus meminta persetujuan dengan suami. Lantas, jangan sungkan pula mendiskusikan bersamanya mengenai kelebihan dan kekurangan dari mertua. “Dari segala sisi, dan diskusi dengan cara pelan-pelan,” pesan Wulan S Oganarto, B.Sc, pemerhati remaja dan tumbuh kembang orangtua.

Jika kita sudah punya pola yang baku untuk si anak, misal tentang mengatur pola tidur, makan, hingga waktu bermain, kita bisa mendiskusikannya pula dengan mertua.

Ini perlu, karena beda generasi tentu prinsip dan pola mertua bisa jadi berbeda dengan kita dalam mengasuh anak.

Toh, “Kalau sudah diasuh, bukan berarti ibu jadi lepas tanggung jawab dan memercayakan semua ke mertua. Justru, peran ibu sangat dibutuhkan, ketika ada pola asuh yang kurang dari mertua. Ibulah yang harus menambal kekurangan-kekurangan tersebut dalam diri anak,” jelas Wulan.

Caranya, kita juga harus menjadi orangtua cerdas. Sekembalinya menjemput anak dari rumah mertua, kita harus meluangkan waktu ngobrol dengan anak seperti menanyakan, “Dek, tadi di rumah Nenek ngapain saja? Terus diajarin apa saja?”

Jika jawaban anak ternyata tidak sesuai dengan prinsip kita, lebih baik kita meluruskan pelan-pelan sesuai dengan usia si anak. Misal, berbicara dengan anak usia 2 tahun tentu berbeda dengan anak usia 10 tahun, karena anak juga punya proses belajar vocabulary atau kosakata.

Semakin Lengkap Minim Beban

Namun—seperti yang diungkapkan Mona—persoalan yang pelik adalah rasa saat menitipkan anak ke mertua. Dari mulai perasaan akan merepotkan, sampai menjadi jengah saat membahas soal uang jajan atau biaya asuh si kecil. Membicarakan soal uang memang selalu sensitif, karena bisa saja mertua tersinggung.

Karena itu, kita yang harus bisa membaca situasi dan kondisi mertua. Menurut Wulan, kita harus menyiapkan semua keperluan si kecil, dari makanan pokok, makanan camilan, hingga baju ganti. Jika sudah begitu, kita tentu mempermudah mertua dalam memenuhi kebutuhan anak.

“Tapi, kalau misal mertua memberikan jajan ke anak, ibu harus baca kondisi mertuanya. Jika enggak bisa diganti dengan uang, lebih baik digantikan dengan kebutuhan mertua,” jelasnya. Bisa dari memberi sembako atau mengajak mertua liburan bersama, sebagai bentuk rasa terima kasih.

Tetap Jaga Komunikasi

Saking sibuknya bekerja, sering kali lupa untuk menjalin komunikasi dengan anak saat dia dititipkan. Padahal itu sangat perlu, termasuk berkomunikasi dengan mertua, tentunya.

“Apalagi sekarang sudah ada video call, jadi kita juga bisa sekalian observasi,” jelas Reynitta Poerwito, psikolog di Eka Hospital BSD City.

Observasi secara halus itu akan membuat anak sadar, jika ibunya juga tetap memantau dirinya. Walau diasuh mertua, kehadiran kita sebagai sosok ibu tetap membuatnya dihargai, sehingga respek anak pada orangtuanya tak luntur.

Akan tetapi, Reynitta menyarankan lebih baik tidak terlalu lama menitipkan anak. Misal, sepulang kerja kita langsung menjemput anak di rumah mertua. Sisa waktu yang kita miliki seusai kerja itu, bisa dipergunakan untuk mempererat ikatan batin dengan anak. Kita pun harus memberikan perhatian juga pada anak.

Yup. Karena menitipkan anak sangat beda artinya dengan memberikan, meskipun itu pada mertua sendiri.

WULAN S OGANARTO, B.SC, PEMERHATI REMAJA DAN TUMBUH KEMBANG ORANGTUA.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.