Suami Sulit Bekerja Sama, mengalah atau Mengubah?

Siapa yang tidak jengkel dengan suami yang tak mau bekerja sama dalam mengurus rumah tangga dan anak? Parahnya, sudah menikah bertahun-tahun, ia tak juga berubah. Malah, kok, kayaknya tambah parah.

Nova - - Anda & Pasangan - ALVIEN FOTO: ISTOCK Reynitta Poerwito, Bach., of Psych., M.Psi Dari Poliklinik Psikologi Eka Hospital BSD

Menikah dan mempunyai keluarga kecil yang harmonis serta perhatian ekstra dari suami, pastilah sangat diidam-idamkan semua perempuan. Mengurus dan membesarkan buah hati tentu sangat mengasyikkan jika kita lakukan berdua dengan suami, bukan?

Namun, bagaimana jika hal sebaliknya terjadi pada kita? Si suami malah asyik dengan dunianya sendiri. Seolah lupa dengan kehadiran kita sebagai istrinya, bahkan juga lupa kalau punya anak.

Ketika si buah hati merengek meminta makan, dia hanya diam tanpa memedulikannya. Baru bergerak ketika kita meminta tolong padanya. Memangnya, kita punya banyak tangan untuk mengerjakan semuanya sekaligus? Terdengar familiar?

Tentu sebagai istri hal ini membuat kita merasa geregetan atau bahkan merasa jengkel. Kita pun kerap menuduhnya egois.

Ada yang beranggapan sifat—yang menurut kita egois—ini akan hilang dengan sendirinya setelah menikah dan punya anak. Dalam beberapa kasus memang hal ini terjadi. Si suami jadi lebih peka terhadap keluarga. Akan tetapi, kita tahu sendiri, ada juga pasangan yang sudah menikah puluhan tahun dan memiliki banyak anak, namun masih saja cuek dan kurang peka.

Parahnya, jika ia tidak juga berubah, bukan cuma kita yang kesal, tapi juga bisa memberikan pengaruh kurang baik bagi perkembangan anak.

“Pada dasarnya, pernikahan itu dibangun dengan kerja sama antar-pasangan. Pernikahan itu sebuah team work, sehingga keegoisan tidak punya tempat dalam masalah rumah tangga. Setiap ada masalah rumah tangga, harus diselesaikan tanpa adanya keegoisan dari keduanya,” ucap Reynitta Poerwito, Bach., of Psych., M.Psi, psikolog dari Poliklinik Psikologi Eka Hospital BSD.

Tentu dalam rumah tangga yang baik, dibutuhkan kerja sama antara suami dan istri. Apalagi dalam hal mengurus anak. Bagaimana bila suami sulit diajak kerja sama?

Harus Ekstra Sabar

Bila menghadapi sifat suami yang kurang peka tersebut, pasti banyak dari kita yang bertanya-tanya, masih bisakah mengubah sifat suami tersebut? Atau kita hanya tetap bisa terus bersabar dan menerimanya?

Tentu lebih bagus kalau kita bisa mengubah sifat buruk tersebut. Toh, kalau suami lebih peka, kita juga yang senang. Namun, kita harus ekstra sabar. Apalagi kalau si suami masih belum ada itikad baik untuk mengubah sifat egoisnya tersebut. Pastinya semua cara yang kita lakukan percuma.

“Berubah atau enggaknya, semua itu tergantung pada keinginan orang itu sendiri. Apakah dia mau belajar untuk bekerja sama dengan pasangannya, atau dia masih mau mementingkan dirinya sendiri selama pernikahan,” ucap Reynitta.

Lalu, apakah kita yang harus selalu mengalah? Tidak juga.

Terus mengalah dan memendam rasa jengkel terhadap suami juga tidak baik. Bahkan kalau kita sedang berada di puncak kekesalan, kita bisa saja “meledak”, dan hal ini justru bisa berakibat fatal dan menimbulkan pertengkaran hebat.

Ada baiknya ketika kita sudah merasa sangat kesal, kita ngomong langsung ke suami. Ungkapkan apa yang kita inginkan dari dia. Misalnya, ngurusin anak selagi kita melakukan pekerjaan dapur. Hal ini sedikit demi sedikit juga bisa mengubah sifat suami menjadi lebih peka terhadap kehadiran anak di rumah.

“Dari situ seorang ayah bisa belajar menghargai keluarganya, dan tidak selalu mementingkan dirinya sendiri. Tapi, hal ini balik lagi ke orang tersebut, apakah mau berubah atau tidak. Kalau dari dalam dirinya mau belajar, dan melihat kebutuhan keluarganya akan keberadaannya, dia bisa berubah,” ujar Reynitta.

Jurus Jitu

Walau tidak mudah, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi, atau bahkan menghilangkan sifat egois suami secara perlahan. Berikut ini Reynitta berikan tips-tips yang bisa kita praktikkan di rumah.

1. Lebih Terbuka

Harus ada komunikasi antara istri dan suami secara terbuka. Bukan untuk saling memojokkan siapa yang salah. Tapi untuk membuka diri, “aku salahnya di mana” dan “kamu salahnya di mana”. Sehingga suami tidak selalu merasa disalahkan di setiap obrolan.

2. Terima Unek-unek

Jangan pernah berpikir kalau perempuan selalu benar. Bisa saja kita yang salah, dan suami yang benar. Jadi kita juga harus bisa menerima unek-unek yang diberikan suami. “Mungkin saja sifat egois tersebut muncul akibat sifat istri terhadap suami, dan kebanyakan istri tidak menyadari hal tersebut,” ucap Reynitta.

3.Konsultasi

Tidak ada salahnya juga kita meminta saran ke orang lain yang lebih mengerti atau datang langsung ke pakarnya, seperti psikolog, misalnya. Apalagi ketika sudah berada di puncak kekesalan dan rumah tangga sudah mulai retak. Dengan konsultasi langsung ke ahli, kita bisa mengetahui tindakan lebih lanjut untuk menyelamatkan pernikahan kita.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.