Tik Tok DigeTok, Bowo Melongo

Ada status akun remaja wanita yang berbunyi “rela kehilangan keperawanan” demi Bowo, bahkan “menuhankannya”. Dan Tik Tok hanya awal?

Nova - - Anda & Anak - FOTO: ISTOCK MELISA ARISANTY, EMMA RACHMAWATI PENULIS ADALAH DOSEN ILMU KOMUNIKASI UPJ Adriatik Ivanti, M.Psi. Psikolog Pendidikan

Bowo bukan pemain sinetron, bukan juga penyanyi. Tapi bocah 13 tahun ini mendadak jadi “seleb”. Sosoknya jadi viral di dunia maya. Dan itu hanya lantaran aplikasi bernama Tik Tok.

Sampai di sini tak ada yang salah. Tapi, begitu para fans Bowo yang umumnya remaja putri kian melewati batas, Kominfo sempat memblokir aplikasi itu, 7 Juli lalu—meskipun belakangan kembali dibuka lagi.

Betapa banyak orangtua remaja putri resah. Bentuk kekaguman para penggemar ini disampaikan dalam cara vulgar. Contohnya status akun remaja wanita yang dengan berani menyampaikan bahwa ia rela kehilangan keperawanannya demi Bowo. Bahkan ajakan untuk “menuhankan” Bowo. Singkatnya, kekaguman para penggemar ini sudah mengarah pada fanatisme. Dan ini dianggap meresahkan. Lantas, salahkah Bowo? Tentu tidak. Karena media sosial memang menyediakan panggung kepada siapa saja untuk menjadi selebriti. Orang bisa bisa mendadak menjadi seleb tanpa perlu muncul di layar kaca, layar lebar, atau media mainstream lainnya. Bahkan satu postingan viral pun sudah bisa membuat orang terkenal seantero dunia dan dipuja bagai idola.

Salah satu alasan yang membuat Bowo dipuja adalah daya tarik fisiknya. Konon, Bowo dianggap punya kemiripan dengan Iqbaal Ramadhan, aktor Indonesia yang melejit lewat film Dilan 1990. Bowo dipuja penggemar yang mayoritas remaja wanita. Untuk seseorang yang bukan siapa-siapa, acara meet & greet bersama Bowo ternyata mampu mengumpulkan massa. Para penggemar ini rela merogoh kocek demi bertemu dengan sang idola. Ada banyak cerita bagaimana para penggemar ini merengek, mengancam, hingga mengambil uang orangtuanya demi memenuhi fantasi bertemu sang pujaan hati.

Fanatik Berlebihan

Di dalam Ilmu Komunikasi dikenal istilah celebrity worship yang didefinisikan sebagai penyembahan terhadap idola yang terkadang mengarah pada obsesi yang berlebihan dan interaksi parasosial (Cutcheon, Ashe, Houran dan Maltby, 2003).

Interaksi yang bersifat satu arah ini muncul dalam berbagai bentuk, misal si penggemar kerap berhalusinasi, menganggap sosok yang diidolakan sebagai pacar atau sosok penting lain dalam hidupnya. Demi sang idola, apa pun rela dilakukan. Mereka tak segan menghabiskan waktu, pikiran, perasaan kepada sang idola. Kekaguman yang berlebihan ini tak jarang merugikan orang lain dan lingkungan karena si penggemar sering kali menutup diri dari pendapat atau saran orang lain.

Penggemar sendiri didefinisikan sebagai suatu kefanatikan yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Bahkan menurut Joli Jensen, penggemar dipandang sebagai gejala psikologis dari dugaan disfungsi sosial (Storey, 2006). Sehingga fanatisme yang berlebihan mengarah pada gangguan secara psikologis.

Pemujaan penggemar terhadap idolanya merupakan suatu bentuk perilaku fanatisme yang kerap terjadi di masyarakat, terutama di kalangan remaja. Pasalnya, masa remaja adalah masa pencarian jati diri seseorang. Pada proses pencarian jati diri ini, ia akan mengidentifikasi diri dengan role model yang dianggap sesuai. Jika sudah menemukan role modelnya, remaja akan cenderung menanggapi dan menilai orang yang diidolakannya dengan berlebihan.

Teknologi Selalu Berkembang

Lalu adakah cara untuk menghindar dari fanatisme berlebihan ini? Apakah cukup dengan memblokir atau melarang penggunaan gawai pada anak?

Menurut psikolog Adriatik Ivanti, M.Psi., tindakan itu kurang tepat karena teknologi akan selalu berkembang. Jadi sebenarnya bukan situs Tik Tok yang harus dihindari.

“Tik Tok sebenarnya hanya wadah untuk mengekspresikan dan menunjukkan jati diri bagi remaja. Bowo sebagai pengguna situs Tik Tok hanya salah satu dari seorang pengguna yang menggunakan Tik Tok sebagai pemenuhan kebutuhannya akan menampilkan jati dirinya. Sebagai remaja ia belum paham betul jangka panjang dari dampak penggunaan situs Tik Tok sehingga mengunggah konten apapun tanpa memikirkan apa manfaatnya dan apakah mendidik atau tidak,” ujar Vivi, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, psikolog itu mengatakan bahwa Tik Tok dalam hal ini sekadar medium, yang manfaat atau tidaknya tergantung pada penggunanya. Jika ingin situs ini bermanfaat maka pengguna harusnya memanfaatkan situs tersebut untuk mencari informasi positif, mengunggah konten yang kreatif, positif, dan bermanfaat sehingga tidak memberikan dampak yang buruk ke depannya.

Jadikan Anak Sebagai Teman

Menghadapi kecenderungan fanatisme berlebihan di kalangan remaja, Adriatik Avianti menyarankan orangtua lebih berperan dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Orangtua tidak boleh segan mengupdate perkembangan teknologi saat ini dan selalu mengetahui seluruh kegiatan yang dilakukan anak dan mengetahui apa saja yang diakses oleh anak di media digitalnya. Orangtua harus bisa mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan yang lebih positif seperti diikutkan dalam kegiatan organisasi sekolah, les yang bermanfaat, dan lain sebagainya.

“Orangtua harus mau berdiskusi dengan anak mengenai penggunaan media digital yang tepat. Diskusi logis sangat diperlukan oleh anak agar cerdas digital dan dampak penggunaan media digital ke depannya,“ujar Vivi.

Yup. Salah satu cara yang efektif “mengawasi” anak, adalah menjadikannya teman di medsos kita. Tapi yang sekarang terjadi, sebagian kita menjadikan FB dan Twitter sebagai ajang fitnah. Instagram pun yang semula asyik, belakangan kita jadikan wadah pamer piknik—yang entah kapan berangkatnya—dengan foto selfie buruk sebanyak-banyaknya.

Dan anak-anak pun tak lagi “berteman” dengan kita. Mereka tentu memilih wadah yang pas buat jati diri mereka. Jika kita tak mau berubah, percayalah Tik Tok hanya awal.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.