AYAHKU BERMESRAAN DENGAN WIL DI sosmed

Nova - - Tanya Jawab Psikologi -

Tanya

Yth. Mba Rieny, Nama saya Vany, saya anak pertama dan memiliki dua orang adik. Saat ini saya sudah bekerja dan masih memiliki orangtua lengkap. Akan tetapi sampai saat ini saya masih tidak percaya dan kesal dengan Ayah saya.

Awal mula ketika saya SMP, saya menemukan chat mesra antara Ayah dengan perempuan lain di Facebook. Saat itu saya masih takut dan belum berani bilang. Berlanjut ke SMA ketika itu saya berpikir Ayah sudah berubah, ternyata dia masih sama, masih chat mesra dengan perempuan lain di Facebook. Akhirnya saya mulai berani bilang dan mengancamnya agar berubah dan jangan sampai Ibu tahu. Setelah itu hubungan saya dengan Ayah mulai renggang.

Puncaknya ketika saya kuliah. Ayah belum juga berubah dan Ibu mengetahui hal itu. Awalnya Ibu curhat dan berkata kasar tentang Ayah. Selanjutnya, ketika Ayah sedang kerja, Ibu menangis meraung-raung selama hampir seminggu. Bahkan, Ibu sempat beberapa kali berbicara yang seolah memberi kode bahwa dia akan bercerai. Seperti, “Kamu harus mandiri karena Ibu tidak selalu ada.”

Sampai saat ini hubungan Ibu dengan Ayah, juga hubungan aku dan Ayah belum juga reda. Masih dingin. Ibu dan saya juga mulai lelah dengan sikap Ayah dan mulai cuek. Makin membuat saya malas berada di rumah. Bagaimana, ya, Bu mendamaikan kedua orangtua saya? Kemudian, bagaimana mengubah sikap Ayah ke Ibu?

Semoga Mbak Rieny bisa membantu memberikan saran dan nasihatnya kepada saya. Terima Kasih Vany – Somewhere Dear Vany, Yang Anda alami adalah konflik internal dalam keluarga yang kronis sifatnya. Seperti yang terjadi pada Vany dengan Ayah, lalu antara Ibu dengan Ayah, sebenarnya menyebabkan hubungan yang tak memberi rasa nyaman, bukan? Layaknya rel kereta api, secara fisik bersisian tetapi tak pernah bersentuhan.

Di usia Vany sekarang, sudah dewasa dan masuk ke dunia kerja, tentu Vany sepakat dengan saya bahwa alih-alih terjadi kondisi yang membaik, semua anggota keluarga malah sudah jadi terbiasa dengan kondisi ini. Ini bukan pertanda baik, karena permasalahan yang jadi akar ketidaknyamanan sebenarnya tak pernah tersentuh apalagi terselesaikan.

Dalam bahasa kerennya, yang terjadi adalah disfungsi keluarga. Ayah sebagai suami dan kepala keluarga tak bisa menjalankan peran dan fungsinya dengan baik dan benar. Ibu yang punya luka mendalam di hatinya, pasti lebih sering bermuka masam dan labil emosinya, sehingga energi yang dia pancarkan adalah energi negatif. Anak-anak menjadi merasa tak nyaman di rumah sendiri.

Padahal kalau keluarga kita harmonis, bukankah kita selalu ingin cepat sampai di rumah setelah pulang dari tempat kerja atau kampus? Tempat yang memberi rasa aman dan nyaman. Sementara, saat ini, membayangkan pulang saja sudah malas. Kalau Ayah punya perasaan yang sama dengan Vany, terbayang deh bagaimana suasana rumah. Apalagi kalau Ibu yang senantiasa jutek, tidak membagi kehangatan dan keceriaan ke anak-anak dan suaminya.

Sebenarnya, saya ingin sekali mengingatkan Vany, seperti apapun buruknya

Jawab

kelakuan Ayah, bukankah beliau tetap ada di tengah keluarganya? Dari sisi ini saja, Vany, saya yakin Ayah masih meletakkan keutuhan keluarga sebagai prioritas hidupnya. Apapun alasannya. Ini sebenarnya memberi banyak peluang positif untuk membuat Ayah kelak mau mengubah diri dan memperbaiki kualitas hubungannya dengan istri dan anak-anaknya.

Tetapi, saya harus mengatakan pada Vany bahwa pertanyaan “bagaimana mengubah sikap Ayah” adalah sebuah pertanda bahwa Vany punya harapan dan keinginan bahwa Ayah akan bisa diubah untuk memenuhi tuntutan lingkungannya. Sementara kenyataannya, kesenangannya yang notabene mengganggu Anda dan Ibunda, sebenarnya tetap saja ada. Kita tak bisa mengubah orang lain, sayangku, kecuali dia sendiri punya keinginan dan kebutuhan untuk berubah.

Menurut saya, permasalahan utama Ayah adalah beliau tidak merasa bahwa dia punya masalah. Ketika istrinya merengut, menyindir, yang akhirnya berteriak dan menangis, lalu anaknya juga memusuhinya, dalam diri Ayah tak ada kekuatan dan dorongan yang cukup untuk membuat dia ingin berubah. Dalam hal ini adalah meninggalkan kebiasaan untuk bermesraan melalui medsos dengan perempuan lain.

Bisa saja Ayah berkata, “Kan, cuma ngobrol saja.” Padahal kata-kata mesra pun sudah bisa bikin perempuan berdarah-darah marahnya kalau ditujukan ke perempuan lain, kan?

Mudah-mudahan Vany sekarang bisa melihat, ya, sisi apa yang belum digarap dari diri Ayah. Banyak perempuan, saat merasa tersakiti lupa bahwa bersikap negatif justru akan menjauhkan suami dari dia. Bahkan sekaligus malah memberi peluang baginya untuk melihat nilai lebih pada perempuan lain. Bagaimana tidak? Kalau di rumah, diajak konfrontasi melulu, sementara bersama WIL bisa mesra walau cuma sebatas chat. Sehingga lebih banyak daya tarik di luar rumah.

Di sinilah dibutuhkan sebuah keyakinan kuat pada Ibunda dan Anda, bahwa mempertahankan cinta Ayah pada keluarga harus jadi tujuan. Untuk itu dibutuhkan situasi kondusif untuk membuat rumah memiliki nilai positif. Ini tak mudah dijalankan. Kita sebal, tapi harus mencoba mengubah cara berpikir yang semula memusuhi untuk malah merangkulnya.

Namun, memang demikian adanya, Vany. Buatlah Ayah merasa bahwa dia dibutuhkan di rumah, ditunggu kepulangannya, ditemani saat makan malam dan sarapan oleh istrinya. Anak juga harus memberi arti pada kehadiran sang Ayah dengan obrolan hangat, berbagi pengalaman, bahkan nonton TV bareng.

Nah, ini membuat kita sampai ke kunci utama dari jawaban terhadap permasalahan keluarga Vany, yaitu bila kita menginginkan ada perubahan—dalam hal ini berhentinya kebiasaan chat mesra Ayah—ubah dulu cara kita berinteraksi dengannya. Kesampingkan dulu rasa marah, apalagi gengsi.

Kalau Anda bertanya, “Kenapa harus saya yang mulai? Kan dia yang salah!” maka mulailah untuk mengubah diri. Setelah itu, baru kita boleh berharap Ayah akan memperoleh sebuah wawasan dan pengalaman baru, bahwa ternyata istri dan anak-anaknya sudah berubah jadi manis perilakunya. Saat seseorang memperoleh perasaan positif ini, lazimnya akan tumbuh sebuah keiinginan untuk juga berbuat positif.

Saat Ibunda bisa memperlihatkan perilaku yang manis, jangan lupa memberi dorongan dan pujian agar beliau tetap yakin bahwa keharmonisan rumah tangganya memang layak untuk dipertahankan. Ajak Ibunda melakukan introspeksi, adakah gaya interaksi yang perlu diperbaiki?

Bagaimana menghilangkan rasa jemu karena rutinitas berumah tangga yang sudah berlangsung sekian lama? Saat kita belajar dan mencoba, lalu melihat lagi apa-apa yang masih bisa ditingkatkan sisi positifnya, kita sudah menerapkan prinsip dasar meningkatkan kualitas perkembangan pribadi kita, yaitu tak berhenti belajar. Belajar untuk hidup lebih berkualitas.

Dicoba, ya, Vany. Ajak Mama dan adikadik. Kalau ada perkembangan baru, jangan segan untuk menghubungi saya.

Salam sayang.

IG: ilustrasijoko

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.