Di Tangan ahli, Interior rumah Bisa JADI “WoW

Dalam membangun atau merenovasi rumah, bagian interiornya jelaslah harus dibuat fungsional, indah, dan nyaman. Namun, kepada siapakah baiknya kita meminta bantuan? Apakah masih kepada arsitek? Atau desainer interior?

Nova - - Griya - JEANETT VERICA | FOTO: ISTOCK

Membangun atau merenovasi rumah, tentu tak bakal maksimal tanpa adanya campur tangan arsitek atau desainer interior. Bila kita terlalu ngotot merancangnya sendiri, tentu ada risiko yang harus dihadapi. Satu yang pasti, bangunan rumah idaman yang seharusnya menawan, malah berantakan karena tak punya konstruksi, fungsi, dan estetika sempurna.

Kalau sudah begitu, tentu penyesalan sudah tak ada guna. Mengapa tak sedari awal saja kita memercayakan tugas konstruksi ini kepada orang-orang yang ahli dan punya skill? Ah, relakan sudah bayangan rumah ideal dan uang yang terlanjur habis. Mahfumlah pada luas kamar mandi yang terlampau boros “area”, atau plafon bangunan yang terlalu pendek dan membuat kita gerah.

Di mana rumah ideal yang tadinya saya impi-impikan?

Yah, namanya rumah impian, tentulah perlu dirancang sedemikian rupa hingga memenuhi harapan. Jadi semestinya, sedari awal sebelum penyesalan itu datang, kita sudah mesti rela menaikkan anggaran untuk tenagatenaga profesional yang mampu menghadirkan rumah idaman.

Nah, di edisi lalu, kita sudah sedikit menyinggung mengenai profesi arsitek yang berperan penting menerjemahkan impian kita ke dalam satu bentuk utuh konstruksi.

Selanjutnya, bagaimana dengan nasib “interior” atau tata ruang di dalam rumah? Apakah arsitek yang kita bahas minggu lalu sudah cukup bisa diandalkan? Atau jangan-jangan, kita memang wajib menggunakan jasa arsitek interior atau desainer interior?

Arsitek vs. Arsitek Interior

“Arsitektur itu luas sekali, seperti halnya yang dipelajari orang yang kuliah di arsitektur. Dia akan mendapat pelajaran yang luas, mulai dari tubuh manusia, hingga ke tata ruang kota dan kawasan,” ucap Chairul Amal Septono atau Amal, arsitek interior dengan spesialisasi living, kitchen & bath, sekaligus Ketua HDII Jakarta 2015-2017.

Penjelasannya begini. Dari lingkup lebih luas, ilmu arsitektur sebetulnya mengenal perencanaan provinsi dan kawasan. Lalu beralih ke lingkup yang lebih kecil, ilmu arsitektur juga ikut menyinggung perancangan tata kota. Semakin kecil lagi, ada topik pembangunan lingkungan yang juga bisa diperoleh di ilmu arsitektur. Lingkungan ini sendiri, terdiri atas bangunan-bangunan seperti ruang terbuka, taman, atau jalan.

Tak cukup di situ, lingkup pembelajaran arsitektur juga menyentuh titik paling kecil, yakni bangunan, fungsi bangunan, hingga bagian di dalam bangunan. Artinya, di dunia arsitektur ini ada pula ilmu yang mengajarkan tentang pengaturan fungsi ruang, penataan letak ruangan, hingga penataan letak furnitur di dalam ruangan. Contohnya, di mana kita akan meletakkan kursi, meja, dan lemari? Atau, pencahayaan seperti apa yang sekiranya dibutuhkan di dalam ruangan ini?

Nah, kalau sudah menyentuh bagian dalam seperti ini, kita langsung dapat menyebut bidang “turunan” arsitektur ini sebagai arsitektur interior.

Lantas, apa perbedaan arsitek dan arsitek interior? Yang mana yang lebih baik kita gunakan jasanya?

“Jangkauan arsitektur itu sampai kepada interior. Sekarang kita bicara profesi. Profesi arsitek itu menata. Arsitektur itu dapat ilmu dari ujung ke ujung. Jadi tinggal nanti si arsitek mau fokus di mana? Kalau dia minat di luar, jadilah arsitek lansekap, mengurusi taman, misalnya. Ada arsitek bangunan, arsitek interior, mendesain interior dan ruang dalam. Beda kalau desainer interior, itu khusus menata ruang dalam, sampai membuatnya baik dan nyaman,” jabar Amal.

“Sebenarnya kalau di penataan ruang dalam seperti fungsi-fungsi ruang, itu arsitek masih bisa. Tapi kalau sudah mulai ke detailnya, kayak jenis-jenis furnitur seperti apa, itu arsitek tidak mendalami,” timpal Amal.

Kendati demikian, Amal membenarkan jika para arsitek ini sebetulnya bisa saja mempelajari ilmu-ilmu desain interior secara lebih mendalam untuk kemudian menjadi arsitek dengan fokus interior atau arsitek interior. Mereka paham mengenai konstruksi bangunan, dan mereka bisa pula merancang detail yang berhubungan dengan desain interior.

Masalahnya, apakah posisi sang desainer interior jadi tergeser dengan lahirnya sederet arsitek atau arsitek interior?

Arsitek Interior vs. Desainer Interior

Amal berkisah, banyak temanteman arsitek kenalan yang ruparupanya menaruh minat pada desain interior—setelah menjadi arsitek. Alhasil, mereka meluangkan waktu untuk mengisi kepala dengan berbagai informasi interior—yang belum didapat di masa perkuliahan, sehingga untuk skill, mungkin tak akan jauh berbeda dengan seorang desainer interior yang benar-benar lulus dari program studi interior.

Karenanya, apakah keliru kalau kita hanya mau menyewa jasa satu orang untuk mengerjakan tugas-tugas arsitektur dan interior sekaligus?

“Ya, boleh saja. Kita enggak bisa ngelarang klien mau ngapain. Ada lulusan Fakultas Hukum yang minat menjadi arsitek. Jagolah dia di arsitektur atau interior. Akan tetapi kalau dia enggak sekolah arsitektur, maka dia secara profesional tidak diakui undang-undang. Tapi mungkin dia akan sekolah lagi S1 untuk menjadi arsitek. Sama dengan desainer interior. Mereka tidak berpendidikan di interior, tetapi dia sangat pandai dalam menata interior, dia sudah merasa menjadi desainer interior. Tapi karena dia tidak kuliah di interior, secara hukum masih diragukan. Cuma di Indonesia, undang-undang arsitek sudah ada. Kalau interior enggak ada. Jadi suka-suka. Mau lulus dari FH pun, fleksibel-lah jadi desainer interior,” jelas Amal.

Amal memberi contoh, di dalam tubuh Himpunan Desainer Interior Indonesia atau HDII pun, sudah banyak arsitek yang terbukti sukses menjadi desainer interior. Sehingga, bagaimana nasib orang yang memang sudah bela-belain belajar interior?

“Ya pasti lebih bisa jadi desainer interior,” bilang Amal. “Begini, lho. Kalau terbukti dia (arsitek interior) piawai dan ahli untuk interior, cukup pakai dia aja, dan tambah fee-nya. Jangan fee-nya cuma untuk dia sebagai arsitek, terus interiornya seolah-olah gratis. Desainer apapun, desainer interior, ya harus dibayar,” kata Amal mengingatkan.

Bagaimanapun juga, perkara menjatuhkan hati pada arsitek interior atau desainer interior itu bakal kembali lagi pada “kecocokan” dan sejauh apa mereka bisa menerjemahkan keinginan kita sebagai klien atau pemilik rumah.

Kinerja mereka untuk menjadikan sebuah ruang indah dan berfungsi sebagaimana mestinya, tentu tak adil, dong, kalau hanya dibatasi pada “titel” semata. Toh sebetulnya, dipandang dari segi skill, arsitek interior atau desainer interior barangkali sama mumpuninya.

Yang terpenting, bagaimana ruang di rumah kita bisa disulap menjadi indah dan nyaman. Ini sudah jadi harga mati. Sehingga, dalam memilih sosoknya, kita memerlukan arsitek interior atau desainer interior yang baik. Entah dengan latar belakang arsitektur atau pendidikan interior, mereka harus bisa memadu-padankan warna dan material yang tepat, sesuai kebutuhan ruang. Mereka juga harus paham tata letak ruang dan mampu bekerja bersamasama dengan arsitek yang bertanggungjawab atas proses pembangunan.

Kalau sosok pemberi jasa yang kita pilih sudah tepat, niscaya rumah idaman pun tidak lagi tinggal di angan-angan. That’s why we need an architect AND interior designer/ architect.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.