Selain PaSrah, Kita haruS Cegah

Aksi kriminal yang menimpa perempuan semakin marak. Tapi kenapa kita malah diminta pasrah?

Nova - - Peristiwa - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: DOK. PRIBADI

Pagi itu, Warsilah (36) bersiap memulai kegiatannya. Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, itu memesan ojek online untuk berangkat ke kantornya, sebuah toko mainan di Jakarta. Namun saat ojek yang ditumpanginya melintas di Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih, tiba-tiba saja tas yang sedang dipegangnya berusaha direbut seorang pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Bisa jadi karena refleks, Warsilah berusaha mempertahankan tas yang dipegangnya. Namun karena tarikan dari penjambret tadi cukup kencang, tubuh Warsilah terbawa dan terpelanting dari ojek online yang ditumpanginya. Dia terhempas di aspal jalanan yang keras. Momen nahas pun terjadi, nyawanya tak tertolong. Sedangkan pelaku penjambretan itu langsung melarikan diri.

Kejadian yang menimpa Warsilah pada Minggu (1/7) terekam kamera CCTV di area tersebut. Kemudian, dalam waktu singkat video rekaman itu viral di media sosial. Berbagai kecaman kepada si pelaku muncul. Aksi penjambretan sadis yang menimpa Warsilah tentu menambah kecemasan banyak orang, terutama perempuan yang kerap berpergian ke luar rumah.

Suasana terasa semakin mencekam, ketika kemudian muncul peristiwa baru yang lagilagi menimpa perempuan. Kali ini Saripah (34), jadi korban tewas akibat aksi begal yang terjadi di Tangerang, Rabu (4/7). Peristiwa nahas yang dialami mantan TKW itu pun terjadi tanpa diduga sama sekali.

Saat itu, sekitar pukul 19.00 WIB, bersama anaknya Saripah mengantar suami membeli pulsa. Saripah memilih sendirian menunggu di motor yang parkir di depan gerai pulsa. Tiba-tiba dua orang berboncengan motor menghampirinya. Lalu, tanpa basabasi mereka mencoba mencuri paksa motor yang dinaiki Saripah.

Tentu saja dia berusaha melawan dan mempertahankan motornya. Lantaran panik takut aksinya ketahuan massa, dua pembegal itu langsung melepaskan tembakan dan menusuk Saripah beberapa kali.

Suami Saripah yang berada di gerai pulsa langsung menghampiri sang istri yang sudah terjatuh bersimbah darah. Sayang, meski motornya tak berhasil dirampas, pelaku berhasil melarikan diri. Tak butuh waktu lama, celaka yang menimpa Saripah kembali bikin heboh. Karena, lagi-lagi perempuan jadi korban kejahatan sadis.

Banyaknya kasus kejahatan yang menimpa perempuan sebagai korban, menurut pakar kriminologi Adrianus Meliala, menandakan jika perempuan kerap menjadi santapan empuk para pelaku kejahatan. “Sebab, biasanya perempuan sering dinilai lebih lemah dibanding lakilaki. Kalau dirampok pun mereka jarang melakukan perlawanan. Kalau melakukan perlawanan pun lebih mudah ‘dilumpuhkan’,” terang Adrianus.

Pergeseran Kejahatan

Namun dari dua peristiwa kriminal yang dialami perempuan baru-baru ini, sangat jelas jika kejahatan bisa menimpa siapa pun, terjadi kapan pun, dan di mana saja. Bahkan di tempat ramai yang kita anggap aman sekalipun. Kenapa bisa begitu?

“Tindak kejahatan jenis perampokan memang sekarang lebih sering terjadi di jalan atau tempat umum lainnya. Bukan lagi di gedung perkantoran, mal, ataupun rumah pribadi. Itu tandanya, terdapat pergeseran soal lokasi yang dijadikan target melakukan aksi kejahatan,” ujar Adrianus yang juga dosen Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia.

Adrianus melanjutkan, hal itu terjadi lantaran tingkat keamanan di gedung perkantoran, mal, atau rumah pribadi sudah semakin tinggi. Contoh dengan banyaknya pemasangan CCTV, petugas keamanan, pagar tinggi, dan lainnya membuat para pelaku kejahatan semakin enggan mengambil risiko itu. “Jadi, dipilihlah jalan atau transportasi umum sebab tingkat keamanannya tak terlalu tinggi.”

Karena ketika di tempat umum, kita tidak bisa mengandalkan orang lain atau perangkat keamanan lain untuk membantu mengawasi keamanan diri kita. “Artinya, saat di tempat umum kita benar-benar dalam keadaan sendiri. Sangat mudah bagi pelaku kejahatan untuk merampas apa pun yang kita punya,” lanjut Adrianus.

Modus Operandi

Jika dilihat, dalam menjalankan aksinya, para pelaku kejahatan sudah menerapkan metode grab and run. Setelah mengambil barang kita, mereka akan langsung melarikan diri untuk menghindari amukan atau kejaran massa.

“Aksi massa dari masyarakat sekitar tidak langsung muncul. Ketika kita dijambret atau dirampok, orang sekitar tak langsung menolong atau menangkap pelaku. Terjadi jeda, setidaknya satu menit, sampai akhirnya aksi massa itu muncul. Orang di sekitar biasanya diam atau kaget terlebih dulu melihat aksi itu. Setelahnya, barulah mereka bereaksi,” jelas Adrianus.

Nah, jeda waktu itulah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan dengan menerapkan metode grab and run tadi. Dalam upaya menggrab barang berharga kita, biasanya pelaku memulainya dengan

memepet kita. Berikutnya, ketika terlihat keadaan aman, barulah mereka langsung merampasnya secara paksa dan tanpa kita sadari. “Atau, sebelum mengambil, para pelaku bisa saja menodongkan senjata tajam kepada kita agar tak melakukan perlawanan. Setelahnya, mereka akan lari sebelum aksi massa muncul,” jelas Adrianus.

Lebih Baik Pasrah

Terus, apa yang harus kita lakukan? Menurut Adrianus, ketika kita sudah dirampok, ada baiknya biarkan saja dan pasrah. Jangan melakukan perlawanan sendiri. Sebab, biasanya para penjahat sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko yang akan dia hadapi ketika menjalan aksinya, misalnya dihakimi massa.

Oleh karena itu, demi keamanan diri, pelaku kejahatan biasanya menyiapkan perlengkapan yang bisa membuatnya aman, seperti senjata tajam. “Nah, kalau kita melawan, mereka tak akan segan menghabisi kita. Sebab, daripada pelaku yang babak belur atau mati diamuk massa, lebih baik ‘melumpuhkan’ korbannya dulu. Supaya korban tak sempat meminta pertolongan dan menimbulkan aksi massa. Atau, tujuannya untuk mengalihkan fokus massa untuk menolong korban, dan membiarkan pelaku lari,” begitu Adrianus menyarankan.

Tapi, selain kita sebaiknya pasrah saat barang kita sudah dirampok, ada baiknya kita juga melakukan pencegahan agar tak dijadikan target perampokan.

Saat berada di tempat umum baiknya kita tidak sendirian agar tak dijadikan target oleh pelaku kejahatan. Seperti yang menimpa Saripah, korban begal sepeda motor.

Pelaku penjambretan di atas ojek online.

Proses terjadinya penjambretan di atas ojek online yang menewaskan Warsilah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.