PeremPuan Juga Bisa Jadi PeraJin Kayu

Awalnya butuh produk kayu untuk profesinya, eh malah bersatu jadi pegiat woodworking yang mandiri, kreatif, dan ramah lingkungan.

Nova - - Komunitas - MUJI RAHAYU FOTO: MUJI RAHAYU

Jeritan mesin heavy duty pemotong kayu tak henti-hentinya terdengar dari segala penjuru. Serbuk kayu pun beterbangan di setiap sudut ruangan. Di area workshop seluas 5 m x 10 m yang bertempat di Jalan Gudang Utara No. 27, Bandung tersebut terpajang berbagai jenis mesin pertukangan dan tumpukan kayu-kayu dengan berbagai ukuran. Bagi sebagian orang, apalagi perempuan, suasana tersebut tentu bukan area ideal buat berkarya.

Namun bagi Cinda, alih-alih merasa terganggu, ia justru getol menghaluskan dan memaku rak dekorasi rumah yang sedang dibuatnya. Perempuan 37 tahun bernama asli Nur Aziza Alfian ini, sejak tahun lalu dia memang sudah akrab dengan berbagai alat pertukangan. Bersama sepuluh perempuan lain, dia memprakarsai terbentuknya Sisterwood, perkumpulan pegiat dunia perkayuan yang didominasi anggota perempuan. Uniknya, Sisterwood tak mau disebut sebagai komunitas biasa.

“Di sini, kami ingin membuat woodworking sebagai sebuah ‘isme’ atau aliran dan ideologi. Kami enggak suka terikat hierarki,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai guru SLB ini.

Kelahiran Sisterwood rupanya tak lepas dari peran “saudaranya”, yaitu Brotherwood. Seluruh anggota Sisterwood adalah “alumni” yang telah mengikuti lokakarya woodworking yang diadakan Brotherwood.

“Awalnya, Brotherwood mengira kalau workshop yang kami adakan akan menarik banyak peserta laki-laki, ternyata sekitar 80 persennya adalah perempuan. Kalau begitu mah bukan Brotherwood, tapi Sisterwood,” kenang Chairul Novin alias Aceng, pegiat Brotherwood saat ditanya asal-muasal Sisterwood.

Seiring berjalannya waktu, intensitas pertemuan Cinda dan teman-temannya yang ikut workshop Brotherwood tersebut semakin sering. Apalagi masing-masing punya kebutuhan produk kayu untuk profesi mereka, misalnya untuk display produk, properti fotografi, dan dekorasi interior rumah. Sehingga akhirnya mereka bersepakat membentuk perkumpulan dengan nama Sisterwood pada 17 Agustus 2017.

Aman Digunakan

Masalahnya, kok mau ya mereka bergelut dengan perkakas bak seorang tukang? Apalagi seperti kita tahu, proses pengolahan kayu tak bisa dipisahkan dari alat-alat yang cukup berbahaya. Itu sebabnya dunia pertukangan selalu dianggap sebagai dunianya pria. Tapi Sisterwood berhasil membuktikan kalau perempuan seperti mereka juga bisa menggunakan alat-alat seperti power drill, nail gun, jigsaw, dan mitre saw dengan baik.

“Asal tahu cara pakainya, semua alat aman digunakan. Dulu lihat gergaji saja takut, sekarang justru bisa pakai tool berat,” tambah Cinda.

Hal itu diamini Irene Andriani, anggota Memaku produk kayu secara otomatis dengan nail gun. Sisterwood lainnya. Sejak tergabung dengan Sisterwood, dia semakin jeli melihat barangbarang di rumahnya yang bisa diolah jadi karya kayu menarik. Tanpa perlu menunggu tukang, dia sendiri mampu menyulap bendabenda yang sudah membuatnya bosan jadi hiasan cantik sesuai keinginan.

“Jadi enggak mentok, banyak ide. Tadinya kalau melihat barang yang sudah mulai jelek, akan aku buang atau berikan ke orang. Sekarang aku bisa renew lagi dengan kreasi baru yang lebih bagus dari aslinya,” tukas Irene yang juga mahir dalam bidang seni talitemali atau makrame ini.

Pemanfaatan barang bekas dan limbah sisa kayu juga merupakan perwujudan dari prinsip zero waste yang digalakkan Sisterwood. Jadi tidak hanya kreatif dan mandiri, mereka juga ramah lingkungan.

Kini, hampir setahun berjalan, Sisterwood sudah menghasilkan berbagai produk kayu seperti rak bumbu, meja, kursi, dan hiasan rumah. Namun, Cinda mengaku bahwa uang bukanlah tujuan utama dari Sisterwood. Karya-karya yang dihasilkan selama ini lebih sering dimanfaatkan secara pribadi oleh anggotanya, karena tujuan utama Sisterwood hanya sebagai sarana meningkatkan produktivitas, wadah untuk menyalurkan hobi dan kreativitas mereka.

Menembus Ruang dan Waktu

Sisterwood saat ini memiliki 15 anggota aktif yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, dari berbagai profesi yang berdomisili di Bandung. Meski satu kota, Cinda merasa menyesuaikan jadwal setiap anggota untuk kegiatan rutin cukup sulit. Solusinya, mereka memanfaatkan grup chat WhatsApp untuk berbagi kabar dan menyusun agenda kegiatan. Sisanya, selain berkarya kayu bersama, bonding dilakukan dengan cara hangout, mengunjungi pameran, dan saling berbagi ilmu yang dimiliki satu sama lain.

Apa Sisterwood tak mau melebarkan sayap ke kota lain?

Rupanya, bagi Cinda dan Irene, bagi siapa saja yang terinspirasi memulai berkarya dan menjalankan gaya hidup do it yourself atau DIY sudah merupakan bagian dari Sisterwood. “Kalau jauh dari Bandung dan pengin gabung ke Sisterwood, enggak perlu nunggu ada cabang. Cukup lakukan apa yang dilakukan Sisterwood dan menerapkannya sebagai

value, enggak perlu datang langsung. Nilai-nilai Sisterwood tidak terikat ruang dan waktu,” jelas Cinda.

Bahkan, jika ada yang berniat membentuk komunitas woodworking dengan brand berbeda, Sisterwood dengan senang hati memberikan petunjuk dan membagi modul pembelajaran milik mereka, tanpa khawatir ide mereka akan dicuri atau ditiru. Yang penting bagi mereka, semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa melakoni crafting dan woodworking adalah hal menyenangkan yang membawa banyak keuntungan.

Tentu Sisterwood juga senang hati jika ada yang ingin bergabung dengan mereka. Tak perlu ragu meskipun belum bisa woodworking, anggota Sisterwood lain siap membantu. “Siapa pun yang mau gabung, datang saja pas lagi kegiatan. Yang penting suka kayu, punya waktu, dan mau berkegiatan bersama. Nanti akan belajar bareng,” ungkap Cinda.

Sisterwood berharap nilai-nilai yang diusung mereka akan menular pada orang banyak. Sebab, woodworking bisa jadi alternatif kegiatan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, yang mulai bosan berkunjung ke pusat perbelanjaan atau bermain gadget saat waktu senggang.

Ternyata main power tools bisa jadi pengganti gadget yang juga menyenangkan, ya!

Irene membentuk kayu sesuai keinginannya dengan jigsaw.

Cinda memandu penggunaan power drill yang aman bagi anak-anak.

Markas Sisterwood dipenuhi dekorasi kayu buatan mereka sendiri.

Asal tahu cara pakainya, semua alat aman digunakan.

Cinda, Aceng, dan Irene, penggiat Sisterwood dan Brotherwood di markas woodworking mereka di daerah Gudang Utara Bandung.

Proses pewarnaan dalam tahap finishing.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.