22 MENIT YANG MENCENGANGKAN

Dari menit ke menit, kami diajak masuk dalam ketegangan film tentang bom Thamrin. Kisah rumah tangga Ario juga tak kalah mencengangkan.

Nova - - Cover Story - ALVIEN CAHYA FOTO: AGUNG NUGROHO

Selasa, 3 Juli 2018, kantor redaksi Tabloid NOVA mendadak heboh. Seorang anggota kepolisian elite Indonesia bernama AKBP Ardi mendatangi kami berkait dengan serangan bom yang terjadi di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016 silam. Tentu, “AKBP Ardi” bukan mau melakukan pengusutan, tapi Ario Bayu yang menjadi polisi ganteng itu ingin ngobrol-ngobrol, terkait film terbarunya, 22 Menit. Ario tidak datang sendiri. Dia ditemani Hana Malasan, aktris pendatang baru yang juga terlibat di film ini, dan Myrna Pohan, sang sutradara. Inilah kisah 22 menit yang mencengangkan itu.

Menit Pertama

Meskipun aktor terkenal, Ario menghargai kami. Dia datang tepat waktu, pukul 10.00 WIB sesuai janji. Tak peduli, pagi itu Ario masih terlihat mengantuk. Dengan nada sopan—bahkan sambil sedikit membungkukkan badannya—ia meminta tolong dibuatkan kopi hitam. Namun, ia kurang begitu detail saat memesannya. Ternyata yang ia mau ialah kopi hitam tanpa gula. Lantas, kami racik kembali kopi hitam tanpa gula sesuai pesanannya. Tak lama, Hana pun tiba. Ia datang didampingi dua asistennya. Jangan mengira, jika Hana telat karena “Malasan” di belakang namanya. Sebab, itu merupakan nama keluarganya yang berasal dari Banda Neira, Maluku. Ia tak kalah ramah, Hana menyapa dan menebar senyum ke orang-orang yang ada di studio foto. Tidak terasa waktu sudah berlalu sekitar 5 menit.

Menit ke-6

Obrolan kami dimulai dengan alasan pembuatan film aksi ini. Padahal, sekarang sedang ramai film drama romantis ataupun horor. Mengambil tema tentang aksi teror, film ini digarap dengan sangat serius. Bahkan harus riset hampir 1,5 tahun untuk mendalami setiap detail kejadian dari berbagai sudut pandang. Pastinya, sebelum memulai syuting ini, mereka harus mendapatkan izin dari pihak kepolisian, hingga korban serangan teroris tersebut.

Menit ke-8

Tapi yang paling bikin heboh jagat maya, ketika proses syuting berlangsung, Jalan Thamrin sempat ditutup beberapa saat. Akibatnya, kemacetan yang cukup parah mengular di jalan protokol Jakarta itu. Padahal teknologi di dunia film sudah canggih, kenapa tidak pakai green

screen saja, sih? Menurut sang sutradara, Myrna Paramita, hal ini dilakukan untuk mendapatkan suasana yang sangat nyata saat kejadian teror berlangsung.

Menit ke-9

Sambil menyeruput kopi hitam yang dipesannya, Ario Bayu terlihat cukup segar menceritakan pengalamannya selama menjalani proses syuting. Demi mendalami peran seorang polisi anti-teror, ia harus menjalani pelatihan khusus dengan pasukan elite kepolisian Indonesia.

“Kurang lebih hampir sebulan saya dilatih langsung sama dua pelatih elite dari tim Densus dan Gegana di Mako Brimob. Saya mendapat pelatihan dengan sangat detail, sesuai dengan SOP dari kepolisian.”

Menit ke-10

“Latihannya benar-benar taktikal banget. Guru saya menjelaskan dengan sangat detail. Kalau ada teror di sini, kamu harus begini. Kalau dia begini, kamu harus begini. Jadi saya berasa masuk tim Densus beneran,” ujar Ario.

Menit ke-11

Menjadi polisi, ternyata memang keinginan Ario di masa kecil. “Pas latihan kemarin itu, saya kayak mewujudkan impian waktu saya masih kecil. Dulu sering main kejar-kejaran sambil bawa pistol mainan berkhayal jadi polisi. Terus ikut

simulasi benaran kemarin dan pakai pistol sungguhan, berasa keren saja saya he-he-he,” kata Ario.

Menit ke-12

Obrolan kami makin “panas”. Karena saat syuting banyak adegan ledakan dan kobaran api. “Aku jadi salah satu korban yang ada di coffee shop. Pas syutingnya itu berasa tegang banget, sih. Aku harus lari di tengah kobaran api dan banyak ledakan juga. Saat itu suasana dibuat senyata mungkin, pokoknya mencengkam ba-nget,” ucap Hana.

Menit ke-13

“Sumpah, itu rompi anti-peluru dengan segala macam atributnya berat banget. Mungkin rompinya aja sekitar 9-10 kg, helmnya juga berat. Belum lagi bawa senjata laras panjang, yang beratnya sekitar 3-4 kg. Total mungkin atribut yang saya pakai itu sekitar 15 kg,” ujar Ario.

Menit ke-14

Bahkan Ario bilang kalau berdiri pakai kostum itu saja sudah membuatnya sangat berkeringat. “Berdiri saja sudah bikin keringatan. Ini saya harus berlari dengan cepat dan naik turun tangga, benar-benar menguras tenaga banget, sih,” ucapnya.

Menit ke-15

Syukurlah, ada juga hal lucu yang terjadi selama proses syuting. “Lagi lari tiba-tiba helm yang saya pakai turun nutupin mata saya. Jadinya, pada ketawa semua, deh. Sempat juga terpeleset, karena jalannya terlalu licin. Sikut cidera, sampai sekarang masih berasa linu dan malunya ha-ha-ha,” cerita Ario.

Menit ke-16

Ikut dalam proyek film ini, dan merasakan langsung ketegangan serta kesulitan dalam menangani aksi teror, ternyata mengubah pandangan keduanya tentang kepolisian Indonesia. Bahkan kini mereka menaruh rasa respect yang tinggi pada polisi di seluruh Indonesia.

“Menurut aku, mereka itu bekerja dengan sangat responsif. Aku benar-benar melihat langsung bagaimana cara kerja mereka, dan enggak menyangka kalau mereka bakal cepat tanggap seperti itu,” ungkap Hana. Untuk memuji kinerja kepolisian RI, Hana dan Ario sampai butuh waktu 2 menit.

Menit ke-18

Terlibat dalam film aksi, bukanlah hal baru bagi Ario Bayu. Ia tercatat cukup rajin membintangi film bergenre action, baik itu garapan dalam negeri, maupun luar negeri. Namun, tak sedikit pun membuat keluarga khawatir.

“Mereka kayaknya santai, dan sudah tahu semua ada standar keselamatannya. Jadi mereka tidak terlalu khawatir,” ucap Ario. Serupa dengan Ario, Hana pun tidak bisa lepas dari film aksi. Sebelum 22 Menit, ia pernah membintangi film Night Bus. “Memang dasarnya aku tomboi, dan memang aku workout. Kebetulan juga dapat perannya di film-film yang menegangkan. Jadi suami cuma bilang ‘hati-hati’ saja, sih,” ucap Hana.

Menit ke-20 Menit ke-22 Menit ke-19

Tapi, kami malah mengkhawatirkan keharmonisan Ario Bayu dengan sang istri, Valentine Payen. Pasalnya, mereka harus menjalani hubungan jarak jauh lintas benua. Karena sang istri kini harus tinggal di Prancis, sedangkan Ario berada di Indonesia.

“Sebenarnya kita juga enggak hubungan jarak jauh, sih. Saya sering ke Prancis, dia juga sering ke Indonesia. Cuma kebetulan sekarang dia lagi ada kerjaan di sana. Jadi saling pengertian saja. Santai saja, kok,” kata Ario.

Di saat kami bertanya lebih lanjut tentang keluarganya, Ario terlihat agak sedikit jengah. “Mengumbar kehidupan pribadi itu kayaknya enggak terlalu penting buat saya. Banyak yang bilang saya terlalu sombong atau orangnya terlihat selalu serius. Padahal tidak juga, biar orang terdekat saya saja, yang tahu saya orang yang seperti apa,” tukas Ario.

Lantas, apa yang akan mereka lakukan ketika hanya punya waktu 22 menit di akhir hidup mereka? “Oh my God, kayaknya bakal nyamperin keluarga, sih. Berdoa bareng, terus banyakin makan kali, ya. Biar lebih tenang. Kayaknya itu yang bakal aku lakukan, deh, ha-ha-ha,” ucap Hana.

“Wah, serius nih cuma 22 menit? Kayaknya saya bakal terjun payung, atau main downhill

bike, pokoknya melakukan halhal ekstrem saja, sebelum keluar dari Bumi. Biar nanti di alam lain, perasaan lebih tenang ha-ha-ha,” ucap Ario. STYLIST: DWI LARAS J | IG @DWILARASJ. PORTFOLIOS MUA: RANGGO – THE A TEAM MANAGEMENT IG @RANGGIBEAUTYARTISAN HAIR DO: PICAL EVA | IG @PICALEVA BUSANA HANA: LENE | IG @LENE_ID BUSANA ARIO: WOOD | IG @WOODGENTLEMEN AKSESORI DAN SEPATU ARIO: GUTEN INC IG @GUTENINC

PERSIAPAN YANG DILAKUKAN SEBELUM TURUN KE LAPANGAN. (FOTO: DOK. INSTAGRAM)

MYRNA, SANG SUTRADARA, BERPOSE BERSAMA ARIO BAYU DAN HANA MALASAN.

SALAH SATU SCENE HANA DALAM 22 MENIT, SAAT SALAH SATU TANGANNYA BERLUMURAN DARAH. (FOTO: DOK. INSTAGRAM)

SAAT PROSES ALAN THAMRIN HARUS DITUTUP SEMENTARA PERBINCANGAN. SYUTING HINGGA SEMPAT RAMAI MENJADI (FOTO: DOK. INSTAGRAM)

DENGAN SUASANA DIBUAT SENYATA MUNGKIN SESUAI (FOTO: DOK. KEJADIAN TEROR BOM SARINAH KALA ITU. INSTAGRAM)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.