SukSeS di daycare, Bahagia di Tangan MerTua beruntung banget ada MonteSSori

Nova - - Isu Spesial - AGHNIA/JEANETT | FOTO: DOK. PRIBADI

ada yang memilih menitipkan anaknya ke tangan orangtua atau mertua, ada pula yang memercayakan tumbuh kembang sang buah hati pada tangan “orang luar”. Bisa

daycare, bisa pula pengasuh anak. dan dari sana, hadirlah cerita-cerita atau pengalaman seru—namun tak serupa, dari mereka. Maria Karina, influencer 27 tahun (anak: 1 tahun)

Kerja Mobile, orangtua jadi SoluSi

“aku itu bisa dikatakan sering nitip anak. Biasanya aku titip ke orangtua aku, soalnya aku enggak berani

ninggalin anak sendirian di rumah sama nanny-nya. Lagian kerja aku kan mobile, jadinya bakal harus sering keluar rumah. aku lebih merasa aman kalau anak dititipin ke orangtua dibanding aku tinggalin sama orang lain. enggak kepikiran juga. Tapi emang, kadang-kadang apa yang diajar orangtua itu belum tentu sama, sama apa yang aku ajarin. Buat yang ini, aku masih cari solusinya.

Kalau enggak enaknya, kadang aku merasa kehilangan beberapa momen perkembangan dia. Cuma tips dari aku, kalau mau nitip anak, lebih baik ke orang yang paling kita percaya, terutama keluarga. Karena merekalah yang paling tulus menjaga anak kita atau cucunya sendiri.”

ervina, karyawan swasta, 30 tahun (anak: 2,5 tahun) deMi anaK, Kita HaruS baHagia!

“aku itu working mom yang berangkat pagi hari dan pulang udah malam, jadi butuh bantuan orang lain untuk jagain anak. Makanya, setiap hari aku pakai jasa babysitter dan orangtua yang memantau pekerjaan dia di rumah. Baru pada saat weekend, sebisa mungkin aku bangun quality time terbaik sama anak. Pasti ada momen-momen perkembangan anak yang tertinggal. apalagi kalau anak bisa bilang, “Mommy enggak boleh kerja. Main sama aku aja,” rasanya sedih lantaran enggak bisa mengindahkan keinginan dia. Tapi dengan kerja dan nitip anak, aku jadi punya me time yang cukup. Me time memang kadang membuat hati lebih tenang ketika bertemu kembali dengan anak. Bagaimanapun juga, orangtua yang bahagia adalah kunci anak yang bahagia.”

astrid isnawati, personal assistant di perusahaan asuransi, 34 tahun (anak: 4 tahun 7 bulan)

“Pertama kali umur dua tahun attar masuk, daycarenya masih pakai metode tradisional biasa, sampai sang pemilik belajar metode Montessori dan menerapkannya pas attar usia tiga tahun.

Metode Montessori itu seru, anak belajar tapi seperti bermain. awalnya aku pakai babysitter, tapi sampai tiga kali enggak ada yang cocok. Terus anakku didiagnosis keterlambatan bicara ekspresif karena terlalu sering lihat gadget. akhirnya aku dan suami memutuskan stop pakai babysitter dan terapi untuk attar.

Kita pakai daycare dengan harapan bicaranya makin lancar karena temantemannya banyak. akhirnya kita coba daycare, ternyata enak. Semua gurunya baik, sabar banget ngadepin anakku dan enggak pernah marah. Makanannya sehat, ditambah ada CCTV jadi bisa lihat anakku lagi ngapain. anakku jadi punya rutinitas yang menyenangkan dan enggak sempet pegang gadget. Kurangnya daycare, ada satu anak sakit, pasti semuanya ikutan sakit. Tipsnya, pilih

daycare yang dekat dengan rumah atau kantor. Kedua, rasio pengasuh dan anak-anak yang diasuh. Kalau satu pengasuh pegang kebanyakan nanti dia enggak fokus. Konsep di daycare-nya juga mau yang seperti apa. aku bisa dapat Montessori itu sesuai yang aku inginkan banget. Terakhir, biaya. Jujur aja di Jakarta cukup mahal. Tapi kalau worth

it seperti di tempat attar, aku enggak masalah.” theresia, karyawan swasta, 31 tahun (anak: 9 bulan)

niat awalnya, enggaK titip Ke orangtua

“Mamaku itu ngurusin bayiku hampir setiap hari karena aku kerja. Kadang aku titip juga pas lagi mau pergi tapi enggak bisa atau lagi enggak mau bawa anak. niat awalnya, enggak

nitipin anak ke orangtua. Mengasuh anak itu lebih daripada capek. Jadi, bukan waktu mereka lagi untuk direpotkan. Tapi apa daya? Orangtua aku dan suami enggak setuju cucunya diasuh orang asing. Okelah. The deal was sealed. Mamaku yang in charge. aku tentu tenang karena tahu bayiku ada di tangan yang tepat. Tapi ketakutan aku setiap hari adalah, anaknya rewel dan Mama kecapekan lalu sakit. Another worry, I can’t control apa yang diajarkan ke anak. Need to figure out somehow someday on this. Tipsnya, permudahlah hidup orang yang mengasuh. Semua keperluan anak tetap harus disiapin. Kalau perlu, bikin list what and how to do yang tentu enggak nyusahin. Contohnya begini, kita maksa mau pakai metode BLW (baby-led weaning, red.), artinya orangtua kita tiap waktu makan ya harus merapikan dan ngeberesin semua jejak-jejak BLW. Kalau itu bukan kesepakatan bersama (dengan yang dititipkan), itu menyusahkan.”

rebecca goeinawan, Visual Merchandise Supervisor, 29 tahun (anak: 23 bulan dan 7 bulan) ajaK berteMan babySitter

“Karena aku dan suami kerja, jadi mau enggak mau nitip anak ke babysitter. Tapi biasanya pasti ada orang rumah juga.

Kenapa babysitter? Karena aku enggak mau ngerepotin orangtua dan aku jadi bisa ngatur cara babysitter mengasuh dan mendidik anak sesuai kemauan aku dan suami. Sampai hari ini, aku enggak kepikiran—bahkan enggak mau—titipin anak ke

daycare. Karena ada pengalaman keponakan dititip ke daycare, tapi enggak kejaga sampai sempat kasus. So far, aku malah merasa fine pakai babysitter.

anakku baik-baik aja dan pintar banget. dari usia 9 bulan anakku yang besar sudah bisa mulai makan buah sendiri dan sampai sekarang usianya 23 bulan, dia sudah lancar ngomong, makan sendiri, dan bisa nyanyi.

Banyak hal-hal yang diajarin babysitter ke anakku, karena dari awal sudah aku berikan panduan apa aja yang harus diajarkan ke anak-anak. Kalau ada babysitter yang anehaneh, ya sebetulnya balik lagi ke kita pilihnya gimana? Kalau ada yang enggak sesuai, aku langsung tegur dan enggak bosan bilang ke mereka. dan aku jadikan mereka kayak partner atau teman, jadi mereka juga enggak segan kalau ada apa-apa sama kita.”

rury oktarini, karyawan swasta, 32 tahun (anak: 5 tahun) lebiH aMan Ke ibu Saja

“aku, kan, tinggal satu rumah dengan ibu, jadi lebih aman kalau ninggalin. Terus ibu kan juga sendirian, jadi biar ada temannya. anakku sama yang enggak dikenal, dititipin ke tetangga, misalnya, pasti dia enggak mau. Kalau neneknya, kan, udah kenal, mau pasti. itu juga kadang susah dibujuk.

Kalau Senin, kadang dia nanya kenapa aku kerja. dia pengin juga dianterin mamanya kayak teman-temannya. dia masuk jam 9, sedangkan aku jam 7 udah berangkat. Jadi dia diantarjemput neneknya.

Yah, memang harus dari anaknya dulu dinasihati. Kalau mamanya kerja buat cari uang, dia pun dititip ke neneknya enggak boleh nakal. Jangan nakal nanti kasihan neneknya udah capek ngurusin. Kalau dia nurut dan enggak nakal, itu udah jadi takaran sukses.

Sediakan uang kalau dia mau jajan dan tentunya stok camilan biar enggak makan sembarangan. Terus kalau sama ibu, aku bisa lebih percaya. aku sempat kepikiran ke daycare, tapi ibu jadi sendirian dan itu masih tempat asing juga buat anakku.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.