BUNYIKAN KOMPLAIN DENGAN NADA MERDU

Saat bermain musik, kadang kita sulit mencari nada yang pas. Menyampaikan komplain agar enak didengar, bisa jadi sama sulitnya.

Nova - - Isu Spesial - HILMAN HILMANSYAH

Saat bermain musik atau bernyanyi lalu nada yang muncul tidak merdu, bisa bikin sebal yang mendengar. Apalagi kalau yang disampaikan itu adalah komplain!

Karenanya, kalau mau melakukan komplain, mainkanlah dengan merdu. Seperti apa itu? Dr. Wisnu Widjanarko, pakar komunikasi yang juga dosen Psikologi Komunikasi di Universitas Jendral Soedirman, menyarankan beberapa hal ini.

Pertama, sampaikan komplain dengan pilihan bahasa yang relatif formal dan sesedikit mungkin terwarnai emosi, untuk menghindari bias serta mispersepsi.

Kedua, berikan data dukung yang menguatkan alasan kita mengajukan komplain.

Ketiga, hindarkan kesan Anda sedang “menyerang” melainkan sedang mengonfirmasi apa yang dirasakan, karena sangat mungkin terjadi kekeliruan persepsi.

Keempat, komplain harus ditujukan secara spesifik, apakah terkait perilaku, sikap, dan ucapan seseorang atau hal lainnya.

Kelima, yang mungkin sering kali terlewat, jangan lupa menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas diresponsnya komplain tersebut.

Cenderung Kurang Terbuka

Kenapa kita sampai begitu “repot” melakukan itu semua demi komplain terdengar dan diterima “merdu”?

Perlulah. Karena kita jangan sampai menjadi seperti banyak orang yang mengutarakan komplain, namun tidak langsung disampaikan secara verbal kepada pihak yang bersangkutan. Akan tetapi, justru berkoar-koar mengungkapkan keluh kesahnya melalui media sosial atau “curhat” pada orang lain. Kenapa bisa begitu, ya?

“Tak bisa dimungkiri, terkadang kita mengalami kesulitan untuk bersikap asertif atau terbuka menyampaikan apa yang ada di dalam benak pikiran atau perasaan kita. Sering kali kita atas nama menjaga keselarasan, ‘menekan’ cara pandang yang berbeda atau menolak menyampaikan apaapa yang menurut kita tidak sesuai, karena dianggap nyeleneh atau berbeda.”

Walhasil, lanjut Wisnu, ketika terjadi situasi yang tidak bisa lagi ditoleransi, maka seseorang bisa “meledak” atau menunjukkan sikap agresifnya secara verbal atau bahkan nonverbal melalui media sosial. Ditambah lagi, kadang-kadang keluhan tersebut diekspresikan dalam pilihan bahasa yang bernuansa kemarahan yang terkadang justru malah keluar dari substansi keluhan itu sendiri.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghindarkan diri dari upaya untuk mempermalukan apalagi mencemarkan pihak atau seseorang yang dikomplain, karena sesungguhnya fokus utama dari komplain adalah mencari solusi terbaik.

“Khusus ketika kita hendak komplain secara personal atau face to face, maka kita harus memerhatikan karakter orang yang dikomplain tersebut. Tidak hanya itu, pilihan diksi serta bahasa tubuh, aspek tempat dan waktu penyampaian juga menjadi bahan pertimbangan,” pesan Wisnu.

Nah, sudah siapkah Anda menyanyikan komplain?

Komplain harus ditujukan secara spesifik, apakah terkait perilaku, sikap, dan ucapan seseorang atau hal lainnya.

DR. WISNU WIDJANARKO, DOSEN PSIKOLOGI KOMUNIKASI SERTA KOMUNIKASI KELOMPOK & ORGANISASI DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.