“AKU Pernah Invest Sampai Rp450 Juta”

Nova - - Isu Spesial -

Duwi Setiya Ariyanti, 26 Tahun, Karyawan Swasta

Aku mulai investasi sejak tiga tahun lalu. Kenapa investasi? Karena enggak bisa nabung sih, dan nabung tuh kan sering diambilin karena ada biaya adminnya. Terus juga sebenarnya biar enggak bingung aja kalau lagi mikirin ini duit habis ke mana aja, ha-ha-ha.

Dari awal coba reksa dana campuran karena bisa dicairin sewaktu-waktu. Dan reksa dana memang cocok kalau buat jangka panjang biarpun kalau dari return enggak terlalu gede. Sedangkan kalau logam mulia itu kalau dari nilai memang naik sih trennya, tapi harus ngeluarin duit gede buat biaya brankasnya.

Tahu soal investasi karena dulu pernah ada manajer investasi yang bikin diskusi gitu di kantor. Terus yang bisa disarikan dari diskusi itu, investasi itu sederhana dan praktis, karena bisa mulai dari cuma Rp250.000 dan bisa buat jangka panjang. Terus baru tahun ini nyobain fintech crowdfunding.

Baru coba karena unik, bisa bikin aku merasa jadi pemilik berbagai kebun, padahal cuma naruh duit Rp500.000 hingga Rp1 juta. Pertimbangannya juga karena bisa berkontribusi di proyek-proyek agrikultur kayak cabai, edamame, atau ubi jalar. Senang saja, aku jadi pengin punya kebun sendiri.

Sitti Rahmani Alwa, 31 Tahun, Karyawan Swasta

Yang namanya investasi tentu harus pakai tujuan kan, ya. Nah, tujuan aku ngumpulin uang untuk DP (down payment, red.) rumah. Dari dua tahun sebelumnya aku investasi di reksa dana saham syariah, tapi hasilnya kurang optimal. Jadi kucaricari lagi instrumen investasi yang lebih baik return-nya dan saham adalah jawabannya.

Waktu itu di Twitter sempat viral kasus orang dengan gaji Rp27 juta tapi enggak punya saving. Aku lihat sumbernya dari medsosnya Jouska (perusahaan konsultan finansial, red.). Dari Jouska inilah aku jadi lebih tahu banyak soal investasi dan mengubah pemikiran aku tentang saham.

Aku baru mulai investasi Maret lalu, hanya dengan modal Rp1 juta. Aku enggak cuma investasi tapi aku juga trading. Aku targetin profit sekian persen di saham. Kalau sudah sampai di titik profit tersebut, sahamnya aku jual.

Aku setiap hari pantau pergerakan nilai sahamnya lewat aplikasi. Biasanya jam 9 pagi, pas pasar saham buka atau pas di jam makan siang. Setiap bulan setelah gajian aku langsung masukin ke RDI minimal Rp1 juta. Dari modal keseluruhan yang sudah aku simpan di RDI sekarang sudah bertambah 5%.

Main saham itu seru, tapi harus tahu celahnya, sama harus mau belajar analisis fundamental dan teknikal. Baca juga annual report dan berita-berita terkini sebelum membeli saham. Insyaallah sukses di pasar modal.

Debby Reynata, 26 Tahun, Karyawan Bank (Investor P2P Lending)

Awalnya, sih, aku iseng browsing tentang investasi, karena memang ada niat mau invest. Tibatiba aku merasa peer to peer (P2P) lending lagi naik daun, terus aku research dan akhirnya tahu bahwa Modalku ternyata P2P lending paling besar di Asia Tenggara, jadi aku coba sign-up. Beruntung, untuk memulai enggak susah. Apalagi invest-nya gampang, karena bisa diakses di komputer maupun mobile.

Saat pertama mulai invest, hal pertama yang aku lakukan adalah mengira-ngira bujetnya berapa dan mau didiversifikasi seperti apa, menimbang-nimbang risiko dan return-nya, baru deh kemudian alokasikan dananya sesuai pertimbangan. Awalnya mikir-mikir mau invest paling maksimal Rp20 juta untuk coba-coba pertama, tapi akhirnya ketagihan hingga mencapai Rp450 juta.

Saranku buat yang ingin invest di platform serupa P2P lending, pertama ya investasikan dana kita ke peminjam yang lebih secure, misalnya yang sudah punya PT. Terus, jangan lupa diversifikasikan investasi kita untuk mengurangi risiko yang timbul dibanding hanya investasi di satu peminjam saja. Jangan malas untuk baca latar-belakang peminjam, keuntungan yang didapat, maupun risiko yang akan diterima.

Dewany Dana, 27 Tahun, Wiraswasta

Aku berinvestasi sejak umur 23 tahun. Bermula ketika aku kebingungan saat mendapat uang dalam jumlah banyak, dari hasil penjualan mobil ayahku. Kalau ditabung saja, takutnya terpakai. Untungnya waktu itu, ada teman yang mengajakku membeli emas, untuk investasi jangka panjang, katanya.

Daripada uangnya tak terpakai, mendingan aku belikan emas batangan logam mulia milik PT Antam seberat 100 gram dengan harga Rp51 jutaan pada 2013 lalu. Tapi sekarang, jika emas batangan itu dijual, harganya berkisar Rp60 jutaan.

Makin ke sini ternyata aku makin sadar bila angka nilai jual emas semakin meningkat. Aku pun makin tergiur. Akhirnya pada 2015 lalu, aku menambah koleksi investasi emasku dan beli emas seberat 25 gram. Pokoknya, aku merasa investasi emas sangat menjanjikan. Kalau ada rezeki tambahan, maunya menambah emasnya lagi. Lumayan, kalau aku sudah berkeluarga dan punya anak nanti, kan, bisa membantu suami. Entah buat pendidikan anak, renovasi rumah, atau lainnya.

Zola Azaria, 23 Tahun, Trader Saham

Aku memulai investasi saham itu dari usia 18 tahun. Awalnya, aku menjalankan bisnis online dulu di bangku SMA. Terus aku mikir kalau untung, enggak bisa cuma disimpan saja. Akhirnya, aku coba deh, untuk investasi saham. Waktu itu, aku memulai untuk membuka satu sekuritas dengan modal di atas Rp10 juta. Setiap hari, aku pantau bagaimana perkembangan saham setiap harinya.

Lalu, lama-kelamaan aku bisa balik modal kurang dari setahun. Saham itu buatku sangat menguntungkan, sekarang sudah bisa dibilang 50 persen aku dapat untung. Tapi, keuntungan aku itu enggak aku ambil semuanya. Aku paling ambil ¼ saja, dan itu sudah cukup membiayai kehidupan sehari-hari. Itu juga bisa membiayai liburan aku. Sisa dari keuntungan aku itu, terus aku putar lagi supaya terus menguntungkan.

Sekarang aku hanya ikut di beberapa perusahaan saja, karena kalau kebanyakan nantinya akan mengurangi portfolio aku sebagai trader. Pokoknya, untuk memulai bermain saham itu, dimulai dengan disiplin dulu dengan uang. Karena, waktu aku mendapatkan penghasilan dari bisnis itu, aku selalu taruh hampir 50 persen untuk investasi, selebihnya baru pengeluaran sehari-hari. Terus belajar bermain saham, bisa ikut latihan di Sekolah Pasar Modal. Di sana diajarin untuk bermain saham virtual, baru deh mulai ke saham benerannya.

FOTO: DOK. PRIBADI

Ini kisah beberapa teman kita yang sudah giat berinvestasi. Ada yang malah ingin jadi punya kebun sendiri, ada yang lantaran terenyuh melihat orang bergaji besar tapi tak punya tabungan, bisa membantu suami, ada juga yang sudah “main saham” sejak remaja, dan ada pula yang ketagihan hingga sampai mengeluarkan dana hampir setengah miliar. Seru! FIRLI, YUNUS, BAGUS, MELLISA, TENTRY

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.