DRAMA Menjalin Cinta Dengan DUDA

Nova - - Anda & Pasangan - MARIA ERMILINDA HAYON | FOTO: ISTOCK

Saat ini menjalin cinta dengan pria yang sudah pernah menikah rasanya bukan hal yang tabu lagi. Namun, tetap bukan suatu perkara yang mudah untuk menjalin hubungan dengan pria yang sudah lebih berpengalaman ini. Pasti ada risikonya. Bahkan bisa jadi lebih besar. Salah satunya adalah soal pengalaman menjalani kehidupan pernikahan.

Pernah berumah tangga, secara tidak langsung akan memengaruhi pola pikir, reaksi emosi, dan perilaku seseorang. Pengalaman yang dibawa bisa saja positif atau negatif, tergantung pada kehidupan rumah tangganya yang terdahulu. Keduanya akan berdampak pada posisi kita sang perempuan baru.

“Jika pengalaman pernikahan sebelumnya negatif maka ada kemungkinan sang duda membawa luka emosi dan mekanismemekanisme pertahanan diri ke hubungan pernikahan selanjutnya. Barangkali dalam situasi relasi yang baru, ia kemudian merujuk ke pengalaman rumah tangganya,” ujar Pinkan Margaretha Indira, M. Psi Psikolog dari Universitas Kristen Krida Wacana dan Psikolog Wellness Indonesia.

Misalnya di pernikahannya terdahulu perpisahan terjadi karena tidak tahan dengan intervensi dari pihak mertua. Di relasi yang baru sangat memungkinkan dia menjadi sensitif dengan usulan atau masukan dari pihak calon mertua.

Sebaliknya, jika pengalaman sebelumnya positif, misalnya berpisah karena istri meninggal, maka hal ini menjadi tantangan dan tekanan tersendiri bagi kita untuk dapat masuk di kehidupan sang duda. Mungkin saja kita dituntut untuk bisa mengisi standar seperti mendiang istrinya. Akibatnya, rasa tidak diterima, karena dibayang-bayangi oleh sosok mendiang istri.

“Jadi ada kemungkinan sang duda memasuki relasi yang baru tetapi masih membawa perspektif hasil pengalaman terdahulu, sehingga perempuan baru yang masuk di hidupnya dapat merasa dipersepsikan tidak adil karena dibandingkan dengan sosok perempuan yang dulu,” ujar Pinkan.

Sebenarnya merupakan hal yang wajar jika seseorang merujuk pada pengalaman masa lalu untuk menghadapi situasi masa kini. Lebih baik memang di awal hubungan dengan sang duda ada pembicaraan dari hati ke hati yang berujung pada kesepakatan untuk membuat garis batas antara masa lalu dan masa sekarang. Hal yang penting untuk disadari dan diterima adalah di memori dan hati sang duda memang pernah ada kenangan dengan sang mantan dan ini fakta yang tidak bisa dihapus.

“Tantangan bagi si perempuan adalah tidak terjebak pada membandingkan dirinya dengan sang mantan. Si perempuan perlu membangun harga diri yang sehat, bahwa dirinya adalah pribadi yang utuh dengan jati diri yang kuat, dan sang duda mencintainya bukan karena bayangan dari sang mantan, tetapi memang karena jati dirinya yang berbeda dengan sang mantan. Ini seperti memulai suatu episode baru dalam kehidupan,” jelas Pinkan.

Lalu bagaimana jika sang duda ini juga memiliki anak dari pernikahan sebelumnya?

Siasat Menghadapi Anak

“Adanya anak tentu menjadi faktor kompleksitas yang perlu dipertimbangkan dan dikelola dengan bijak. Perempuan yang akan menikah dengan duda yang sudah mempunyai anak, perlu berbesar hati untuk dengan hati-hati, sabar, dan tulus masuk ke dalam kehidupan sang anak,” ujar Pinkan.

Pinkan menyarankan agar jangan berekspektasi berlebihan, terburu-buru, dan jangan menuntut anak untuk langsung menerima keberadaan kita. Hal ini dikarenakan oleh, anak perlu waktu dan ruang untuk berproses menerima kehadiran perempuan baru selain ibu kandungnya. Kunci agar bisa akrab dengan anak adalah ketulusan. Seperti ketulusan untuk belajar mengasihi anak meskipun di awal relasi bisa jadi akan diwarnai dengan kecurigaan, resistensi, bahkan mungkin penolakan .

“Perempuan yang baru perlu berbesar hati dan berempati pada sang anak, dan hendaknya tidak berkeinginan menjadi pengganti ibu kandung anak tersebut. Tetapi biarkan anak memberikan posisi “baru” bagi perempuan tersebut di dalam kehidupan anak,” saran Pinkan.

Dengan demikian Anda harus menunjukan ketulusan ini melalui konsistensi antara kata dan perbuatan. Maka seiring berjalannya waktu, anak akan bisa melihat motif yang tulus dari Anda sehingga anak akan mulai membangun rasa menerima dan akhirnya ada rasa percaya.

Hubungan Ranjang

Bukan hanya urusan soal anak saja yang perlu diperhatikan. Urusan ranjang pun perlu mendapat perhatian. Sang duda pastinya sudah berpengalaman untuk urusan bercinta.

Lalu, bagaimana agar dapat mengimbangi dan membahagiakan dia saat bercinta? Bagaimana kalau lebih buruk dari pasangan yang sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan ini yang biasanya muncul dalam benak kita saat

ingin memulai bercinta. Solusinya cuma satu, komunikasi.

“Urusan ranjang merupakan salah satu aspek yang juga membutuhkan komunikasi terbuka dari pasangan. Kekhawatiran dan ekspektasi sebaiknya disampaikan satu sama lain. Si perempuan sekali lagi perlu membangun keyakinan atas rasa berharga dirinya. Jika ingin membahagiakan sang duda, jangan enggan bertanya,” saran Pinkan.

Menurut Pinkan, godaan terbesar memang menempatkan diri dalam perbandingan dengan pasangan yang sebelumnya. Hal ini akan menjebak diri sendiri ke dalam kecemasan yang tak berujung.

“Bangunlah keyakinan bahwa diri Anda adalah pribadi utuh, cintailah diri Anda, terima diri Anda, maka rasa percaya diri yang memancar itu juga akan membuat sang duda mencintai Anda sebagai pribadi yang baru di hidupnya, tak terkait dengan sang mantan,” ujarnya.

Mulai Episode Baru Bersama

Sebenarnya menikah dengan duda atau lajang sama-sama butuh kedewasaaan. Ditandai dengan kematangan pola pikir, pengelolaan emosi, dan perilaku yang beretika. Sebab, kedewasaan dalam pernikahan adalah elemen penting yang menentukan kebahagiaan dan kelanggengan pernikahan.

Bangunlah hubungan cinta yang baru sebagai suatu episode baru dalam kehidupan Anda dan pasangan. Episode lama, baik itu indah atau buruk, baiknya ditutup dan diikhlaskan.

“Jadi memang perlu upaya dari kedua pihak, sang duda maupun si perempuan, untuk dengan sadar bergandengan tangan dan bersepakat memulai episode baru kehidupan bersama,” pungkas Pinkan

Sebaiknya di awal hubungan dengan sang duda ada pembicaraan dari hati ke hati yang berujung pada kesepakatan untuk membuat garis batas antara masa lalu dan masa sekarang.

dosen Fakultas Psikologi UKRIDA dan Psikolog Wellness Indonesia Pinkan Margaretha Indira, M.psi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.