Ibuku Memanipulasi aku

Nova - - Tanya Jawab Psikologi - DRA. RIENY HASSAN Psikolog Alamatkan surat (lengkap dengan fotokopi KTP) ke Redaksi NOVA, Tuliskan rubrik ”Konsultasi Psikologi” pada amplop, bisa juga melalui e-mail: nova@gridnetwork.id

Yth. Bu Rieny, Tanya

Usia saya 35 tahun, sudah menikah dan punya satu anak usia hampir 4 tahun. Ibu saya masih ada dan ayah meninggal karena stroke. Sekarang saya tinggal dengan ibu, suami dan anak di rumah orangtua saya. Dalam waktu dekat saya akan pindah ke apartemen yang masih dekat dengan rumah orangtua.

Saya banyak membaca artikel setelah bingung menghadapi keadaan saya sendiri. Kedua orangtua memberikan kasih sayang melimpah, demokratis, dan bertanggung jawab. Saya memiliki kenangan masa kecil yang sangat indah. Sampai saat saya SMA, saya merasa ada perubahan pada ibu saya. Pada masa itu saya tidak menyadari penyebabnya, kemungkinan karena masa menopause atau pasca melewati operasi kista. Mungkin juga karena papa saya baru terkena stroke dan beberapa kali saya mendengar pertengkaran mereka.

Saya sudah beberapa kali bertemu dengan konselor, psikolog, dan pendeta, tapi pada akhirnya saya belajar menyesuaikan diri, banyak berdoa dan menggunakan hikmat, mendengarkan nasehat dari banyak orang tua. Keadaan sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saya sudah lama mau menulis kepada Ibu, tapi baru sekarang bisa karena menulis memerlukan konsentrasi dan saya berusaha membuat sejelas mungkin. Jadi mohon maaf dan harap maklum karena akan banyak loncat dan membuat bingung.

Sekarang saya sedang mengambil kelas bahasa Mandarin. Kelas lain yang sekarang saya ambil adalah parenting di Bandung. Diusahakan saat suami pulang kantor, saya sudah pulang, selesai kelas saya akan langsung mengejar kereta balik ke Jakarta. Kelas parenting ini selesai bulan depan, Bu.

Ibu saya sudah sekitar tiga bulan pergi ke dokter untuk pengobatan parkinson tahap awal, belum sampai gemetaran. Sekarang hanya ekspresi muka, postur tubuh bungkuk, suara mengecil, dan jalannya pelan. Hidup masih menjalankan rutinitas, masak, pergi ke pasar, tapi tidak suka bersosialisasi. Saya yang kadang menyambungkan telepon ke teman atau saudara. Awalnya suka ngoceh dan ngedumel, tapi jika sudah ngobrol bisa lupa waktu.

Pertanyaan saya, bagaimana cara menghadapi ibu yang manipulatif? Saya belikan handphone, mengajarkan untuk mengoperasikannya dengan susah payah, tapi dia pakai untuk bergosip jelek, juga tentang saya, dengan kakaknya.

Saya tahu Ibu Rieny pernah bilang bahwa kita harus mengerti dan memahami orang tua kita, banyak bersabar. Memang hidup bersama orangtua akan mengubah kehidupan.

Waktu saya putus dengan pacar saya yang psikopat, Mama bilang itu salah saya dan diminta untuk baikan lagi? Sampai kapan orang tua memberikan rasa aman dan afirmasi positif? Apa hanya waktu kecil saja? Sekarang, Ibu berhak dan boleh saja menyakiti hati anaknya, karena si anak seharusnya bersabar dan menahan diri?

Jika di sebelah kiri saya ada polisi, hakim, dan orang paling berpengaruh sekalipun, sementara di sebelah kanan adalah ibu saya, maka saya pasti akan lebih takut pada ibu saya. Hal tersebut dikarenakan kata-kata Ibu saya bisa menyakitkan dan bertahan bertahun-tahun di ingatan saya. Sangat mengerikan.

Sudah sejak lama, saya mencari bantuan, bagaimana mengatasi perasaan-perasaan seperti yang saya rasakan ini. Tidak banyak yang membicarakan topik ini karena mungkin hal ini dianggap tabu. Apakah ada anak yang punya hubungan seperti hubungan saya dengan ibu saya ini, Bu Rieny ?

Judulnya dekat sering ribut, jauh merindu, saya pernah baca tulisan ini pada kolom Ibu Rieny. Pada saat jauh, tentu mama saya akan mengumpulkan massa dan menganggap saya sebagai musuh. Paman saya sampai telepon dan minta agar mama dikunjungi tiap hari.

Tentu tidak mungkin saya tidak menengok mama saya, pasti saya sering bertemu. Kendala awalnya tinggal serumah seperti piring di rak yang suka beradu. Tapi setiap saya mau keluar, pindah rumah, pindah kota untuk bekerja, mama saya punya 1001 macam cara untuk mencegah. Mulai menangis, mengadu domba, atau melapor ke paman saya. Saya tidak tahan cap buruk yang dia berikan yang menurut artikel tadi “mematahkan sayap” tapi buat saya, lebih tepatnya mematahkan hidup saya.

Setiap saya ingin melakukan atau berbuat sesuatu, saya harus bertekad sangat kuat agar mama saya juga tidak menghancurkan atau mematahkan semangatnya.

Di sisi lain dirinya, mama saya rajin memasak, tidak segan memberikan makanan kepada orang lain yang membutuhkan, bisa diandalkan, dan bertekad kuat. Dia adalah orang yang keras dan tidak mudah dipatahkan orang lain sehingga tidak ada yang bisa berbuat semena-mena terhadapnya. Terima kasih, untuk pencerahan yang akan Bu Rieny berikan pada saya.

Yuma-somewhere

Jawab

Bu Yuma sayang, Anda menulis dengan sangat jelas, runut dan baik. Di kesempatan pertama, saya ingin Anda mengingat, Anda bukan satu-satunya orang yang memiliki love hate relationship dengan ibunya sendiri. Wajar bila perasaan Anda pada Ibunda pun bisa berubah sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang terjadi di satu saat tertentu. Ketika pada suatu saat nanti Bu Yuma berhasil menata hati dan emosi sehingga lebih berkuasa atas diri sendiri, maka Anda akan mampu menjadi master buat diri Anda sendiri.

Menguasai diri, akan membuat Anda lebih rileks dan nyaman menjalani hidup. Yang lebih penting lagi, Anda akan punya lebih banyak waktu untuk melakukan apa yang Anda inginkan, tanpa harus merasa bersalah pada Ibunda. Menguasai diri berarti tahu dan sadar bahwa pikiran, perilaku dan kata-kata Anda adalah hasil sebuah proses yang disadari. Anda memang menghendaki melakukannya, bukan terpaksa, apalagi dipaksa, dan terjadi untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Tujuan ini, juga suatu yang Anda sadari, perkirakan, hitung untung ruginya, dan baru Anda lakukan.

Ini bukannya sebuah respon yang muncul dari dalam diri Anda, karena Anda diberi stimulus, diintimidasi, dimanipulasi dan juga diprovokasi. Kalau ini yang terjadi, maka Anda bersikap dan bertindak reaktif namanya, bukan proaktif. Contoh, ibunda menelpon adiknya, lalu adiknya menyuruh Anda untuk melakukan ini dan itu, karena kemasannya adalah, “kalau tak dikerjakan, dosa, lho!” maka Anda pun melakukannya tentu dengan terpaksa. Lelah sekali, bukan? Mengapa? Karena ini bertentangan dengan apa yang ada di hati dan pikiran Anda, sehingga yang terjadi adalah keterpaksaan yang mengakibatkan muncul perasaan tertekan dan tidak bebas mengekspresikan diri.

Bagaimana cara mengambil alih penguasaan atas diri sendiri? Pertama, yakinilah, bahwa ini adalah hidup Anda, dan karenanya, yang paling bertanggung jawab atas diri adalah Anda sendiri. Berikutnya, pastikan bahwa sebagian besar dari apa yang anda lakukan memang karena Anda menginginkannya. Saya katakan, sebagian besar, karena pasti ada saja sesuatu yang harus Anda lakukan untuk kepantasan, etiket, membuktikan kepatuhan pada suami, maupun rasa sayang pada ibunda.

Kita pasti butuh acuan untuk memastikan bahwa apa yang kita pikirkan, inginkan dan kita harapkan adalah sebuah kewajaran dan bukan kekurangajaran, atau pembangkangan, bukan? Jajagi pendapat atau pandangan orang lain. Berbagilah dengan suami, miliki teman yang pikiran dan chemistry-nya serupa. Lalu, seperti yang Anda sudah lakukan sekarang, belajar Parenting, banyak browsing, adalah hal positif yang bisa memperkaya wawasan.

Hanya, berhati-hatilah untuk tidak lalu merasa bahwa apa yang sedang Anda baca, memang ada dalam diri Anda. Ini masalah yang sering muncul bila kita membaca tulisan ilmiah popular. Baca tentang depresi, lalu mencocok-cocokkan gejalanya dengan diri kita. Sebentar lagi, baca tentang psikosomatik, lalu merasakan juga bahwa kita punya gejala-gejalanya. Akhirnya, saat bercerita pada orang lain, “saya menderita depresi psikosomatik,” kan, berabe, ya? Yang tersukar, Anda harus sadar bahwa saat Anda sudah berani dan mampu membuat keputusan-keputusan untuk hidup Anda, beranilah menanggung resikonya. Kembali lagi pada hal pertama, Andalah penanggung jawab utama hidup Anda!

Ibu yang melahirkan Anda, harus Anda hormati. Bahkan jangan pernah berkata dengan nada keras, apalagi membentak padanya, Tuhan murka bila kita melakukan ini pada ibu kita sendiri. Pada saat yang sama, di usia dewasa, setelah menikah, wajib hukumnya bagi Anda, untuk bicara dengan suami, apapun yang akan Anda lakukan, termasuk ketika melakukan sesuatu untuk Ibunda. Akan tetapi, ada saja pendapatnya yang berbeda bahkan bertentangan dengan Anda, bukan?

Namun tak ada yang mengatakan bahwa untuk yang seperti ini, Anda tak boleh mempertahankan apa yang Anda mau untuk hidup Anda. Rupanya, pengaruh beliau demikian kuat pada diri Anda, sehingga Anda mengatakan, “sangat mengerikan.” Tetapi sejalan dengan bertambahnya usia Anda, pengalaman jadi istri dan ibu, dan kebiasaan Anda untuk berpikir dan menganalisa, saya yakin, Anda sudah bergerak ke arah yang benar.

Hidup mandiri, terpisah tetapi dalam jangkauan, dan belajarlah untuk menikmati semua “paket” perpisahan ini. Karena ada enaknya, ada pula tak enaknya, terutama karena seluruh hidup Anda memang Anda habiskan bersama Ibunda, bukan? Dalam tahap sama-sama belajar ini, perbanyak kesabaran dan toleransi Anda. Kalau dulu sudah, tambah, deh. Sampai akhirnya beliau mau menyadari kenyataan bahwa Anda sudah punya keluarga sendiri.

Sesungguhnya, rasa yang paling menguras energi kita, adalah perasaan bersalah. Rasa ini bersumber pada perasaan kecewa, tak berdaya, dan tak mampu memberikan apa yang kita pikir harus kita berikan pada seseorang, yang biasanya adalah orang terdekat yang kita cintai. Biasanya, kita mengira bahwa orang atau orang-orang itu juga punya pola pikir yang sama dengan kita. Padahal tidak demikian. Maka jangan heran kalau mereka mengartikan sayang dan perhatian sebagai kekuatan untuk memperoleh apa yang diinginkan, beda pendapat sebagai pembangkangan, dan keinginan untuk mandiri sebagai tanda bahwa tak mau lagi diganggu.

Nah, khusus untuk ibunda, ketahuilah bu Yuma, dasar dari semua perilaku dan kata-kata buruknya adalah ketakutan untuk kehilangan Anda. Maka, alih-alih menangkal semua pergerakan negatifnya, berlakulah tetap sayang, memberi perhatian konkrit. Anda bisa tegas, saat Ibunda bicara buruk tentang Anda. Konsistensi sangat penting, agar Ibunda tak memanipulasi Anda lagi.

Selebihnya, jangan berhenti berdoa, selalu mencoba berpikir, bertindak dan berkata positif. Mudah-mudahan, ibunda bisa juga merasakan betapa nyamannya menjadi positif.

Silahkan hubungi saya bila Anda butuh saya, ya. Salam hangat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.