“Aku TAK Pernah Mendengar gemuruh AIR Sekencang itu”

Musibah datang begitu cepat, Jumat sore (28/9) kota Palu dan Donggala dihentak gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR).. Gempa yang disusul dengan gelombang tsunami hingga 3 meter, menyapu kawasan pinggiran pantai. Tria Aditia Utari, pramugari Garuda Ind

Nova - - Curhat - MUHAMAD YUNUS | FOTO: DOK. PRIBADI, TRIBUN NEWS

Ini bukan pertama kalinya aku ke Palu, sebelumnya sudah sempat beberapa kali ke kota itu. Jumat sore (28/9) sekitar pukul 17.00 WITA, aku sudah dalam perjalanan menuju Hotel Mercure, Jalan Cumi-cumi, Lere, Kota Palu. Di perjalanan cuaca begitu cerah, aku sempat post Instastory ke teman-teman. Sebelumnya aku sudah dikasih tahu sesama kru di bandara, bahwa barusan saja ada gempa. Sudah empat kali. Tapi katanya enggak apa-apa, sekarang aman. Info dari BMKG tentang potensi tsunami dan gempa susulan juga sudah dicabut.

Mendengar kabar itu, aku menganggap semuanya akan baik-baik saja. Makanya, begitu sampai di kamar 306 lantai 3, aku langsung makan seperti biasa. Terus mandi dan bersihbersih. Sekitar jam 6 sore, aku selesai mandi. Begitu juga dengan Mbak Kartika, teman sekamarku. Kita berdua sudah bersiap-siap untuk istirahat, saat tiba-tiba guncangan gempa kembali terasa.

Seketika kamar kami dan seluruh isi ruangan seperti enggak ada gravitasinya, semua barang terbanting ke mana-mana. Kami berdua cuma bisa berpelukan, istigfar sambil menangis meminta pertolongan. Kaca kamar mandi pecah, gelas berjatuhan. Aku enggak berani melihat ke belakang. Gempa berkekuatan 7,7 SR yang singkat itu bagi kami terasa lama, membuat kami enggak mampu berdiri hingga gempa akhirnya berhenti.

Plafon Runtuh

Begitu gempa berhenti, kami berdua segera keluar kamar. Sempat kaget, karena begitu buka pintu, plafon di luar kamar sudah runtuh berantakan. Suasana cukup gelap. Di seberang kamar, ada suara bapak-bapak dua orang dan seorang ibu paruh baya dari sebelah kamar kami. Saat itu kami teriak minta bantu dikeluarkan oleh bapak itu.

Suasana begitu mencekam. Saat itu, aku cuma berpikir keluarga yang aku punya di situ adalah teman sekamarku, Mbak Kartika. Aku enggak boleh pisah dengan dia. Ketika gempa, aku cuma ambil Hp-ku saja, sedangkan Mbak Kartika menyelamatkan handbag dan Hp-nya. Kami berlima sempat kelimpungan mencari jalan keluar. Semakin kami paksa pintu darurat untuk dibuka, plafon di atas kami yang runtuh. Akhirnya bapak yang bantu kami putar otak, dia kemudian mengajak kami masuk ke kamarnya dan coba keluar lewat jendela. Ketika jendela dibuka, ternyata ada reruntuhan atap di bagian bawah. Kami harus melompat ke bawah dengan jarak sekitar 6-8 meter.

Beruntung ada pipa besi dari jendela yang bisa dijadikan pijakan untuk turun ke bawah. Setelah bapak pertama turun, Mbak Kartika menyusul turun. Aku sempat menitipkan Hp-ku di handbag dia. Kemudian ibu-ibu sebelah kamarku turun, tapi nahas pegangannya lepas mengenai kepalanya hingga berdarah. Aku kemudian cepatcepat turun, disusul oleh bapak satunya lagi.

Sampai di reruntuhan atap, aku segera membantu ibu itu dengan menahan luka di kepalanya agar tak berdarah terus. Sementara Mbak Kartika terus berlari ke arah genting seng, kemudian menyusuri pohon untuk turun ke bawah. Melihat itu, aku pun memutuskan mengikuti Mbak Kartika. Aku bilang ke si ibu, “Bu, tekan lukanya ya, aku harus turun sama temanku.” Setelah itu, aku berlari ke genting seng menyusul Mbak Kartika.

Tapi baru setengah jalan aku berlari, tiba-tiba ada bapak-bapak teriak kepadaku, “Mbaakkk, balik ke sini! Bahayaaa, ada tsunami datang!” Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat semula. Dalam hati aku berdoa, ya Allah lindungi Mbak Kartika, semoga tak hanyut tergulung ombak.

Tsunami datang

Tak lama tsunami datang. Aku enggak pernah mendengar suara gemuruh air sekencang itu. Jujur, aku takut banget meninggal di tempat yang—mungkin—tidak akan ada seorang pun yang mengenali jenazahku. Tapi dalam hati aku siap, aku harus siap! Air datang bersamaan dengan gempa susulan. Aku cuma bisa menangis, memanggil Mama, istigfar. Aku tak bisa apa-apa. Aku enggak berhenti ngucapin kata Allahu Akbar, tolong hentikan ini semua ya Allah, hamba takut.

Tak lama arus air di bawah hotel sudah tenang, dan air sudah sedikit menyurut. Aku lihat ada jenazah wanita dengan kondisi yang mengenaskan terbawa genangan air di bawah. Aku bersyukur masih bisa hidup di atas sini.

Beberapa gempa susulan datang lagi. Aku dengan beberapa orang tadi masih bertahan di fondasi bangunan yang menurut kami aman, sambil menunggu tim SAR segera datang menyelamatkan kami. Tsunami susulan dengan ombak kecil juga menerjang. Awalnya aku enggak begitu takut, sampai tiba-tiba ada gempa lagi yang cukup kencang mengguncang.

Aku lihat bangunan hotel bergeser ke kanan dan kiri. Aku cuma bisa minta Allah untuk menghentikan. Aku tidak bisa ke manamana, tidak berani ke mana-mana. Aku cuma bisa menangis ketakutan. Aku bingung harus bagaimana. Seorang bapak, namanya Pak Dian, menyuruhku berdoa. Ya, akhirnya cuma doa yang bisa aku lakukan.

Gemuruh air terdengar lagi setelah gempa tadi. Aku mengucap astagfirullah, tsunami lagi.. Enggak selesai-selesai cobaanku ya Allah. Lalu Pak Dian dan staf hotel dapat tangga untuk memanjat ke reruntuhan atap yang lebih tinggi dan sempit, rupanya itu rooftop untuk menyimpan genset. Kami diminta segera cepat naik ke atas, karena tsunami besar datang lagi. Kami dengan sabar bergantian naik. Sampai di atas, aku bertemu temanku yang lain, Metha dan Irma. Rupanya, sebelumnya aku sempat dikabarkan hilang.

Di tempat itu, Irma berkali-kali memanggilmanggil namaku, memelukku, dan menangis minta pulang. Aku cuma bisa bilang untuk tetap bersabar, karena aku juga mau pulang. Aku berusaha menenangkan dia, yang penting kami sudah samasama sekarang. Setelah didata, semua temantemanku selamat. Mbak Kartika dan Mas Surjo Prasetyo ada di atas bukit. Jadi total ada 5 cabin crew, captain pilot, dan first officer (FO) yang ada dalam rombonganku dinyatakan selamat.

diungsikan ke Masjid

Selama berada di rooftop, suasana masih gelap. Kami hanya berbekal cahaya dari HP, itu pun terbatas. Ada HP yang masih mendapat sinyal, dipinjam bergantian untuk mengabarkan kondisi kami kepada saudara-saudara yang lain. Saat pukul 19.30 WITA, kami masih bertahan di reruntuhan atap. Sampai kemudian situasi dianggap cukup aman, kami mengungsi ke Masjid Agung Darussalam, Kota Palu. Pilihan lokasi itu dianggap cukup aman, karena berada di dataran yang lebih tinggi.

Menggunakan beberapa mobil, kami yang berada di rooftop dievakuasi ke Masjid Agung. Kami berkonvoi. Selama perjalanan, suasana begitu gelap. Kami melintasi beberapa reruntuhan bangunan dan kerumunan orang. Lama perjalanan dari hotel ke Masjid Agung sekitar 15-20 menit. Sampai di sana, sudah banyak kerumunan orang yang sama-sama mengungsi. Kondisinya ramai sekali, beberapa orang berteriak memanggil nama-nama keluarganya. Aku juga sempat melihat beberapa orang yang luka-luka, ada juga beberapa jenazah di sana.

Sekitar pukul 11 malam, aku akhirnya ketemu Mbak Kartika dan Surjo di Masjid Agung. Aku enggak pernah merasa serindu itu sebelumnya dengan orang-orang yang aku kenal. Aku peluk Mbak Kartika, aku peluk Mas Surjo sambil menangis. Mbak Kartika enggak berhenti minta maaf karena merasa ninggalin aku. Sebaliknya, aku juga bilang kalau aku takut dia terbawa arus. Suasana begitu mengharukan saat itu.

Besok paginya, beberapa pengungsi ada yang memutuskan meninggalkan Masjid Agung, mereka ingin memeriksa kondisi rumah sambil mencari anggota keluarga yang belum ditemukan. Sementara tim kami diputuskan untuk dievakuasi ke posko pengungsian di dekat bandara sekitar pukul 12.00 WITA. Aku terharu, karena oleh warga di sekitar posko kami sempat diberi makan, diberikan baju baru untuk salin, dan bersih-bersih secukupnya.

Sampai akhirnya, hari itu juga kami dievakuasi lagi ke Makassar, menggunakan pesawat Hercules TNI AU. Suasana pesawat begitu ramai. Awalnya hanya mau mengangkut 150 orang, bertambah hingga 220 orang. Bahkan ada yang take-off dan landing sambil berdiri. Sampai di Makassar, kami langsung menunggu pesawat yang membawa kami kembali pulang ke Jakarta.

Terus terang, kejadian yang pertama kali aku alami ini membuatku trauma. Jangan pernah menganggap remeh bencana, kita harus siap dalam keadaan apa pun. Termasuk siap menghadapi tanpa bekal sama sekali.

Jujur, aku takut banget meninggal di tempat yang— mungkin—tidak akan ada seorang pun yang mengenali jenazahku. Tapi aku harus siap!

Tria sempat tak mampu berdiri hingga gempa berhenti.

Gempa yang disusul tsunami membuat Palu porak-poranda.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.