“MEREKA SUDAH MENGAMBIL KESAYANGANKU”

Mirah tak terima anaknya dipukul bak binatang, hatinya sangat teriris.

Nova - - Curhat - MAYA DEWI KURNIA FOTO: MAYA DEWI KURNIA

Rumah dengan cat hijau yang terletak di Desa Kebulen Blok Jembatan, Indramayu, hari itu masih terlihat ramai. Beberapa ibu tampak sibuk menyiapkan makanan untuk disajikan pada pengajian malam nanti. Pengajian yang digelar di rumah itu untuk memperingati kematian Haringga, korban pengeroyokan oknum suporter sepak bola Persib di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Minggu (23/9)

Sementara itu, di teras rumah seorang wanita berkerudung hitam dengan gamis duduk memandangi beberapa papan bunga bertuliskan Turut Berduka. Matanya masih terlihat sembap. Wajahnya pun masih menyimpan luka mendalam. Dia adalah Mirah, ibu yang telah kehilangan anak laki-laki kesayangannya karena pengeroyokan sejumlah orang.

“Kalau lihat kejadian itu dari video, hati saya teriris,” kata Mirah.

“Dia anak baik,” lanjutnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Siang itu, di antara panasnya cuaca Indramayu, Mirah menumpahkan semuanya kepada NOVA yang menemuinya.

Pamitnya ke Rumah Teman

Kejadian bermula di rumah mereka di Jalan Bangu Nusa, Cengkareng, Jakarta pada Minggu pagi (23/9). Sekitar pukul 06.00 WIB Haringga bangun. Lima menit kemudian terdengar ada telepon berdering, dia bergegas mandi. Pukul 06.30 WIB Haringga berpamitan pada ibunya, alasannya mau ke rumah teman untuk urusan pekerjaan.

Sebelum pergi Mirah mengaku Haringga sempat mencium tangannya lama. “Padahal biasanya kalau berpamitan hanya bilang: Ma pergi, gitu saja,” kata Mirah.

Mirah mengizinkan Haringga pergi. Tetapi setelah dia pergi, Mirah merasa ada sesuatu yang tak mengenakkan hatinya. Tubuhnya seketika lemas. Dia seolah enggan melakukan apa pun. “Entahlah, tiba-tiba saya enggak mau ngapa-ngapain. Mau masak malas, sudah saja lauk yang kemarin malam dihangatin lagi,” jelas Mirah.

Sore hari, di sekitar rumah mendadak banyak orang melihat hape. Tetangga seperti sedang nonton video di ponsel. “Saya enggak bertanya video yang ditonton,” kata Mirah.

Sampai akhirnya, Maghrib sekitar pukul 18.30 WIB, ibu RT mendatangi rumahnya bersama polisi. Dia menanyakan nama lengkap Haringga. Di lingkungan rumah, Haringga dikenal dengan sapaan Hari. “Apa betul Hari itu Haringga Sirla?” kata Mirah menirukan pertanyaan bu RT kala itu.

“Saya jawab, iya,” ujar Mirah lagi.

Ibu RT kemudian menunjukkan sebuah video pengeroyokan seorang pemuda, tetapi wajahnya tidak terlihat. Lalu polisi menunjukkan lagi foto pemuda yang terbaring dengan baju kaos berlumuran darah. Mirah mengenali kaos, celana, dan sepatu yang dipakai pemuda itu seperti milik anaknya. Tetapi, dia tidak berpikiran buruk bahwa pemuda dalam video itu adalah anaknya, karena wajahnya tidak diperlihatkan. Hingga akhirnya polisi tersebut mengatakan bahwa Haringga meninggal di Bandung karena dikeroyok oknum suporter bola Persib.

Langit Seakan Runtuh

Mendengar itu, seperti langit runtuh dan menimpa tubuhnya. Mirah tak berdaya, sekujur tubuhya lemas. Tangisnya pecah. Terbayang wajah Haringga ketika berpamitan tadi pagi. “Saya menangis sekencangkencangnya. Tetangga di sekitar berusaha menenangkan saya.”

Akhirnya polisi meminta agar Mirah dan suaminya segera mengambil jenazah di RS Bhayangkara Sartika Asih, Bandung. Katanya jenazah harus segera dikebumikan, karena kondisinya tidak utuh lagi. “Saya terus menangis. Saya ingat, ketika dia pergi masih dalam keadaan baik dan sekarang kondisinya tidak utuh,” jelas Mirah.

“Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya diputuskan saya ke Indramayu untuk segera menyiapkan pemakaman Haringga. Bapaknya ke Bandung,” terang Mirah. Alasan jenazah dibawa ke Indramayu, karena itu kampung halaman Mirah. Di sana juga masih banyak keluarga, jadi ada yang membantu.

Senin pagi, sekitar pukul 06.30 WIB jenazah Haringga tiba di Indramayu. Tetangga dan keluarga menyambut dengan tangisan. “Saya sedih, karena enggak bisa melihat wajah Haringga terakhir kali,” lirih Mirah.

Menurut pihak rumah sakit kepada Siloam, suami Mirah, kain kafan Haringga tidak perlu lagi dibuka, karena jenazahnya sudah dimandikan. Sebaiknya langsung disholatkan dan dikuburkan saja. Lalu, ketika jenazah sudah tiba di rumah, Mirah mengaku sempat memeluk dan meraba jenazah anaknya itu. “Saya pegang bagian kepalanya, tetapi seperti tidak ada tulang. Lunak,” kata Mirah.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Haringga dimakamkan ke TPU Blok Jembatan, Desa Kebulen, Jatibarang. Setelah dikebumikan, Mirah memberanikan diri melihat video pengeroyokan Haringga. Sebelumnya dia hanya melihat sepotong tayangan yang sempat jadi viral di media sosial itu. Dia terkejut melihat aksi suporter bola memukul dengan kayu dan helm tanpa ampun kepada anaknya. Pada video itu Mirah mendengar Haringga sempat meminta tolong, tetapi tidak ada satu pun yang menolong. Di saat Haringga meronta sakit, justru orangorang kembali memukulnya.

“Mereka memukul anak saya bagaikan binatang. Mereka sangat kejam. Kalau ingat itu, saya marah, sedih,” tutur Mirah menitikkan air mata.

Kebiasaan Cium Jempol Kaki

Haringga adalah bungsu dari dua bersaudara. Saudara pertamanya perempuan, kini sudah berumah tangga. Sehari-hari Haringga tinggal bersama kedua orang tuanya di Jalan Bangun Nusa RT 13 RW 03, Cengkareng Timur, Cengkareng, Jakarta Barat. Sudah setahun ini Haringga turut membantu perekonomian keluarga. Seharihari dia bekerja sebagai montir di salah satu bengkel di Cengkareng. Sejak Haringga bekerja, Mirah tidak lagi bekerja. “Dia bilang kepada saya, mama enggak usah kerja, biar Hari saja yang kerja,” kata Mirah menirukan.

Dalam kesehariannya, Mirah bekerja sebaga buruh cuci, sementara Siloam sebagai supir pribadi. Sejak lulus SMA, Haringga bercita-cita ingin membahagiakan orangtuanya. Dia pun bekerja di bengkel, dan setiap bulan selalu memberikan upah bekerjanya kepada ibunda tercinta. Kini penolong keluarga itu telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan sejumlah kenangan.

Mirah masih ingat, kalau malam hari tiba, Haringga seringkali membuat nasi goreng. Dia punya kebiasaan membuat nasi goreng dengan terasi dan bawang putih dengan jumlah banyak. Setelah itu, dia membagikannya kepada Mirah. Diakui Mirah, dia dan anak bungsunya itu sangat dekat. “Dia manja dengan saya. Dia suka meluk saya,” kata Mirah.

Ada satu kebiasaan Haringga yang selalu dikenang Mirah. “Haringga itu kalau habis dimarahin suka cium jempol kaki saya,” kenangnya.

Dikatakan Mirah, sejak kecil Haringga suka sepak bola. Kegemarannya dengan bola membuat Haringga tergabung sebagai supoter resmi Persija. Namun meski mengidolakan Persija, di kamar tidak ada poster atau foto klub sepak bola favoritnya. “Dia hanya punya kaos dan selendang Persija.”

Kini suporter setia Persija itu telah pergi, semoga kejadian ini jadi pembelajaran kita semua.

Sebelum meninggal, Haringga adalah salah satu tulang punggung keluarga yang ikut membantu perekonomian mereka.

“Kalau lihat kejadian itu dari video, hati saya teriris,” lirih Mirah, ibunda Haringga.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.