Pede Sebagai Atlet

Nova - - Ragam - FAJAR SODIQ FOTO: FAJAR

Seorang gadis cantik bernama Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti tampak duduk di bangku kayu pinggir kolam renang. Setiap hari, dia bersama rekan sesama atlet renang penyandang disabilitas lainnya menyambangi kolam renang itu untuk berlatih dalam rangka pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Asian Para Games 2018.

Awalnya Dinda merupakan atlet renang profesional.

Dia mengenal olahraga renang sejak 7 tahun. Perkenalannya dengan olahraga air itu awalnya hanya untuk terapi penyembuhan asma. Namun, gadis kelahiran 22 September 1999 itu akhirnya jatuh cinta dengan olahraga tersebut. Berbagai lomba kejuaraan renang tingkat pelajar dari tingkat daerah hingga provinsi diikutinya.

Keadaan berubah total ketika ia mengalami sebuah kecelakaan di kamar mandi mess atlet di Semarang saat mengikuti POPDA. Dia bercerita, ketika di kamar mandi, ia terpeleset dan terjatuh. Akibatnya bagian tulang belakang patah. “Aku terjatuh dalam posisi duduk di kamar mandi,” kata dia mengenang kejadian nahas itu.

Lumpuh Akibat Jatuh

Akibat insiden tersebut, Dinda dinyatakan lumpuh dan harus menjalani pengobatan dan pemulihan selama setahun. Awalnya Dinda mengaku sering marah-marah. “Aku marah-marah karena enggak bisa ngapa-ngapain. Hanya di kamar doang,” kata dia dengan nada sedih.

Untuk bangkit lagi Dinda butuhk semangat dan motivasi dari orangorang tercinta di sekitarnya. Dinda mengaku jika kedua orangtuanya merupakan orang yang paling mendukung untuk bangkit. Tidak menyemangati dalam bentuk verbal, namun dalam bersikap dan memberikan perhatian.

Perlahan kepercayaan dirinya muncul. Dia mencoba membuka hati untuk menerima kenyataan. Lembaran baru kehidupan pun mulai dibuka dengan semangat baru. Tawaran untuk kembali berenang muncul dari salah seorang pelatih renang bernama Gatot.

Menurut Dinda, dengan kondisinya yang seperti itu, untuk renang dari ujung ke ujung terasa lebih panjang jaraknya dan membutuhkan waktu tempuh yang jauh lebih lama. Namun, dia tidak langsung menyerah begitu saja. Karena pelatih yang terbiasa menangangi atlet renang penyandang disabilitas memiliki trik dan strategi untuk mengatasi permasalahan itu.

“Kalau sekarang sih sudah terbiasa, jadi tidak masalah meskipun hanya mengandalkan kekuatan dua tangan untuk menggerakkan badan saat renang,” kata dia bangga.

Selanjutnya, Dinda mencoba keberuntungannya sebagai atlet paralympic dengan mengikuti lomba atau kejuaraan olahraga bagi para atlet penyandang disabilitas seluruh Indonesia. Hasil yang diraih pun tak main-main, dua medali emas dan satu perak berhasil direngkuhnya.

Meskipun sebagai atlet paralympic sudah berhasil memenangkan berbagai kejuaraan, Dinda mengaku jika profesi atlet belum bisa menjadi jaminan untuk masa depannya.

“Aku ingin kuliah karena olahraga itu ada umur maksimalnya. Misal aku cedera harus berhenti di saat itu juga, kan, bisa saja. Aku enggak tau kapan itu akan terjadi. Oleh sebab itu aku ingin jadi psikolog,” jelasnya semangat.

“Aku ingin kuliah karena olahraga itu ada umur maksimalnya. Misal aku cedera harus berhenti di saat itu juga, kan, bisa saja.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.