Taklukkan Hidup Berat

Nova - - Ragam - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: DOK. PRIBADI

Sejak usia setahun, hidup Yuliana Lili sudah terasa berat. Wanita 37 tahun ini didiagnosa menderita polio, hingga membuatnya sulit berjalan. Dia tak bisa lagi berjalan jarak jauh karena kakinya sudah tak mampu menopang. Itu sebabnya, Lili harus hidup dalam keterbatasan. Apalagi semasa kecil, dia tinggal di Sekadau, Kalimantan Barat, yang lumayan jauh dari pusat kota. Jadi, fasilitas penunjang para anak disabilitas belum memadai seperti di kota besar.

Tapi, Lili perempuan kuat. Meski fisiknya tidak sesempurna teman sebayanya, dia tak mau hanya berpangku tangan. “Kalau cuma diam saja di rumah, sampai tua pun aku hanya bisa seperti ini doang. Makanya, aku memang punya keterbatasan fisik, tapi bukan berarti kemampuanku juga terbatas. Percaya diri saja kalau aku bisa,” umbarnya.

Lantas, bagaimana awal Lili jadi atlet angkat berat? Ternyata, semua berawal dari ajakan temannya. Saat itu Lili diajak temannya ke sebuah tempat gym. Di sana, dia dikenalkan dengan angkat beban. “Waktu itu, sih, niatnya olahraga. Terus, aku juga mulai aktif renang. Saat itu aku terpikir, kenapa aku tak jadi atlet saja? Toh aku ternyata suka olahraga. Semoga saja kaum disabilitas bisa lebih menampilkan prestasinya lewat olahraga,” pikir Lili saat itu.

Dari situ, dia mulai fokus dan akhirnya memilih angkat berat sebagai tujuan karier selanjutnya. Sudah menemukan tujuan baru, tapi bukan berarti tantangan hidup Lili berkurang.

Tak Mudah Menyerah

Harus diakui, latihan fisik yang dijalani Lili sering membuat fisiknya kelelahan, terus tangannya sering cedera. Meski harus beradu dengan kesehatan fisiknya, Lili yakin, “Lama-lama juga terbiasa. Aku enggak boleh lemah, enggak boleh nyerah. Kalau baru begini saja sudah kalah, bagaimana ke depannya?”

Dia pun meyakinkan suaminya lagi bahwa apa yang diambil ini tepat. Terlepas dari seringnya dia sakit, Lili terus membiasakan diri dengan aktivitas barunya. Sampai akhirnya, fisiknya mulai matang. Beban berat dari barbel latihan pun mulai bisa diangkat. Sehingga, terpilihlah dia sebagai salah satu atlet angkat berat milik Kalbar di kelas 61 kg.

Yang penting, lanjut Lili, jangan pernah malu dengan apa yang sudah diberikan Tuhan. Apalagi sampai menyerah. Karena, dengan kekurangan bukan berarti kita tak bisa menggapai mimpi. “Percayalah, di balik kekurangan, pasti Tuhan memberikan kelebihannya yang lain buat kita,” tambah Lili bersemangat.

“Aku enggak boleh lemah, enggak boleh nyerah. Kalau baru begini saja sudah kalah, bagaimana ke depannya?”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.