Real Life Reads:

Pregnancy (Indonesia) - - Contents -

“Saya tak sempat melihatnya hidup”.

Nama saya Eleni. Saya memutuskan menikah dengan suami saya, Abraham, untuk mewujudkan kebahagiaan bersama di kehidupan baru. Membangun sebuah keluarga adalah cita-cita kami, dan memiliki seorang anak tentu akan melengkapi bahtera rumah tangga ini.

“Kejadian ini bagaikan mimpi buruk. Setiap ibu tak akan mau tertimpa kesedihan seperti yang saya alami. Masih terbayang rasanya ketika berada di kamar bersalin saat itu. Sepi, sunyi, tak ada tangisan bayi.”

Begitu menikah, saya dan suami sepakat untuk segera memiliki anak. Kami memulai program sederhana untuk segera mendapatkan keturunan. Tak lama setelah pernikahan, kami dikejutkan dengan anugerah yang diberikan Tuhan. Ya, saya hamil. Saya bersyukur itu cepat terjadi. Abraham pun begitu antusias dengan kehamilan pertama saya tersebut.

Di Minggu ke-38

Mendapatkan tanda positif hamil membuat hati saya dan suami bergetar. Kami begitu senang lantaran impian kami segera terwujud. Tidak ada yang ganjil dengan kehamilan saya. Makin hari saya semakin mencintai kehamilan pertama saya tersebut.

Hari-hari saya jadi terasa menyenangkan, terlebih di saat saya merasakan gerakan-gerakan di dalam perut. Kami sudah tahu jenis kelamin calon anak kami, laki-laki! Betapa bahagianya, sehingga sejak di dalam perut pun, kami sudah memberinya nama, Alexander. Alexander begitu aktif. Gerakannya berpola dan teratur, terutama di setiap pukul sepuluh malam saat saya duduk beristirahat untuk mengakhiri hari. Alexander bergerak-gerak menggeliat, amazing.

Sampai ketika kandungan berusia 38 minggu, saya perhatikan ada yang berbeda dengan pergerakan janin. Saya berpikir mungkin ia hanya tak leluasa di dalam rahim saya. Hingga akhirnya suatu malam saya khawatir karena tak dapat merasakan gerakan Alexander. Saya segera putuskan untuk mengontrol kandungan saya di esok hari.

Keesokan pagi saya pergi ke rumah sakit ditemani ibu saya. Suami saya kala itu harus mengurus pasien kami. Maklum, kami berdua adalah dokter gigi yang baru saja membuka tempat praktik. Saya lalu masuk ke ruang pemeriksaan, dan suster sudah menyediakan doppler untuk memeriksa detak jantung. Saya mencoba mendengarkan secara langsung, namun tak ada detak jantung dalam kandungan saya. Hingga dr. Wendy akhirnya datang dengan alat doppler yang lain. “Tidak terdengar juga detak jantungnya, mari kita coba dengan ultrasound,” kata dokter.

Ruangan jadi begitu gelap dan saya hanya dapat melihat wajah dokter. Saya lihat matanya, kemudian wajahnya yang tiba-tiba menjadi panik. Saya takut, bibir saya membeku saat dokter berkata, “Maaf Eleni, tak ada detak jantung.”

Lewat telepon, Abraham menanyakan apakah bayinya akan lahir saat itu juga. Saya mengatakan bahwa Alexander telah meninggal. Suami saya segera datang ke rumah sakit. Di sana, untuk pertama kalinya saya melihat suami saya menangis.

Selamat Tinggal Alexander

Kami disediakan satu ruang kamar. Ruangan itu begitu sepi, hanya terdengar keramaian dari luar, suara teriakan bayi baru lahir dan ucapan selamat dari keluarga yang bergembira.

Saat persalinan, saya mengalami kontraksi. Saya mengejan namun tidak terlalu lama. Saya ingin ini cepat berakhir, namun saya ingin menghargai Alexander untuk pertama dan terakhir kali.

Saya membawanya terlahir di dunia. Saya masih berharap mendengar tangisannya, meski itu tidak terjadi. Wajah Alexander yang pucat, tampak begitu tampan.

Pihak rumah sakit memberikan mawar merah di pintu kamar saya sebagai tanda ucapan kepada keluarga yang berduka. Mereka membiarkan saya menggendong Alexander. Lalu, orangtua saya, nenek saya, paman, adik, dan saudara saya yang lain juga berkesempatan menggendongnya. Sampai akhirnya ketika Abraham harus memeluk anak lelakinya, saya menjadi sangat kacau. Abraham terlihat begitu sedih begitu dalam, namun ia juga sangat bangga.

Kami menghabiskan waktu selama empat jam bersama Alexander. Adik saya sempat mengabadikan beberapa foto Alexander melalui ponselnya. Saya pun menangis di wajah bayi saya itu. Semua orang tentu tak dapat merasakan betapa sedihnya jika anak yang kita lahirkan tak dapat tertawa, menangis, dan tersenyum.

Hingga akhirnya, kebersamaan kami harus berakhir. Suster siap membawa Alexander untuk diletakkan di atas keranjang roda. Ia menyelimuti Alexander dengan kain putih. Saya tak suka dengan ini. Bukan hanya karena harus berpisah dengannya, tapi juga karena perlakuan mereka kepadanya. Suster seharusnya menggendong Alexander di lengannya, bukan membiarkan anak saya terguncangguncang saat roda keranjang berjalan.

Saya Seorang Ibu

Meski Alexander tak dapat bernapas di dunia ini, saya tetap merasakan kehadirannya di dalam kehidupan saya. Hal yang menyedihkan ialah, saya tidak dapat memberikan apapun kepadanya setelah berhasil menjaganya selama 38 minggu di dalam kandungan.

Intra uterine foetal death (IUFD) atau kematian janin di dalam kandungan ini hanya terjadi pada 1 dari 160 kehamilan ibu. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor baik dari ibu maupun karena kelainan pada janin yang terabaikan dan luput dari pemeriksaan. Lima puluh persen di antaranya tidak diketahui penyebabnya, sama seperti yang terjadi pada saya.

Kini, saya tetap memandang diri saya seorang ibu. Saya punya anak laki-laki, meski ia tak bernyawa. Banyak orang yang sungkan untuk membicarakan ini, atau tak mau mendengar kisah ini. Tapi ini memang sungguh terjadi. Semoga saya kuat menghadapinya.

"TANGAN MUNGILNYA TERASA BEGITU DINGIN

SAAT SAYA MENGGENGGAMNYA."

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.