Healthy Babies:

Pregnancy (Indonesia) - - Contents -

Si Kecil Cacingan?

Betapa bahagianya Sania ketika akhirnya bayi yang ia nanti-nantikan lahir. Namun, kebahagiaannya terusik saat usia Si Kecil masuk 8 bulan. Si Kecil yang biasanya ceria dan aktif, kini sering kali gelisah dan sulit makan. Ketika akhirnya ia memeriksakan Si Kecil ke dokter anak, Sania mengetahui bahwa ternyata, anaknya cacingan.

Dokter spesialis anak, dr. Diatrie Anindyajathi, msc, SP.A, dari brawijawa Women & Children Hospital menjelaskan bahwa cacingan atau helminthiasis adalah kondisi ketika terdapat satu atau lebih jenis cacing yang hidup dalam usus manusia. Cacing parasit ini dapat berupa Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichuria (cacing cambuk), Necator americanus (cacing tambang), dan Ancylostoma duodenale (cacing tambang). Semua jenis cacing ini harus diwaspadai karena pada kondisi infeksi berat semuanya dapat menyebabkan gejala yang berdampak pada seluruh tubuh.

Anak yang terinfeksi cacing, tinjanya akan mengandung telur cacing. Pada kondisi sanitasi yang tidak baik, telur cacing dapat mengontaminasi tanah lingkungan dan menginfeksi anak lain melalui makanan yang terkontaminasi atau dengan cara penetrasi langsung melalui kulit. “Cacingan sangat umum menyerang bayi atau balita di lingkungan dengan sanitasi yang buruk,” kata dr. Diatrie.

bayi dan balita dapat terkena cacingan bila mengonsumsi sayursayuran yang terkontaminasi telur cacing dan tidak dibersihkan atau dimasak dengan benar, meminum air yang terkontaminasi telur cacing, secara langsung menelan telur cacing setelah bayi dan balita bermain di tanah lalu memasukkan tangannya yang kotor itu ke mulut, serta kontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi larva cacing. “Penularan cacingan melalui udara dapat terjadi bila kita menelan telur cacing yang infektif,” kata dr. Diatrie.

Cacingan pada bayi bisa terjadi karena beberapa penyebab. Di antaranya kontak fisik dengan anak lain yang terinfeksi cacing seperti cacing kremi. Cacing kremi menghasilkan sekitar 11.000 telur di daerah dubur anak yang terinfeksi. Telur-telur ini berukuran sangat kecil sehingga terlihat. biasanya telur tersebut mengakibatkan gatal-ga-

Jangan anggap sepele cacingan pada bayi dan balita. Tidak hanya bisa membuat Si Kecil terganggu, tapi juga memengaruhi proses tumbuh kembangnya. Apa saja yang perlu diketahui?

tal sehingga ketika Si Kecil menggaruk daerah di mana telur-telur itu berada, sangat mudah bagi telur untuk berpindah ke kuku-kuku dan jari-jari Si Kecil.

Jika kebersihan Si Kecil kurang diperhatikan, telur-telur cacing tersebut akan mudah berpindah dari satu anak ke anak yang lain melalui kontak fisik, maupun barang-barang yang digunakan bersama-sama. Telur cacing bisa bertahan di daerah permukaan selama dua minggu. Jika menempel pada pakaian, handuk, sprei, atau selimut, dan dikebaskan, ada kemungkinan telur tersebut beterbangan ke udara dan terhirup.

Tak Cukup Pengobatan

menurut dr. Diatrie, cacingan bisa terjadi tanpa ada gejala yang terlihat jika cacing yang hidup pada usus jumlahnya sedikit. Jika jumlah cacingnya banyak, bisa muncul gejala-gejala berupa gangguan sistem pencernaan seperti diare, muntah, penurunan nafsu makan, nyeri perut, dan gejala sumbatan pada usus. Selain itu penderita juga mengalami gatal-gatal pada dubur. Gejala lebih berat yang bisa memengaruhi tubuh adalah anemia, demam, gagal jantung karena anemia berat, mengi dan sesak, serta kaligata karena reaksi alergi.

Cacingan dapat menyebabkan anemia (kondisi kekurangan hemoglobin, zat pengangkut oksigen dalam darah) karena terjadi kehilangan darah sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama. Dari segi nutrisi, cacingan menyebabkan kekurangan zat besi, mengganggu penyerapan nutrisi di usus, dan mengurangi nafsu makan. Akibatnya, anak tampak lemah dan terganggu pertumbuhannya.

Jika Si Kecil tampak lesu, gelisah, dan kurang nafsu makan, segera periksakan ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap tinja Si Kecil. Tinja diperiksa untuk mengidentifikasi telur dan atau larva. Selain itu juga ada beberapa metode pemeriksaan lain. Diantaranya, pemeriksaan serologis, antigen, dan biomolekuler. “Diagnosis paling tepat adalah dengan menemukan telur, larva, atau cacing dewasa dalam tinja. Pemeriksaan secara imunologi sering kali tidak karena dipengaruhi oleh respons sistem imun masing-masing individu yang tidak selalu sama,” jelas dr. Diatrie.

Apabila Si Kecil memang terkena cacingan, perlu diperiksa lebih lanjut apakah sudah terjadi komplikasi. “Diagnosis ditetapkan untuk menentukan jenis cacing. Selanjutnya dilakukan terapi untuk membunuh cacing. Obat lini pertama adalah albendazole atau mebendazole,” jelas dr. Diatrie. Terapi dengan obat cacing sangat efektif untuk membunuh semua stadium cacingan dengan satu dosis atau dengan dosis tiga hari berturut-turut untuk cacing tertentu. Efektivitas dinilai dari tidak ditemukannya telur cacing dalam tinja setelah pemberian obat cacing tersebut. Terapi lainnya dilakukan untuk mengatasi dampak dari cacingan, seperti pemberian suplemen zat besi dan lain sebagainya.

Upaya Pencegahan

Cacingan pada bayi atau balita dapat dicegah dengan menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan. menurut dr. Diatrie, cacingan merupakan masalah kesehatan dunia terutama di daerah yang memiliki sanitasi buruk. WHO (World Health Organization) telah menetapkan langkah untuk mencegah agar bayi atau balita tidak terkena cacingan. Pertama, pemberian obat cacing satu kali setiap 6 bulan bagi semua balita di atas usia 2 tahun yang tinggal di area endemis (termasuk Indonesia). Selanjutnya, memberikan pendidikan mengenai perilaku sehat dan bersih bagi masyarakat dan perbaikan sanitasi lingkungan.

WHO menargetkan, pada 2020 dunia bebas penyakit cacingan. Dengan melihat kejadian cacingan di Indonesia yang masih sangat tinggi, sangat dianjurkan bagi anak-anak untuk mengonsumsi obat cacing secara rutin enam bulan sekali. Pemberian obat cacing secara rutin ditujukan untuk bayi dan balita yang memiliki risiko tinggi cacingan, yaitu, balita usia 1-5 tahun dan anak-anak usia sekolah (6-15 tahun). “untuk bayi di bawah usia satu tahun yang belum terpapar risiko cacingan tidak perlu diberikan obat cacing secara rutin,” kata dr. Diatrie.

menurut dr. Diatrie, prevalensi cacingan di seluruh dunia biasanya banyak terjadi pada kelas sosial ekonomi yang rendah. Hal ini terkait erat dengan kebiasaan menggunakan alas kaki, sumber air minum, tingkat kebersihan diri dan lingkungan rumah, juga kondisi fasilitas toilet dan kebersihan lingkungan secara umum. bahkan satu penelitian di Afrika menunjukkan bahwa faktor penentu terjadinya infeksi cacingan pada anak adalah tingkat pendidikan ibu. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, semakin rendah pula prevalensi cacingan pada anaknya. “Gambaran yang sama juga saya temui di praktik sehari-hari. Anak-anak dari tingkat sosial ekonomi yang tinggi jarang sekali mengalami cacingan,” kata dr. Diatrie.

Dokter Diatrie mengingatkan, bahwa menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh Si Kecil bukan berarti mensterilkannya hingga menghilangkan semua bakteri dari tubuh dan lingkungan. Selain sulit untuk melakukannya, hal ini juga tidak perlu. Karena, tidak semua kuman bersifat merugikan. bila kuman yang menguntungkan juga dihilangkan dari tubuh maupun lingkungan, dapat

Menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh Si Kecil bukan berarti mensterilkannya hingga menghilangkan semua bakteri dari tubuh dan lingkungan Si Kecil.

terjadi gangguan kesehatan pada Si Kecil karena tubuh Si Kecil tidak terstimulasi untuk menghasilkan daya tahan tubuh. Sterilisasi berlebihan bisa mengakibatkan penyakit seperti alergi. “Orangtua yang bijak tidak akan melarang anaknya untuk bermain dan menjaga agar kondisinya steril, melainkan mengajarkan anaknya untuk selalu mengenakan alas kaki, mencuci tangan dengan benar, dan membuka wawasan tentang kebersihan diri lainnya,” komentar dr. Diatrie.

Jika Si Kecil Cacingan...

Selain pengobatan, cegah reinfeksi dengan cara berikut ini: 1. Cuci semua pakaian, mainan, handuk, dan seprai Si Kecil, dan semua milik anggota keluarga yang kemungkinan terkontaminasi. 2. Bersihkan mainan plastik atau kayu Si Kecil dengan kain lembap. 3. Bersihkan karpet dan sofa menggunakan vacuum cleaner dan sikat lantai hingga betul-betul bersih. 4. Bersihkan seluruh permukaan, terutama di kamar mandi dan dapur, dengan kain lembap untuk mencegah debu kering yang mengandung telur cacing beterbangan. 5. Jangan kebaskan handuk atau seprai untuk mencegah telur beterbangan seandainya terdapat telur cacing. Pastikan seluruh anggota keluarga melakukan ini: 1. Kenakan pakaian tidur yang pas sehingga jika menggaruk, tidak ada telur yang berpindah ke tangan dan tempat tidur. Ganti pakaian dalam di pagi dan sore hari. 3. Segera cuci bagian dubur saat bangun di pagi hari untuk menyingkirkan telur-telur cacing yang dikeluarkan pada malam sebelumnya. 4. Cuci tangan secara teratur, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum makan. Bersihkan juga bagian bawah kuku. 5. Pastikan kuku tetap pendek agar telur cacing tidak terperangkap di bawah kuku. 6. Jangan berbagi handuk atau selimut. 7. Tempatkan sikat gigi di rak dan cuci betul-betul sebelum digunakan. 8. Jaga agar makan tertutup dan jangan membawanya ke dalam kamar.

Jika Si Kecil berusia di bawah 3 bulan, atau jika Anda hamil atau menyusui, konsultasikan dengan dokter mengenai perawatan yang tepat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.