Teman Hamil

Pregnancy (Indonesia) - - Only In Pregnancy -

"Saya baru pertama kali hamil dan ikut bergabung di sebuah komunitas calon mama. Betapa senangnya punya teman senasib. Kami berbagi cerita, tip, dan informasi mengenai metode melahirkan, dokter, rumah sakit, dan apa pun yang terkait dengan kehamilan. Saya dan teman-teman sepakat untuk 'memaksa' para suami untuk ikut bergabung dengan kelompok calon papa jika kami berkumpul. Alhamdullilah, teman-teman bilang bahwa sejak para calon papa dipaksa ikut, sikap mereka berubah. Ada suami yang cuek banget menjadi super perhatian. Mungkin mereka takut ya kalau para calon mama menggosipi calon papa. Entahlah. Yang penting kami semua mendapat manfaat pertemuan itu."

Baju Bernoda

CHRISTINE, 25. "Salah satu tantangan ibu yang anaknya baru mulai belajar makan adalah membersihkan noda. Ada noda yang mudah hilang tetapi banyak juga yang sulit dibasmi. Salah satu baju favorit Si Kecil, karena bahannya yang lembut, sudah berubah warna dari kuning muda menjadi berbelangbelang. Saya sudah sangat ingin membuang baju itu, tetapi Si Kecil selalu menariknya dari lemari dan meminta saya memakaikannya. Akhirnya, saya membeli beberapa pewarna pakaian dari bahan alami dan memakai ilmu celup jumputan untuk memperbaikinya. Saya merasa, baju “baru” Si Kecil keren, lho."

NISA, 26.

Rahasia Botol Kosong

"Setiap pergi meninggalkan Si Kecil di rumah, saya selalu membawa botol susu kosong untuk menampung ASI. Ini jaga-jaga jika saya tidak bisa pulang sesuai rencana. Jadi, begini awal ceritanya, saya ibu rumah tangga yang terkadang mendapat pekerjaan sambilan. Jika harus rapat di luar rumah, saya biasa menetapkan tempat dan tidak akan pergi lebih dari 2 jam, karena masih menyusui. Tetapi kadang rencana tidak berjalan lancar. Pernah, suatu ketika, saya terhadang macet yang sangat parah. Payudara saya membengkak sampai menggigil kesakitan. Rasa sakit reda setelah saya memijat ringan payudara dan membiarkan ASI membasahi baju karena breastpad pun sudah penuh. Sejak itu, saya selalu membawa botol kosong. Jika payudara penuh, saya akan memijatnya dan menampung ASI di botol itu. Selebihnya sih, saya lebih senang jika klien bisa datang ke rumah saya saja."

FIONA, 33.

Kenapa Di Rumah?

"Saya memutuskan di awal tahun 2016, menjadi ibu rumah tangga saja. Saya berhenti bekerja setelah sekitar 10 tahunan bekerja. Setelah libur Tahun Baru, ketika suami kembali bekerja, anak sulung kami, Ayessa, 3, bertanya, 'Mama kok enggak ikut Papa kerja?' Saya jelaskan bahwa sejak hari ini akan menemani Yessa di rumah. Bukannya senang, ia menangis. Katanya, 'Nanti kalau susu aku habis, siapa yang beli?'. Yessa rupanya khawatir saya tidak bisa membelikannya susu. Saya tertawa dan berusaha menjelaskan mengapa berhenti bekerja. Jawaban saya, 'Tenang, Sayang. Mama akan tetap punya uang, sekarang kantor Mama di rumah, jadi sambil kerja, Mama bisa temani Yessa main.' Yessa pun tersenyum dan memeluk saya. Sekarang, saya bahagia bekerja di rumah saja."

MALIKA, 29.

"IH, ADIK BAYINYA MENENDANG-NENDANG."

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.