Sudah Sekarang?

Pregnancy (Indonesia) - - Mom Confession -

“Memasuki kehamilan trimester ketiga, saya mulai waspada jika mengalami kontraksi. Meski sudah mendapat bekal dari teman dan kerabat yang pernah melahirkan tentang rasanya kontraksi, saya tetap panik mengalaminya dan mengajak suami segera ke rumah sakit. Sesampainya di sana, suster mengatakan bahwa saya hanya mengalami kontraksi palsu, sehingga disarankan untuk pulang. Tiba di rumah, saya kontraksi lagi, dan menurut saya, ini berbeda dari yang pertama. Suami membawa saya ke rumah sakit lagi. Lagi-lagi suster bilang bahwa itu kontraksi palsu. Khawatir akan bolak-balik, suami menyarankan agar saya dirawat inap saja. Sampai dua hari di rumah sakit, saya tidak kontraksi lagi. Akhirnya saya pulang. Adaada saja.”

EVA, 26.

Bayi Tertukar

“Saya melahirkan dengan cara operasi Caesar. Beruntungnya, saya hanya perlu bius lokal dan masih sadar sampai Si Kecil lahir dan mampu melakukan IMD. Sebenarnya sih, tingkat kesadaran saya mungkin hanya 50 persen karena pengaruh obat bius. Saya memandangi Si Kecil, kemudian IMD, dan setelah itu, akhirnya saya benar-benar tidak sadar. Saya baru sadar kembali ketika sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Karena memilih kamar room in, Si Kecil ditidurkan di boks kecil di samping tempat tidur saya. Reaksi pertama ketika bangun dan melihat Si Kecil, saya terkejut dan berteriak, ‘Sayang, bayi kita tertukar deh. Pasti tertukar!’ Suami saya terkejut. Tahukah kenapa saya mengira Si Kecil tertukar? Karena sewaktu IMD saya merasa Si Kecil memiliki tanda lahir di bagian leher dan kini tidak ada. Suami meyakinkan bahwa bayi itu benar sebab hanya saya yang melahirkan di jam yang sama. Jadi, ke mana tanda lahir itu? Rupanya, saat setengah sadar, saya melihat sisa kotoran yang terselip di leher Si Kecil sewaktu IMD sebagai tanda lahir. Ah, malunya. Untung belum panik memanggil suster.”

Dokter Pasrah

DEANDRA, 25. “Mencari dokter kandungan untuk saya yang cerewet, susah-susah gampang. Saya menemukan dokter yang cocok setelah sekitar tiga kali ganti dokter. Dokter saya sudah senior. Ia ramah, baik, dan yang penting, sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Suatu kali, saya penasaran ingin tahu bagaimana rasanya melahirkan. Si Dokter tersenyum-senyum penuh arti, lalu menjawab, ‘Nanti juga ibu tahu rasanya.’ Tidak puas dengan jawabannya, saya bertanya lagi, ‘Tapi saya ingin tahu sekarang Dok, supaya siap.’ Dokter yang sabar itu menjawab lagi, ‘Katanya sih, lumayan sakit, Bu.’

Saya sebenarnya ingin bertanya lagi, tetapi suami sudah memberi kode untuk segera pulang. Dokter mengantar kami ke depan pintu ruang prakteknya, lalu berbisik ke arah saya, ‘Maaf ya Bu, saya enggak tahu rasanya melahirkan. Saya kan, laki-laki. Itu kata istri saya saja, melahirkan itu sakit.’ Haha. Saya tidak bisa menahan senyum. ‘Baik Dok, nanti saya ceritakan deh rasanya.’ Gantian dokternya yang ketawa.

NURUL, 30.

“APAKAH SUDAH WAKTUNYA MELAHIRKAN?”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.