PILIH KONVENSIONAL ATAU SYARIAH?

Atas dasar prinsip syariah agama yang tidak membenarkan adanya bunga saat pinjam-meminjam uang, maka perbankan pun menyediakan KPR syariah. Sistem cicilan tetap membuatnya menarik minat nasabah.

Rumah - - Sudut - TEKS PUSPITA DEWI dewi@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA ILUSTRASI ANTON NUGROGO

Sepuluh tahun terakhir ini, muncul pilihan pembiayaan bank dengan prinsip syariah atau hukum Islam, yaitu tidak membenarkan adanya bunga atas pinjaman atau yang disebut riba. Menurut syariah Islam, jika terjadi pinjam-meminjam uang harus berdasarkan keikhlasan, tidak dibenarkan mengutip bunga. Maka hadirlah bank syariah yang pada perkembangannya juga memberikan KPR syariah, termasuk KPR syariah untuk renovasi.

Dalam Pengawasan Bank Indonesia

Bank konvensional maupun syariah, berada dalam pengawasan Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas tertinggi perbankan. Sebagai penanda, bank syariah mencantumkan logo iB (baca: ai bi) yang menandakan bank tersebut merupakan Islamic Banking. Azas yang dikedepankan adalah perbankan syariah yang transparan, adil, dan modern.

Logo iB tidak merujuk pada bank tertentu melainkan merefleksikan kebersamaan seluruh bank syariah di Indonesia untuk melayani masyarakat yang menginginkan sistem perbankan yang berdasarkan prinsip Islam. Itulah sebabnya berbagai bank selain memiliki sistem konvensional juga memiliki sistem syariah. Misalnya, Bank Bukopin juga memiliki Bukopin Syariah, demikian juga terdapat BNI Syariah, Niaga Syariah, BRI Syariah, dan Mandiri Syariah.

Perbedaan Akad

Sebelum menentukan apakah KPR renovasi konvensional atau KPR syariah yang dipilih, Anda harus memahami perbedaan utama kedua sistem ini. Pada KPR konvensional aspek akadnya adalah pinjam meminjam uang. Jadi bank meminjamkan uang kepada nasabah untuk membeli rumah. Lalu, pinjaman yang dikembalikan oleh nasabah secara diangsur sesuai jangka waktu tertentu itu dikenakan bunga atas pinjaman.

Sedangkan KPR syariah, sesuai syariah Islam, tidak dibenarkan menerima bunga melainkan boleh mengambil keuntungan atas jual beli. Aspek akad yang digunakan oleh KPR syariah adalah jual beli atau murahabah. Jadi, seakan-akan bank syariah membeli rumah yang dinginkan oleh nasabah. Lalu bank menjual rumah tersebut kepada nasabah. Atas terjadinya jual beli antara bank syariah dan nasabah inilah bank syariah mengambil margin atau keuntungan atas kesepakatan dengan nasabah.

Secara umum, KPR bank syariah menawarkan tiga skema yaitu KPR iB jual beli ( murabahah), sewa ( ijarah), dan sewa beli ( ijarah muntahiya bittamlik/ IMBT). Nah, skema yang ditawarkan oleh KPR syariah untuk renovasi mengacu pada KPR syariah dengan akad murabahah.

Sistem Angsuran

Hal lain yang membedakan KPR konvensional dan KPR syariah untuk renovasi adalah pada sistem angsurannya. Evi Yulia, sekretaris perusahaan dari Bank Bukopin menjelaskan bahwa fasilitas pembiayaan KPR syariah untuk renovasi dengan akad murabahah membuat nasabah memiliki kepastian besarnya jumlah cicilan pada setiap periode angsuran sampai pembiayaan lunas sama besarnya.

“Besar margin biaya yang dikenakan pada nasabah sesuai dengan kesepakatan kedua pihak,” kata Evi. Margin ini ditetapkan berdasarkan sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS). Sebagai gambaran, misalnya setiap bulan angsurannya tetap Rp2.957.350 selama 10 tahun.

Contoh lain adalah Mandiri Syariah dengan program BSM Griya, menawarkan margin flat 12,5% untuk 5 tahun pertama lalu 13,5% pada 5 tahun kedua. “Nasabah bisa memperkirakan kemampuannya pada setiap periode pembayaran sehingga perencanaan keuangan keluarga menjadi lebih baik,” kata Nurhori, salah satu petugas pemasaran Bank Mandiri Syariah. Nasabah lebih yakin akan kemampuan ekonominya di masa mendatang karena besarnya angsuran tetap tidak berubah-ubah pada satu periode.

Berbeda dengan KPR konvensional yang mengenakan bunga pinjaman yang setiap periode angsurannya memiliki jumlah yang berbeda atau mengambang ( floating) mengikuti suku bunga pada waktu tertentu. Bunga KPR konvensional saat ini adalah 12,5%, dan tahun berikutnya bisa berubah.

Syarat dan Sistem Pencairan Dana

Syarat-syarat pinjaman untuk renovasi pada KPR konvensional dan KPR syariah adalah sama, yaitu rumah yang diagunkan tentunya dilengkapi dengan dokumen rumah, yaitu sertifikat, IMB, RAB, dan PBB. Sedangkan dokumen pribadi di antaranya adalah KTP, KK, slip gaji, dan NPWP.

Sistem pencairan dananya pun sama, sesuai dengan perkembangan atau kemajuan renovasi yang berlangsung, bisa 50%-40%10% atau 40%-40%-20% dari jumlah yang pinjaman yang disetujui yang biasanya maksimal 80% dari nilai agunan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.