HIDUP BERSAMA ALA WAE REBO

Di edisi sebelumnya, Tabloid RUMAH mengajak Anda melihat keriaan dan keharuan saat kami merayakan hari kemerdekaan di Wae Rebo. Kali ini, mari kita tengok bagaimana cara 200 orang masyarakat adat Wae Rebo hidup bersama dalam 7 buah Mbaru Niang.

Rumah - - Arsitektur - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com FOTO RAHMA YULIANTI

Pati gici arit, cingke gici iret ( bagi seadiladilnya, belah dengan sebijaksana mungkin) adalah pepatah Manggarai yang diusung tinggi warga Wae Rebo. Itu sebabnya, kehidupan di sini begitu rukun tanpa banyak riak perselisihan. Paling tidak, itulah yang rombongan kami rasakan selama 3 hari berada di tempat yang kerap dijuluki sebagai negeri di atas awan ini.

Sebelum menjejakkan kaki di bumi Wae Rebo, Yori Antar, arsitek yang memprakarsai pembangunan kembali desa Wae Rebo, sudah menceritakan kepada kami bahwa hanya ada 7 rumah kerucut di sana. Jumlah ini sudah merupakan aturan mendasar dari nenek moyang mereka.

Nah, karena hanya ada 7 buah rumah, hanya keturunan laki-laki dan keluarganya yang bisa tinggal di desa ini. Wanita yang menikah dengan orang di luar Wae Rebo atau anak-anak yang mesti menempuh pendidikan, tinggal di Kombo, desa “kembaran” Wae Rebo.

Di satu rumah, tinggal 6-8 keluarga. Jika masing-masing memiliki 3-4 anggota keluarga saja, dalam satu Mbaru Niang, terdapat sekitar 20-25 orang. Bagaimana mereka bisa hidup berdampingan dengan rukunnya?

Ruang Komunal

Ketika menanyakan hal ini kepada Alexander Ngadus, ketua adat Wae Rebo, beliau tidak menjawabnya dengan kata-kata. Ia malah mempersilakan saya masuk ke rumah yang mana saja, untuk melihat sendiri kehidupan mereka. Tawaran yang tentu tak akan saya sia-siakan.

Saya dan beberapa anggota rombongan masuk ke dalam salah satu Mbaru Niang, yang terletak persis di sebelah Mbaru Tembong. Di Wae Rebo, terdapat 2 jenis rumah tinggal, yakni Mbaru Tembong (Gendang) yang merupakan rumah terbesar dan tersuci, dan Mbaru Niang, yang ditinggali warga kebanyakan. Mbaru Niang berukuran tinggi 11m, dengan diameter berukuran sama, sementara Mbaru Gendang berukuran lebih besar, yakni 15m. Semua rumah ini dibuat menghadap compang, altar batu yang disucikan.

Seperti kebanyakan rumah adat di Indonesia, Mbaru Niang berbentuk panggung dengan kolong setinggi kurang lebih 1m. Menurut Pak Alex, rumah dibuat tinggi karena ada aturan dari leluhur: lantai rumah tak boleh menyentuh tanah.

Begitu masuk ke dalam rumah, terdapat sebuah ruangan terbuka yang luasnya kurang lebih setengah dari luas total Mbaru Niang. Ruangan ini adalah lutur, sebuah ruangan multifungsi. Di sinilah tempat menerima tamu, tempat para penghuni rumah (khususnya lakilaki) bersosialisasi, sekaligus tempat tidur kaum laki-laki yang sudah dewasa. Di Mbaru Gendang, lutur ini berfungsi juga sebagai tempat upacara dan musyawarah.

Setengah bagian rumah lainnya disebut nolang. Area nolang ini terbagi lagi menjadi 2 ruangan: dapur ( sapo) dan ruang tidur ( loang). Ada 5 buah ruang tidur di sana, yang masing-masing dimiliki oleh satu keluarga. Kamar-kamar ini menghadap ke sebuah dapur dengan tungku besar. Ya, dapur mereka memang berada di tengahtengah rumah. Uniknya, walaupun

banyak asap yang keluar dari hasil memasak, saya tak merasa sesak. Ini disebabkan masih adanya selasela kecil di antara struktur atap yang membuat asap bisa menyusup keluar dari rumah. Konon katanya, asap dari dapur yang mengepul ke atas sekaligus berfungsi untuk mengawetkan struktur bangunan.

Di dekat dapur, ada sebilah bambu yang dilubang-lubangi. Ternyata itu adalah sebuah tangga untuk menuju tingkat atas. Mbaru Niang punya 5 tingkat, yang masingmasing punya nama dan fungsi yang berbeda. Tingkat pertama adalah tempat kami masuk tadi, lutur dan

nolang. Di atasnya ada lobo, loteng tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga terdapat

lentar, yang fungsinya menyimpan benih untuk bercocok tanam. Tingkat keempat disebut dengan

lempa rae, tempat menyimpan cadangan makanan. Tingkat terakhir adalah hekang kode, yakni tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.

Masak Bersama

Memang benar kata Pak Alex, untuk menjawab pertanyaan, saya harus melihat sendiri mereka di rumah. Kebersamaan memang amat terasa di rumah yang saya dan rombongan sambangi. Saat itu, tamu datang silih berganti, karena ada Mora, upacara adat yang baru mereka lakukan kembali sejak 365 tahun lalu. Para lakilaki sibuk mempersiapkan acara dan menyambut tamu, sementara para wanita sibuk memasak di dapur sambil sesekali ikut tertawa mendengar obrolan kami. Para wanita tak bergabung bersama kami di lutur, karena memang ada pembagian ruang berdasarkan

gender di Mbaru Niang. Para wanita, areanya adalah nolang, sementara

lutur adalah area para laki-laki dan tamu. Saat berkumpul, para wanita tetap berada di areanya. Pun ketika makan tiba.

Melihat bentuk ruangan yang begitu komunal, kami jadi bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menandai “kepemilikan” mereka, karena area adalah milik bersama. Dapur bersama, tempat penyimpanan pun bersama.

Sugiarto, relawan LSM yang beberapa bulan ini tinggal di sana, menjawab pertanyaan kami. “Masing-masing punya lemari untuk simpan barang-barang keperluan pribadi dan lemari untuk alat masak sendiri. Tapi ada alat masak untuk bersama. Begitu juga soal penyimpanan di lobo. Masingmasing ada kavelingnya sendiri,“tuturnya.

Ia juga menceritakan soal proses memasak warga Wae Rebo. Karena hanya ada satu dapur, mereka selalu memasak bersamasama. Semua makanan dimakan bersama, meskipun ada juga masakan yang memang dimasak hanya untuk keluarga sendiri. “Selama saya tinggal di sini, ndak pernah ada yang namanya rebutan makanan dan barang. Semua sudah tahu mana yang milik dia, milik orang lain, atau milik bersama.”

Ya, memang itu intinya. Semua tau porsinya, semua tahu miliknya, semua dibagi bersama. Sesuatu yang harusnya ditiru oleh seluruh bangsa Indonesia.

Sejak April 2013 hingga Januari 2014, PT Propan Raya mengadakan Sayembara Desain Arsitektur Nusantara untuk para mahasiswa. Sebagai hadiah, 3 pemenang utama diajak ikut dalam perjalanan bertajuk “ArchitecTour: Ekspedisi Keindahan Wae Rebo”, yang dilanjutkan dengan berwisata ke Labuan Bajo, Flores. Dalam rombongan juga terdapat para juri, arsitek, dan desainer. Tabloid RUMAH mendapat undangan untuk turut serta dalam

acara tersebut.

Bentuk Mbaru Niang yang seperti kerucut dengan atap terbuat dari ijuk.

Saat malam tiba, lutur berfungsi sebagai tempat tidur laki-laki dewasa.

Upacara penyambutan yang diadakan di lutur Mbaru Gendang.

Dapur. Di atasnya ada tempat untuk meletakkan peralatan memasak.

Dapur dan ruang-ruang tidur yang ada di salah satu Mbaru Niang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.