RUANG “CURHAT” PARA DESAINER MUDA

Menjadi wadah bagi para desainer muda untuk berbagi pengalaman seputar profesi desainer interior di manapun dan kapan pun, merupakan tugas utama komunitas ini.

Rumah - - Koridor - TEKS MARIA JACLYN jaclyn@tabloidrumah.com

Yang muda yang berkarya. Ungkapan ini seringkali digunakan untuk mendeskripsikan semangat anak muda yang menggebu-gebu dalam mengekspresikan diri. Generasi muda memang ajang mengolah kreativitas dan inovasi diri dalam bidang apapun, termasuk desain interior. Di momen inilah, para desainer interior muda mengumpulkan pengalaman dalam berbagai proyek nyata dan terjun langsung untuk memajukan dunia desain interior di Indonesia.

Adalah YIDI, sebuah komunitas desainer interior Indonesia yang berdiri untuk menampung “unekunek” para generasi muda dalam bidang desain interior. YIDI, yang merupakan singkatan dari Young Interior Designer of Indonesia, menjadi ruang curhat para desainer interior Indonesia untuk saling berkomunikasi, berbagi, dan menjalin hubungan erat, kapanpun, di manapun, dengan media apapun.

Dalam kesempatan kali ini, Tabloid RUMAH mendapatkan kesempatan untuk mengenal komunitas YIDI lebih dekat.

Lahir dari Jejaring Sosial

“YIDI merupakan sebuah komunitas desainer interior yang dibentuk tahun 2008 oleh Bayu Prasetyo, seorang praktisi desain interior, di situs jejaring sosial Facebook,” tutur Gina Havier, Marketing Komunikasi YIDI.

Unik memang, karena tak banyak komunitas yang lahir dari situs jejaring sosial. Namun ini menunjukkan bahwa YIDI memang dibuat dari dan untuk desainer interior generasi muda, yang saat ini telah mengenal sarana komunikasi tanpa batas, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Nilai ini juga yang dibawa menjadi komitmen yang harus dipegang oleh para anggota YIDI, yaitu saling berkomunikasi tanpa batas secara informal, serta terbuka untuk dirangkul oleh semua lapisan masyarakat dan profesi lainnya. Nilai ini jugalah yang dibawa oleh ketua YIDI saat ini, Wandi “Uwa” Krisdian, desainer interior lulusan ITENAS, Bandung, yang juga aktif berorganisasi dalam HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia).

Terbuka untuk Berbagi

Hanya satu syarat yang dibutuhkan untuk menjadi anggota YIDI, yaitu berprofesi sebagai desainer interior muda atau mahasiswa desain interior. Selain itu, tak ada persyaratan lainnya untuk dapat menjadi anggota YIDI. Dengan nyaris tak ada peraturan dan pastinya tak ada iuran ataupun formulir pendaftaran, tak heran YIDI telah memiliki sangat banyak anggota dari seluruh daerah di Indonesia.

“Visi dan Misi YIDI adalah mewadahi kreativitas para desainer interior Indonesia khususnya yang muda untuk maju bersama, berbagi pengalaman, diskusi sehat, dan debat membangun dalam berbagai acara YIDI,” Gina menjelaskan.

Berdasarkan visi dan misi ini, YIDI menyelenggarakan berbagai acara informal dan formal. Acara informal biasanya berbentuk diskusi bersama tentang berbagai topik hangat yang dialami para desainer muda yang masih minim pengalaman, seperti pengalaman profesi, pengalaman berproyek, dan berbagai informasi baru seputar desain interior.

Sedangkan acara yang lebih formal mencakup pameran, diskusi terbuka, dan pasar seni. Salah satu program terbesar yang diselenggarakan YIDI adalah Artefak, yaitu acara pameran sekaligus pasar desain. Pada acara ini, para

Mengubah Persepsi Masyarakat

R E VI A H N I G . K O D desainer interior bisa memamerkan karya mereka dan menjualnya, serta berbagai ilmu kepada pengunjung dan sesama anggota YIDI. Program ini rencananya akan digelar tahunan.

Salah satu hambatan yang banyak dihadapi oleh desainer interior Indonesia, adalah minimnya pengetahuan masyarakat tetang profesi desainer interior itu sendiri. Masyarakat akrab dengan profesi arsitek maupun kontraktor, namun belum cukup familiar dengan lingkup kerja seorang desainer interior. Tak sedikit juga yang menggambarkan desainer interior sebagai dekorator interior.

“Perubahan besar mungkin belum terasa, tapi sedikit demi sedikit YIDI mulai dapat memberikan informasi dan pengetahuan dasar seputar desain interior pada masyarakat luas, seperti perbedaan ‘desainer interior’ dengan ‘dekorator interior’,” ucap Gina.

Sebagai komunitas yang sebagian anggotanya merupakan profesional di bidangnya, YIDI bertugas meluruskan pandangan seperti ini dan memberikan informasi yang lebih akurat ke tengah masyarakat.

Tugas YIDI memang panjang dan tiada akhir, namun harapannya, YIDI dapat menjadi sebuah wadah yang semakin berguna dan dapat memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat dari sisi profesi desainer interior.

“Juga agar YIDI tetap menjadi komunitas yang asyik, berjiwa muda, dan dapat menjadi portal para desainer interior muda untuk berinteraksi, diskusi, berkomunikasi dengan aktif dan sehat,” sambung Gina menutup perbincangan.

YIDI bekerja sama dengan komunitas LUMINTU, mengajak anak-anak membuat robot dari barang bekas pada acara Artefak 2013.

Beberapa produk karya anak bangsa yang ikut serta dalam pameran Artefak.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.