Rumahnya Diangkat!

Jika kita menambah ruang secara vertikal dengan cara membuatnya di atas bangunan rumah, orang Amerika banyak melakukannya dengan cara mengangkat rumah mereka.

Rumah - - Arsitektur - TEKS MARIA JACLYN jaclyn@tabloidrumah.com

Adeline (26) dan John Reimer (31) tinggal di sebuah rumah satu lantai berkonstruksi kayu yang terletak di pesisir danau Monona, Wisconsin, Amerika Serikat. Sayangnya, lokasi yang indah dan nyaman harus dibayar mahal. Saat musim panas, curah hujan tinggi sehingga air danau meluap dan membuat rumah rawan banjir.

Peninggian fondasi beton perlu dilakukan, sehingga mereka pun memutuskan untuk merenovasi rumah dengan sistem house lifting, yaitu “mengangkat” rumah hingga level tertentu untuk meninggikan fondasi, sekaligus menambah lantai.

Bagaimana caranya sistem ini bisa dilakukan? Jawabannya terletak pada konstruksi bangunan yang dirancang khusus sejak awal pembangunan, sehingga bisa menunjang proses house lifting di kemudian hari.

Sistem Konstruksi Terpisah

Secara umum, proses house

lifting atau house raising adalah proses memisahkan bangunan rumah dari fondasi, dengan cara mengangkat rumah tersebut secara sementara. Pengangkatan ini dilakukan menggunakan mesin hidraulis. Proses ini dilakukan dalam rangka menambah ketinggian fondasi beton untuk menghindari banjir, atau menciptakan lantai baru di bawah bangunan rumah yang sudah ada.

Arsitek Marvin P. Dalimartha dari Lawang Studio menjelaskan, sistem seperti ini bisa dilakukan karena kebanyakan orang Amerika membangun rumah dengan sistem konstruksi ringan, dengan menggunakan material besi dan kayu. Beton hanya digunakan sebagai fondasi bangunan, sedangkan kayu dan besi direkatkan ke beton menggunakan baut.

Sistem konstruksi lewat perakitan seperti ini berbeda dengan sistem konstruksi beton di Indonesia yang sifatnya monolitik, yaitu menyatu sebagai kekuatan tunggal. Untuk memisahkannya, beton kolom yang menyatu dengan fondasi harus dihancurkan. Selain itu, lantai di Indonesia ratarata menggunakan slab beton, sehingga tidak bisa diangkat dengan mudah.

Memisahkan Bangunan dan Fondasi

Selama proses berlangsung, bangunan rumah dapat dipindahkan ke tempat lain. Namun jika tidak memungkinkan– misalnya karena tak ada tanah kosong di sekitar lokasi–rumah dapat “diletakkan” di udara. Caranya adalah dengan menyelipkan penyangga besi dan kayu di rongga antara fondasi dan bangunan rumah.

“Sistemnya bertahap, misalnya hari pertama diangkat 6–12 inci (15–30cm), lalu disangga dengan wood cribbing (penyangga kayu berbentuk boks) yang ditaruh di bawah steel beam (balok besi) berbentuk I,” Adeline menjelaskan. Proses ini diulang hingga ketinggian ruang di bawah bangunan cukup.

Selama rumah berada di udara, proses renovasi bisa dilakukan. Jika fondasi beton tambahan mulai kering, rangka kayu atau besi mulai dibangun sesuai pembagian ruangan. Setelah ruangan jadi, bangunan lama diturunkan dan disambung bangunan baru dengan baut. Terakhir, dilakukan pekerjaan interior, pemipaan, kelistrikan, hingga pemasangan dinding dan pengisian furnitur.

Lebih Cepat, Tapi…

Cara seperti ini populer di Amerika karena biaya jasa tukang bangunan yang sangat tinggi, sehingga masyarakat harus mencari alternatif cara renovasi yang praktis dan cepat. Konstruksi dinding kayu dan besi ini populer karena pengerjaannya lebih cepat daripada konstruksi dinding batu bata.

“Kasarnya, untuk membangun satu dinding interior, mereka hanya butuh 1 hari. Hari berikutnya untuk mendempul gipsum dan pengecatan, dengan catatan material sudah tersedia dan tidak ada pipa yang melintang. Sedangkan untuk dinding bata, ada proses pemasangan 1–2 hari, plester 1 hari, dan pengacian. Sebelum dinding dicat, harus menunggu 2 minggu supaya air di dalam dinding habis,” Marvin menjelaskan.

Di Indonesia sendiri, sistem seperti ini banyak ditemukan pada bangunan tradisional, seperti rumah panggung. Serupa tapi tak sama dengan sistem konstruksi di Amerika, pada bangunan tradisional Indonesia, fondasi diletakkan di atas tanah (umpak) dan menopang struktur kayu di atasnya.

Sayangnya, rumah modern di Indonesia tak familiar dengan sistem konstruksi kayu dan besi seperti ini. Beberapa masalah seperti harga kayu yang tinggi, daerah yang rawan rayap, hingga pengetahuan yang kurang, membuat konstruksi kayu dan sistem house lifting tak populer di Indonesia. Hingga saat ini, struktur beton masih menjadi pilihan pertama, terutama jika menyangkut masalah perawatan rumah untuk beberapa tahun ke depannya.

Rumah saat diangkat

ke udara dan disangga blok kayu.

Bangunan baru di lantai bawah telah

dipasang dinding.

Material dinding lantai atas diganti baru sehingga tampilan rumah menyatu.

Rumah sebelum direnovasi.

DOK. ANASTASIA ADELINE

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.