Dari Rumah Budaya Hingga Desa Wisata

Sayembara Desain Arsitektur Nusantara

Rumah - - Propan Arsitektur Nusantara -

Gelaran Sayembara Arsitektur Nusantara 2013 yang digagas PT Propan Raya telah berhasil menghasilkan karya-karya Rumah Budaya yang luar biasa. Dua ratus enam puluh satu karya mahasiswa masuk ke meja dewan juri yang terdiri dari Yori Antar Awal, Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M. Arch, Endy Subijono, Naning Adiwoso, Dharmali Kusumadi, dan Popo Priyatna Danes. Tiga orang yang berhasil menyabet predikat sebagai pemenang utama adalah Raynaldo Theodore, Titus Pandu Wismahaksi, dan Tobias Kea Suksmalana. Yuk, kita simak karya-karya mereka.

123Baruga Tambi

Raynaldo Theodore, Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Rumah Budaya Omah Gunungan

Titus Pandu Wismahaksi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Menitis Tazo

Omah Gunungan dibuat dengan menggabungkan 3 faktor yang dianggap akan menarik masyarakat. Pertama, menghadirkan sarana rekreasi dengan cara menggabungkan kafe dan pelataran kesenian. Sambil makan, pengunjung dapat menikmati pertunjukan budaya, seperti wayang kulit dan tari tradisional. Kedua, edukasi. Masyarakat yang telah terpancing untuk datang ke sini (berkat sarana rekreasi) diajak untuk mempelajari budaya di perpustakaan dan galeri seni. Ketiga, kontemplasi. Di sini, pengunjung diajak “mengalami” dan mendalami ruang dengan melihat view ke arah kota Jogja dan ke arah Gunung Merapi yang sangat alami. Ketiga elemen ini diproses dan dianalogikan ke dalam arsitektur melalui bentuk dan makna Gunungan.

Baruga Tambi yang berarti “Rumah Tempat Musyawarah masyarakat Tambi” merupakan gubahan bentuk dari Tambi, rumah adat masyarakat Lore, Poso, Sulawesi Tengah, yang digabungkan dengan unsur-unsur modern.

Seperti Tambi, Baruga Tambi memiliki bentuk atap segitiga yang sekaligus berfungsi sebagai dinding yang melindungi bagian dalam rumah. Bagian dalam rumah ini terdiri dari satu ruangan besar yang dapat dipakai sebagai ruang serbaguna yang fleksibel. Jika pada rumah asli ruang ini berfungsi sebagai tempat tinggal, pada desain ini ruang besar dapat digunakan sebagai ruang pertemuan, ruang rapat, presentasi, area pertunjukan seni budaya, ataupun ruang pameran non-permanen. Di atas ruang serbaguna ini terdapat mezanin, yang berfungsi sebagai ruang baca ataupun ruang kantor pengelola.

Tobias Kea Suksmalana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Desa Tazo terletak di kecamatan Riung, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Desa Tazo awalnya memiliki rumah adat, namun masuknya budaya Barat membuat rumah adat dianggap tidak sehat, sehingga kemudian ditinggalkan. Kini, muncul keinginan dari masyarakat setempat untuk kembali membangun rumah adatnya. Itu sebabnya, ada kata “menitis” yang berarti “melahirkan kembali” pada karya ini.

Karena tidak ada informasi yang jelas akan bentuk rumah adat suku Tazo, pembuatan desain Balai Budaya dilakukan dengan cara pendugaan, yaitu mencari benang merah antara beberapa rumah adat yang ada di Flores. Balai Budaya Tazo yang terdiri dari tiga lantai ini nantinya akan berfungsi sebagai gerbang masuk ke desa Tazo bagi para wisatawan. Untuk itu ditambahkan akses pejalan kaki langsung dari jalan raya menuju penerima tamu yang merupakan bekas salah satu rumah warga.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.