Membingkai Beragam Gaya dalam Ruang

Dengan cerdas, sang arsitek ”membingkai” selera penghuni yang terdiri dari berbagai gaya dengan konsep modern di dalam ruangan.

Rumah - - Rumah Kita - TEKS MARIA JACLYN jaclyn@tabloidrumah.com

Istilah “modern” selalu aktual pada masanya. Masing-masing masa memiliki karakteristik yang timbul karena gaya hidup, aktivitas, dan kebiasaan masyarakatnya. Gaya hidup modern yang dapat mewakili kehidupan masyarakat saat ini adalah yang praktis, efisien, dan tetap dapat mewakili selera sang pemilik rumah.

Konsep inilah yang secara garis besar diterapkan pada hunian yang terletak tak jauh dari jalan utama dan hiruk-pikuk ibukota ini. Awalnya tinggal di apartemen, pemilik pun telah terbiasa dengan gaya hidup efisien. Tak lupa, kesukaannya akan suasana ruangan yang remang, barang antik, dan desain yang luas, haruslah tercermin di dalam rumah. Oleh sang desainer, permintaan ini diwujudkan dengan cara yang cerdas.

Konsep Bingkai Modern

Menurut Gregorius Don Pieto, Principal Architect DP+HS Architects, sang pemilik rumah memiliki selera yang sangat luas–dari tradisional hingga modern, dari tampilan sederhana hingga rumit, yang jika salah diaplikasikan di dalam ruangan, bisa membuat kesan “tabrakan” yang kurang serasi.

Untuk mengatasi hal ini, Pieto membuat konsep “bingkai modern” pada fisik bangunan, kemudian mengisi “bingkai” tersebut dengan beragam gaya desain yang disukai pemilik rumah. Bangunan dibuat berpola simetris, simpel, dan minim ornamen, sehingga dapat menjadi wadah bagi gaya desain apapun yang hendak dibawa oleh pemilik rumah.

Berkat aplikasi yang cerdas ini, pemilik dapat membawa jejak sejarah dari tempat tinggal lamanya ke hunian barunya ini. Beberapa furnitur lama seperti lampu gantung, kursi, pernik, dan lukisan, dimasukkan ke dalam ruangan bernuansa modern ini, lalu di- highlight dengan penataan lighting yang cermat.

Untuk menjembatani perbedaan gaya desain ini, sebagian material dan warna menggunakan konsep opposite (kebalikan), yang mencerminkan selera desain pemilik yang variatif. Halus dipadukan dengan kasar, polos dengan motif, dan cerah dengan gelap. Masing-masing elemen dipasang berdampingan agar tampak serasi.

Program Ruang Optimal

Pemrograman ruang yang optimal adalah salah satu langkah yang diutamakan arsitek dalam merancang rumah ini, untuk mengatasi area yang terbatas. Selain itu, sirkulasi udara dan cahaya alami yang maksimal juga diatur tak kalah cermat agar kesehatan ruangan tetap terjaga.

Pintu masuk rumah ini dibuat menjadi koridor kecil, yang menerus ke ruang keluarga dan ruang makan, hingga ruang terbuka di sudut belakang rumah. Pieto menjelaskan, pengaturan ini dibuat untuk memicu sirkulasi udara dengan sistem ventilasi silang pada siang hari.

Partisi juga menjadi salah satu elemen yang digunakan untuk membatasi ruangan. Contohnya adalah panel geser dari metal

cutting, yang digunakan sebagai pembantas di antara ruang keluarga dan ruang makan. Selain menciptakan privasi antarruang, partisi ini pun hadir memikat sebagai latar belakang di ruang tamu, serta menjadi titik fokus dari kedua ruangan ini.

Ruang di lantai 2 lebih bersifat semi-privat hingga privat, seperti ruang perpustakaan, ruang doa, ruang hobi, dan ruang tidur utama. Ruang tidur utama didesain dengan suasana gelap beraksen panel cermin, untuk membantu memperbesar ruangan secara visual. Sebagian panel cermin ini pun difungsikan sebagai pintu lipat yang menyembunyikan walk-in closet dan kamar mandi.

Komunikasi yang Lancar

“Tugas kami sebagai desainer adalah membantu mengarahkan pemilik ke dalam koridor desain kami, tanpa membatasi imajinasi dan selera pemilik itu sendiri,” tutur Pieto.

Berdasarkan prinsip ini, arsitek berusaha menjalin komunikasi yang terbaik dengan pemilik rumah, agar dapat sepenuhnya mewujudkan kebutuhan dan selera sang pemilik. Salah satunya, terlihat dalam pemilihan konsep pencahayaan yang cenderung hangat dan remangremang, berdasarkan permintaan pemilik rumah.

Salah satu wujudnya dapat dilihat di area tangga, di mana arsitek menempatkan sumber utama cahaya alami dalam bentuk

skylight besar dari kaca laminated. Sementara itu, ruang keluarga dan ruang makan tidak diberikan sumber cahaya lainnya.

“Dengan strategi ini, kami menjaga ruang keluarga dan ruang makan dalam suasana yang relatif remang, namun dengan cahaya alami masih masuk secara tidak langsung, sehingga ruangan tetap terang di siang hari,” Pieto menjelaskan.

Selain dalam segi pencahayaan, pemilik juga banyak mengambil peran dalam mengisi interior rumah. Sofa, bantal, meja makan, nuansa warna, dan berbagai pernik hiasan, merupakan hasil dari diskusi yang teliti dan intens antara pemilik rumah dan arsitek. Hasil dari kerja sama yang baik ini membuahkan kepuasan maksimal dari segi estetika dan kontrol anggaran.

DOK. DP+HS ARCHITECTS, MARIO WIBOWO PHOTOGRAPHY

Partisi semi-masif membatasi ruang keluarga dan ruang makan, sehingga meski terpisah, kedua area ini tetap terasa menyatu.

Foyer dibuat simpel dan berbentuk lorong, sehingga orang yang masuk dipersiapkan untuk menuju ruang keluarga.

Dinding ruang tidur diisi cermin untuk menghadirkan refleksi ruangan yang lebih luas. Cahaya temaram memberikan kepuasan bagi selera penghuni.

Meja makan dari kayu solid ini dipilih dari hasil diskusi intens pemilik rumah dan arsitek. Tekstur kayu ini memberikan sentuhan alami di ruangan bernuansa modern.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.