Pilih Marun yang Melapangkan Hati

Beberapa keuntungan bisa dinikmati sang pemilik rumah ini berkat perencanaan interior yang matang, bahkan sejak rumah ini belum selesai dibangun.

Rumah - - Rumah Kita - TEKS PUSPITA DEWI dewi@tabloidrumah.com FOTO TAN RAHARDIAN LUAS TANAH: 98M² LUAS BANGUNAN: 84M²

Langsung terasa ada yang berbeda begitu kaki memijak lantai, memasuki rumah ini. Sejauh mata memandang, warna marun terlihat mengisi berbagai elemen pengisi rumah. Dinding, gorden, karpet, sofa, hingga bunga artifisial tampil menawan dalam sapuan warna marun. Warna favorit Tutut (39) yang bernama lengkap Yenny Hastuti ini terbukti mampu melapangkan hatinya yang

kadang kala ciut bercampur kesal menghadapi kemacetan jalan di Jakarta. Di sinilah makna sebuah rumah ditemukannya.

Tanpa bantuan desainer, Tutut menata sendiri interiornya. Uniknya, berbagai elemen pengisi rumah, misalnya furnitur, pelapis dinding, hingga gorden dan pernik-pernik dipersiapkannya semenjak rumah ini masih dalam tahap pengerjaan oleh pengembang. Selain membeli jadi, Tutut yang lulusan Arsitektur Universitas Bung Hatta, Padang, juga merancang sendiri lemari di dapur dan kamarnya.

Menjelang menempati rumah ini, Tutut langsung menempatkan semua benda yang telah dipersiapkannya. “Jadi seperti main

puzzle. Saya tinggal ‘ plek-plek’, pasang ini dan pasang itu sesuai dengan rencana saya,” kata Tutut mengenang. Pertama-tama yang dipasang adalah wallcover dan gorden, lalu berikutnya mengisi furnitur dan pernik-perniknya.

Keseimbangan Komposisi

Membeli rumah dalam keadaan belum dibangun ternyata juga membawa keuntungan bagi Tutut, yaitu ia bisa meminta perubahan fungsi ruang. Ruang tidur di lantai bawah diganti menjadi ruang tamu sehingga tidak diperlukan dinding penutup ruang. Dengan demikian ruang pun terlihat lapang. Lagi pula, menurutnya, ruang tidur sebaiknya berada di lantai atas agar lebih tenang dan terjaga privasinya.

Tutut memegang prinsip keseimbangan warna, corak, dan tekstur pada sebuah ruang. Ia memilih Wallcover bercorak floral warna marun dipadukan dengan marun polos dan krem. Selain terasa lebih lapang, ini juga memudahkannya dalam menata furnitur dan pernik-pernik yang melengkapinya. Contohnya, ruang tamu yang dindingnya dilapis

wallcover polos warna marun, furniturnya berupa sofa dibalut kulit sintetis yang teksturnya membentuk garis diagonal. Sedangkan pada sisi yang lain, dinding dilapis wallcover yang bercorak floral.

Ada “keuntungan” lain yang dinikmati Tutut semenjak menempati rumah ini. Kaveling di depan rumahnya hingga saat ini belum dibangun oleh pengembang. Nah, tanah di depan rumahnya ini

membuat pandangan dari dalam rumah menjadi lapang karena tak terhalang bangunan. “Angin dari tanah terbuka itu membuat rumah lebih adem,” kata Ibu dari Daffa (7) dan Dirsha (6) menjelaskan. Itulah sebabnya Tutut paling suka duduk di ruang makan. Di sini ia bisa menikmati taman depan rumah dan juga taman belakang.

Taman yang Senada dengan Interior

Terbayangkah Anda bahwa dari interior sebuah rumah bisa menjadi ide sebuah taman? Inilah yang terwujud pada dua taman di rumah ini. Perempuan yang bekerja pada salah satu televisi swasta ini seolah merekam bentuk dan warna pada interiornya ke dalam satu pola. Namun, ia menyadari, bukanlah hal yang mudah untuk mengaplikasikannya pada taman agar tampilannya menyatu dengan interiornya.

Adalah Andie dari X-otic Garden, sahabatnya yang kebetulan juga satu almamater yang diingatnya untuk mewujudkan keinginannya itu. Menurut Andie, interior di rumah Tutut sangat menarik untuk “dikulik” sehingga ia tertantang untuk mewujudkannya. Wallcover, bunga mawar artifisial, dan sofa yang bertekstur tak luput dari pengamatannya. Itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam konsep taman kering. Hasilnya, taman yang dilengkapi dengan

sculpture mawar merekah dengan latar belakang dinding kamprot bertekstur garis-garis diagonal

− mirip dengan tekstur kain sofa− menghiasi taman belakang. Antara interior dan eksterior pun terasa ada kesinambungan tema.

Mengganti beberapa furnitur, karpet, dan hiasan dinding, merupakan cara Tutut menjadikan rumah ini tidak membosankan. “Puas rasanya mengekspresikan selera di rumah sendiri,” kata Tutut menutup perbincangan.

Di sinilah ruang favorit Tutut karena di sini ia dapat melihat taman depan dan taman belakang yang konsepnya menyatu dengan interior.

Di rumah mungil ini, keluarga kecil Tutut tidak merasakan sempit karena penataan ruang yang pas. Tutut juga merasakan ada energi positif yang mengalir berkat warna marun yang dipilihnya.

Warna, corak, dan tekstur diolah secara seimbang di ruang ini. Karena wallcover yang melapisi dinding dipilih warna marun polos maka tekstur yang ada pada sofa terlihat menonjol. Demikian juga corak pada karpet dan lukisan menjadi hidup.

Untuk ruang istirahat, warna hijau dan cokelat mampu memberi ketenangan. Ruang penyimpanan yang maksimal dengan lapis cermin membuat ruang terjaga kerapiannya dan terlihat luas.

Kamar Dirsha dan Daffa menjadi tempat bermain dan belajar yang menyenangkan.

Wallcover warna cokelat membuat area tangga lebih terang, dipadu dengan motif floral sebagai aksen pada dinding panjang.

Taman mungil dan lantai carport yang berpola membuat wajah rumah lebih menarik.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.