BERMODAL RP9 JUTA, HASILKAN 10.000 TANAMAN

Di sela-sela kesibukan rutinnya sebagai pengajar di Fakultas Kehutanan IPB, pria ini masih menyediakan waktunya memberi pelatihan kultur jaringan. Semua itu ia lakukan agar masyarakat umum bisa mengenal dan memanfatkan teknologi ini sebagai alternatif mem

Rumah - - Profil - TEKS HOTMIAN SIAHAAN hotmian@tabloidrumah.com FOTO HOTMIAN SIAHAAN EDHI SANDRA

Bagi kalangan yang bergerak dalam dunia kultur jaringan, nama Edhi Sandra mungkin sudah tidak asing lagi. Pasalnya, selama 10 tahun terakhir, bapak dari 3 orang anak ini konsisten mengemban misi memasyarakatkan kultur jaringan. Kultur jaringan ( tissue culture) adalah teknik memperbanyak tanaman dengan cara mengisolasi sel/jaringannya dan menumbuhkannya dalam media buatan.

Guna mendukung misinya, Edhi—begitu ia biasa disapa—bahkan rela memfungsikan 2 dari 4 rumah tipe 21 yang dimilikinya sebagai laboratorium kultur jaringan. Di laboratoriumnya yang sederhana itulah, ia konsisten mengkultur berbagai jenis tanaman, mulai dari tanaman hias hingga tanaman hutan berkayu, seperti mahoni.

Sarana untuk Berbisnis

Bukan tanpa alasan Edhi, yang berprofesi sebagai pengajar pada Fakultas Kehutanan IPB ini, terpanggil untuk menularkan pengetahuan kultur jaringan yang dimilikinya. Ia melihat bahwa teknologi ini dapat memberi manfaat yang besar bagi masyarakat. Karenanya, ia berharap kultur jaringan tidak hanya bisa dilakukan oleh anak didiknya di kampus, tetapi juga masyarakat yang tak berkesempatan menempuh pendidikan formal.

Selain menambah pengetahuan, teknologi ini juga bisa digunakan sebagai alat untuk berbisnis tanaman hias. Misalnya membuat kultur jaringan tanaman anggrek dan menjual bibitnya ke nurserynursery. Saat ini, bibit tanaman kehutanan hasil kultur jaringan seperti jati dan mahoni, juga masih dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain itu, botolbotol kultur yang berisi bibit tanaman, juga bisa dijadikan suvenir untuk acara ulang tahun atau pesta perkawinan.

Skala Rumah Tangga

Agar bisa diterima dan diaplikasikan oleh masyarakat awam, Edhi melakukan beberapa modifikasi pada kultur jaringan versinya. Dengan demikian teknologi ini bisa dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan ruangan rumah. Biaya yang dibutuhkan juga menjadi lebih murah. Menurutnya, dengan modal Rp9 juta, masyarakat sudah bisa membuat laboratorium kultur jaringan kapasitas 1.000 kultur (500 botol tanaman) di rumahnya. Untuk tanaman anggrek, 1 botol bisa berisi 20-30 tanaman. Dalam 9 bulan setelah proses inisiasi tanaman bisa dijual ke nursery dengan harga Rp50.000 per botol. Ini berarti, dari 1.000 kultur bisa menghasilkan menghasilkan Rp25 juta dalam waktu 9 bulan.

Ini tentu berbeda dengan kultur jaringan yang biasa dijumpai di laboratorium instansi dan perguruan tinggi. Di sini, kultur jaringan biasanya identik dengan sebuah laboratorium yang besar, dipenuhi dengan peralatan berteknologi tinggi dan serbasteril. Dibutuhkan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk mewujudkannya.

Memberi Pelatihan

Ada banyak cara yang Edhi lakukan untuk memasyarakatkan kultur jaringan. Salah satunya adalah memberi pelatihan melalui usaha Esha Flora, yang didirikan oleh istrinya, Hapsiati. Program pelatihan ini ia rintis bersama istrinya sejak tahun 2004.

Program pelatihan yang diberikannya terbuka untuk umum, baik yang sudah mengenal kultur jaringan maupun masyarakat awam. Oleh karena itu, metode pelatihannya lebih ditekankan pada praktik. “Enam puluh hingga tujuh puluh persen praktik, sisanya diskusi,” ujarnya.

Meski ia disibukkan oleh aktivitas memberi pelatihan, hal itu tidak mengganggu tugas utamanya sebagai pengajar. Hingga saat ini, ia tetap melaksanakan kesibukan rutinnya sebagai dosen IPB, Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan.

Tak hanya melalui pelatihan, misi memasyarakatkan kultur jaringan skala rumah tangga juga dilakukan Edhi melalui media sosial, seperti blog dan website. Selain itu, ia pun telah menulis beberapa buku yang berkaitan dengan kultur jaringan, salah satunya adalah ”Kultur Jaringan Anggrek Skala Rumah Tangga.”

SELSELAIN MENAMBAH PENGETAHUAN, TEKNOLOGI INI JUGA BISA DIGUNAKAN SEBAGAI ALAT UNTUK BERBISNIS SNIS TANAMAN HIAS.IAS.

Istri Edhi Sandra, Hapsiati, ikut berperan dalam memberi pelatihan kultur jaringan pada masyarakat.

Memberi pelathian merupakan salah satu cara Edhi untuk memasyarakatkan teknologi kultur jaringan.

Botol-botol kultur yang berisi tanaman bisa dijadikan cindera mata yang menarik, dengan harga kira-kira Rp10.000/botol.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.