Agar Tak Tergusur, Cek Status Kepemilikan Apartemen Anda!

Harga murah, lokasi strategis, dan punya banyak fasilitas bersama, tak bisa jadi jaminan “aman” memiliki unit apartemen sepenuhnya. Status kepemilikan menjadi satu hal krusial yang harus Anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk membelinya.

Rumah - - Properti - TEKS FOTO CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com DEVY ANANTYA

Dahi Joe (34) berkerut ketika ditanya perihal Sertifikat Hak Milik unit apartemennya, atau yang biasa disebut strata title. Penghuni salah satu apartemen bersubsidi di Jakarta Utara ini mengaku tak kunjung mendapatkan strata title. Pasalnya, Joe sudah membeli unit tersebut selama 7 tahun. Dalam kurun waktu yang relatif lama, pihak pengembang apartemen selalu menunda keluarnya sertifikat penting tersebut. APARTEMEN ROYAL MEDITERANIA

GARDEN, SLIPI, JAKARTA BARAT

“Janji awalnya, sih, tahun depan. Lama kelamaan, janji tinggal janji. Sertifikatnya enggak keluarkeluar,” ujar Joe mengungkapkan keluhan. Akibatnya, menurut Joe, bila ia ingin menjual unit apartemen tersebut ke pihak kedua, ia harus rela bila sang pembeli menahan sejumlah uang, hingga strata title terbit, agar bisa balik nama.

Tak hanya seputar strata title yang tak kunjung terbit, terdapat pula beberapa pengembang “nakal” yang menyembunyikan status asli tanah yang akan dibangun apartemen di awal proses penawaran unit.

Membuka lembaran lama, kira-kira di tahun 2006 lampau, terdapat contoh kasus yang sempat menggemparkan, khususnya bagi masyarakat yang melirik apartemen sebagai calon huniannya.

Kala itu, konflik terjadi antara pengembang Apartemen Mangga Dua Court—yang terdapat di Jakarta Utara—dengan penghuni apartemen. Penyebabnya, pihak pengembang diduga menyembunyikan status tanah, yang sebenarnya merupakan Hak Guna Bangunan (HGB) atas Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Para penghuni merasa tertipu, mengira selama ini bangunan yang telah dihuni bersama itu berstatus HGB murni.

Hal itu terungkap, ketika perhimpunan penghuninya telah membayar biaya perpanjangan HGB, namun sertifikatnya dicoret dan dibatalkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Alasannya, tanah yang selama ini disinyalir memiliki HGB murni, ternyata merupakan HGB di atas HPL, ketika dicek ulang.

Memang, kian hari, sengketa properti—khususnya pada hunian vertikal—semakin marak, tapi seperti tak memiliki solusi. Status kepemilikan apartemen, salah satunya, pernah menempati kasus sengketa properti dengan keluhan terbanyak di tahun 2012.

Tak heran. Hunian vertikal masih menjadi “barang baru” di tanah air. Informasi seputar status kepemilikan masih simpang siur. Begitu pula dengan perilaku beberapa pengembang “nakal” yang menyimpang dari regulasi. Alih-alih menjadi “rumah” nyaman, hunian vertikal yang telah Anda miliki pun terasa seperti kontrakan.

Melirik hal ini, tentu saja status kepemilikan tak boleh disepelekan, baik itu status hak tanah, ataupun dokumen-dokumen penting yang menjadi bukti kepemilikan sebuah unit apartemen. Tak ingin sewaktuwaktu Anda diusir dari hunian yang telah Anda perjuangkan, bukan?

Perjalanan Sertifikat Hak Milik

Status kepemilikan ini bermula dari status tanah tempat apartemen tersebut berdiri. Di Indonesia, bangunan-bangunan komersial biasanya memiliki status Hak Guna Bangunan (HGB). HGB induk ini menjadi “ibu” dari lahirnya sertifikat

LOKASI

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.