Gereja yang Bernyanyi dan Menari

Rumah - - Arsitektur - TEKS MARIA JACLYN jaclyn@tabloidrumah.com FOTO TAN RAHARDIAN

Modern, berirama, dan dinamis. Gedung Favour@Central bagaikan alunan nada indah yang menyentuh emosi lewat gubahan interior bangunan yang sarat makna. Sang arsitek, Samuel A. Budiono, mengimplementasikan bait-bait Injil Alkitab ke dalam detail interior bangunan dengan cara yang cerdas dan inovatif.

“Semua diciptakan berdasarkan konsep. Setiap detail ada karena suatu alasan,” tutur Samuel.

Implementasi ini dapat dirasakan sejak memasuki bangunan gereja yang terletak di kompleks Central Park, Jakarta, ini. Menjejakkan kaki di lantai gereja, angin lembut membelai kulit, serasa lantai yang dipijak berubah menjadi rerumputan di tengah hutan rimbun. Urban forest church, itulah konsep yang diusung oleh sang maestro arsitek.

Rangkaian ranting putih yang sekaligus menjadi partisi semimasif, berperan sebagai “gerbang masuk” ke dalam ruangan gereja. Di ruangan ini, terdapat sebuah sangkar besar yang tampak melayang di tengah ruang, menyerupai bejana yang melambangkan proses pembentukan manusia. Sarat dengan nilai religius, foyer ini menghantar pengunjung memasuki aula dengan kepasrahan diri seutuhnya.

Berada di dalam aula, singing and dancing wall (dinding yang bernyanyi dan menari, red.) merupakan daya tarik utama yang segera menyita perhatian. Sebagian karena dinding ini membentang sepanjang aula, sebagian lagi karena desainnya sangat unik dan atraktif. Permainan metal dan rotan serta gelombang cahaya dari lampu LED berbagai warna menciptakan irama lembut yang hening namun mencekam. Dinding menari ini menjadi focal point di dalam ruangan. Keberadaannya yang kuat terasa bagaikan pelindung bisu yang menyimpan kekuatan besar.

Minimnya bukaan pada dinding ruangan pun merupakan konsep yang dipertimbangkan saksama oleh Samuel. Ia menciptakan sebuah jendela tunggal yang terletak di sisi panggung besar, sebagai media masuknya sinar matahari yang menerus ke jendela belakang, sebagai perwujudan nyata Light of The World, yang dalam Alkitab melambangkan “Tuhan Penerang Dunia”.

Kursi yang berlainan warna secara kontras pun memiliki arti tersendiri. Hitam, abu-abu, dan oranye menjadi ilusi bagi mata untuk menciptakan kesan ruangan yang penuh secara psikologis. Samuel memiliki hasrat yang kuat untuk menyebarkan Injil kepada pengunjung lewat sisi arsitektur yang abstrak dan artistik. Karyanya ini menjadikan Favour@Central sebagai rumah ibadah yang menawarkan pengalaman syukur, persaudaraan, dan spiritual secara menyeluruh.

Samuel A. Budiono, sang arsitek, duduk di tengah aula rancangannya, berlatarkan singing and dancing all.

Aula lobi dengan warna natural menghadirkan persepsi seakan berada di dalam hutan, dalam suasana yang sepenuhnya modern.

Permainan cahaya lampu LED pada

permukaan rotan.

Ada alasan di balik bentuk dinding bertumpuk, yaitu pengolahan akustik yang sangat cermat dalam mendukung berbagai aktivitas di aula ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.