Beralih dari kesenian yang kental akan unsur politik, stensil kini mulai menjadi salah satu teknik untuk menghias interior, khususnya interior hunian.

Rumah - - Interior - TEKS CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com FOTO TEDDY YUNANTHA

Apakah Anda familiar dengan pemandangan ini? Dinding abu-abu di belakang gedung, ditutupi oleh tulisan-tulisan berisi protes pada pemerintah dan kasus sosial masyarakat. Hanya, berbeda dengan kegiatan vandalisme—yang biasanya hanya menorehkan cat semprot secara asal-asalan—tulisan-tulisan ini dibuat presisi. Dibuat berkonsep. Tak jarang, gambar-gambar tokoh penting pun dipoleskan di sana.

Ya, seni jalanan ini biasanya disebut dengan seni stensil. Secara pengertian, stensil merupakan alat untuk merekam gambar dan tulisan. Biasanya, alat ini dibuat dari lembaran tipis seperti kertas, plastik, kayu, atau logam. Di dalamnya terdapat rongga-rongga yang telah dibentuk sebelumnya, sesuai dengan gambar atau tulisan yang akan dibuat pada media stensilnya. Bisa dinding, bisa bantal, bisa juga lantai.

Memang, ada yang mencibirnya, menganggapnya sebagai kesenian yang murahan. Ada yang melihatnya sebagai tindak vandalisme, ilegal, dan perusak fasilitas umum. Ada juga yang memandangnya sebagai perilaku kriminal dan bersifat “kumuh”.

Padahal, jika melihat sejarahnya, seni jalanan ini memiliki filosofi yang lebih mendalam, dari anggapan miring tersebut. Bahkan kini seni stensil mulai menjadi alternatif aksen dekoratif di rumah.

Sejarah Seni Stensil

Sama halnya dengan seni lukis dinding, atau biasa disebut mural, seni stensil sebenarnya sudah ditemukan sejak zaman prasejarah. Salah satu buktinya adalah karya stensil tangan yang ditemukan di bebatuan Karst Maros, Sulawesi Selatan. Karya stensil tangan tersebut diperkirakan sudah ada sejak 40.000 tahun lalu.

Sesuai perkembangannya, teknik stensil ini mulai menapaki popularitasnya di Perancis, sejak tahun 1920-an. Kala itu, teknik stensil disebut dengan teknik pochoir. Teknik ini digunakan untuk mencetak bentuk dan warna yang sama, selama berulang kali, ke berbagai media, khususnya sebagai aksen di dinding.

Bahkan, ternyata, teknik ini berkaitan dengan penggayaan Art Nouveau dan Art Deco, dua gaya arsitektur paling berpengaruh di benua Eropa saat itu. Secara sejarah, teknik stensil pun memiliki kegunaan lain, salah satunya mencetak corak dan motif pada kain.

Stensil mulai dikenal sebagai salah satu bagian dari seni jalanan, sejak tahun 1960-an. Pada tahun 1968, John Fekner, seorang seniman stensil yang lahir di New York, Amerika Serikat, menjadi salah satu sosok pertama yang menerapkan seni stensil ini di jalanan. Karya bertuliskan “Wheels Over Indian Trails” ini dibuat di Pulaski Bridge Queens Tunnel Midtown, New York.

Sama halnya dengan seni jalanan lain, seni stensil ini pun merupakan salah satu aksi seniman untuk meluapkan aspirasi terhadap

kehidupan sosial dan politik setempat.

Biasanya, para seniman—yang sebagian besar menyembunyikan nama aslinya—menerapkan seni stensil ini di dinding-dinding fasilitas umum, ruang publik, dan gedunggedung tepi jalan. Tak heran, banyak yang mengkategorikan seni stensil sebagai sebuah aksi ilegal dan kriminal. Salah satu seniman stensil yang “bersinar” dan tetap anonim hingga detik ini adalah Banksy.

Menjadi “Wabah” Dekorasi di Rumah

Kini, seni stensil tak hanya dikenal sebagai seni jalanan. Tak lagi menjadi kesenian yang ilegal. Merebaknya konsep urban dan industrial di dunia interior, membuat seni stensil mulai merambah ke dalam hunian. Biasanya, seni stensil ini digunakan untuk memberi aksen dan kesan dekoratif ke dalam ruangan di rumah tersebut. Bahkan, medianya pun semakin beragam. Bukan cuma dinding yang bisa dipoles oleh seni stensil. Bantal, tirai, bahkan meja, bisa menjadi medianya.

Bedanya, seni stensil di rumah tak “setajam” konsep yang berada di jalanan. Jika biasanya, stensil jalanan lebih mengangkat perihal politik, kritik sosial, serta kasuskasus yang muncul di masyarakat, maka teknik stensil diadaptasi dengan konsep yang lebih homy, mengangkat kalimat pepatah tentang keluarga dan rumah.

Tak hanya seputar pepatah dan kalimat inspiratif, Anda pun bisa menerapkan seni stensil dengan gambar-gambar kreatif, seperti gambar piring di meja, ilustrasi cangkir di lantai, ataupun gambar dedaunan di bantal duduk.

LOKASI KEDIAMAN NURI - BOIM, BOJONGKONENG, BANDUNG, JAWA BARAT

DESAINER UNKL347

Teknik stensil tak hanya bisa diaplikasikan di dinding. Meja, bantal, dan beragam elemen lainnya bisa menjadi media tepat

bagi teknik ini.

LOKASI RUKAN TAMAN ARIES BLOK E1-5, MERUYA, JAKARTA BARAT FOTO SHINTA MELIZA

Kini, teknik stensil banyak digunakan di interior hunian dan ruang publik.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.