MENJADI “ARSITEK” DARI BALIK LENSA KAMERA

Kiprahnya dalam dunia fotografi masih terbilang baru. Namun siapa sangka dalam 2 tahun ia bisa membidik hampir 100 proyek arsitektur-interior dengan lensa kameranya?

Rumah - - Profil - TEKS MARIA JACLYN jaclyn@tabloidrumah.com

Bagi Mario Wibowo, teman adalah salah satu alasan terbesarnya mengenal dunia fotografi. Tumbuh besar dengan hobi menggambar, ia pun tak pernah berpikir untuk menjadi fotografer seperti saat ini. Arsitektur menjadi dunia yang masuk akal untuk dijalaninya. Namun pergaulannya dengan sesama arsitek, justru telah membukakan jalan kariernya di dalam dunia fotografi.

Seiring dengan jatuh-bangun yang dialami, ia pun merealisasikan yang dikatakan kartunis Walt Disney: dreams are forever. Mimpi tak mengenal batas waktu, usia, dan pendidikan. Saat ini, Mario perlahan tapi pasti mewujudkan mimpinya berkeliling dunia sambil meninggalkan jejak dalam dunia fotografi arsitektur-interior di Indonesia hingga mancanegara.

Penikmat, Bukan Perancang

Tak lama setelah menjalani pendidikan sarjana di Teknik Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta, Mario menyadari bahwa passionnya tak terletak dalam dunia perancangan arsitektur. Namun ia tak melepaskan ilmu yang telah didalaminya begitu saja. Lulus kuliah, pria kelahiran Jakarta ini pun sempat terjun ke dalam dunia perancangan selama kurang-lebih 7 tahun.

“Semua saya coba, dari menjadi kontraktor, konsultan, hingga desainer furnitur. Dari kerja sama orang, hingga kerja sendiri,” tuturnya. Ia pun tahu, penikmat tak sama dengan perancang. Apalagi arsitektur membutuhkan hasrat, kecintaan, dan integritas yang tinggi untuk dijalani.

Sebuah kesempatan untuk bekerja di Singapura pada tahun 2007 tak dilewatkannya begitu saja. Masih menjalankan kariernya dalam industri arsitektur, Mario menemukan hobi baru yang menyenangkan setelah ia berhasil membeli kamera pertamanya dari hasil jerih payah bekerja. Saat itu, tak pernah disadarinya bahwa kado kecil untuk dirinya inilah yang akan membawanya mendekati impiannya berkeliling dunia.

Sempat Tersendat

Meski kamera telah berada dalam genggaman, mendalami dunia fotografi bagi Mario tidaklah semudah membalik telapak tangan. Setelah belajar autodidak dan menggunakan kameranya untuk membidik aktivitas teman-teman saat berkumpul bersama, Mario pun sempat merasa jenuh karena perkembangannya tersendat.

Selama setengah tahun berikutnya, kameranya lebih sering berada di rumah dan sesaat terlupakan, hingga pada suatu ketika hasrat untuk mendalami dunia fotografi muncul kembali. Untuk meningkatkan kemampuannya, Mario mengambil kursus fotografi yang dilakukannya sepulang kerja.

“Ternyata kalau dijalani dengan benar, hasilnya bisa bagus juga!” Pemikiran inilah yang kembali membentuk minatnya dalam dunia fotografi. Sekitar 2 kali dalam seminggu, ia membawa serta kamera dan tripodnya ke kantor, sehingga bisa digunakan untuk hunting foto selepas bekerja.

Bermula dari memotret Singapore Botanical Garden, Mario mulai beralih memotret suasana kota dan bangunan-bangunan di Singapura. Di sinilah portofolio fotografi arsitektur-interiornya terbentuk.

DALAM MEMOTRET KARYA INTERIOR— ARSITEKTUR, SAYA HARUS BISA MENYAMPAIKAN CERITA DARI BANGUNAN ITU. BERBACKGROUND ARSITEKTUR MEMUDAHKAN SAYA MEMAHAMI INI.

Sepenuhnya Pindah Haluan

Setelah bekerja kurang-lebih 3 tahun di Negeri Singa, pada tahun 2010 Mario kembali ke tanah air dan membuka biro konsultan arsitekturnya sendiri. Sesekali ia memotret untuk acara pernikahan atau foto keluarga. Perlahan tapi pasti, justru usaha fotografi inilah yang semakin berkembang.

Tahun 2012 menjadi tahun penentuan karier pria berusia 35 tahun ini, baik dalam dunia arsitektur maupun fotografi. Di tahun inilah, Mario memutuskan untuk sepenuhnya meninggalkan industri arsitektur untuk menekuni dunia fotografi.

Untuk semakin memantapkan kariernya di bidang fotografi, Mario pun menggaet gelar dari Associate of The Royal Photographic Society, Inggris, sebuah lembaga fotografi bergengsi yang telah diakui di seluruh dunia.

Sambil memberi kursus di studionya yang terletak di daerah Kelapa Gading, Jakarta, Mario pun mengembangkan sayap usahanya di bawah bendera Mario Wibowo Photography.

Kembali ke Arsitektur Lewat Kamera

Kecintaannya pada arsitektur rupanya berhasil membawa Mario kembali ke dunia yang tak asing ini. Kali ini, Mario tak menikmatinya di belakang meja gambar, melainkan di balik lensa kameranya. Setelah dipercaya oleh teman arsiteknya untuk mengabadikan rancangannya, nama Mario sebagai fotografer arsitektur─interior semakin terkenal.

Diakuinya, memotret bangunan tak sama dengan memotret makhluk hidup. Namun profesi sebagai arsitek dan pengalaman memotret bangunan di Singapura, memudahkan Mario untuk memahami keinginan klien, yang notabene berprofesi sebagai arsitek dan desainer interior.

“Dalam memotret karya interior arsitektur, saya harus bisa menyampaikan cerita dari bangunan itu. Ber- background arsitektur memudahkan saya memahami ini,” Mario menjelaskan.

Hingga saat ini, Mario telah mengabadikan hampir 100 karya arsitektur, dari rumah tinggal, kantor, apartemen, restoran, hotel, hingga museum; dari Jakarta, Bandung, Magelang, hingga Singapura. Ia pun semakin mantap menggeluti dunia yang dicintainya ini, sambil perlahan tapi pasti mewujudkan impiannya berkeliling dunia untuk memotret berbagai karya arsitektur di seluruh dunia.

DOK. MARIO WIBOWO PHOTOGRAPHY

Mario banyak memanfaatkan “blue hour” ( jam paling sempurna untuk memotret) untuk mendapatkan pencahayaan yang bagus, seperti

pada bangunan pabrik yang dijepret tepat pukul 6 sore ini. Pencahayaan yang sangat kurang dari bangunan ini juga diakalinya

dengan flash.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.