Si “Nyala” yang Bikin Beda

Mengadaptasi tren fesyen yang pernah berjaya di tahun 1980-an, warna neon nan mencolok ini mulai digemari di dunia interior. Namun, waspadalah! Alih-alih tampil menarik, kesalahan aplikasi warna neon malah bisa membuat ruangan terlihat silau dan penuh.

Rumah - - Interior - TEKS CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com

ika beberapa tahun lalu warna-warna “aman” merajai pasar produk hunian, maka sejak 2012 lalu, warna neon lah yang mulai merambah di manamana. Tak heran, warna-warna neon—seperti hot pink, kuning sitrun, dan hijau limau—ini memiliki karakter yang mencolok, dan “menggoda” mata untuk meliriknya.

Secara definisi, istilah “neon” ini berasal dari gas kimiawi di udara, yang dapat memberikan panas dan sinar pada tabung vakum. Namun, istilah yang lebih familiar di telinga masyarakat adalah lampu neon, dengan gas neon yang terdapat di dalam tabungnya. Karakter “menyala” inilah yang dimiliki pula oleh warna-warna mencolok tersebut, otomatis, masyarakat mengenalnya dengan warna neon.

Dalam dunia fesyen, warna neon memang pernah menjadi tren di tahun 1980-an, beriringan dengan meledaknya konsep retro di ranah interior hunian. Padanan tabrak warna menjadi salah satu ciri khususnya. Kini, seperti roda yang berputar, warna neon kembali populer, kembali disukai khalayak.

Mengikuti tren fesyen, warna neon pun menjadi primadona dalam dunia interior. Kesan yang diberikan warna-warna menyala ini pun cenderung positif: segar, berani, dinamis, ceria, dan bersemangat.

Namun, sayangnya, bila penerapannya kurang tepat, dengan kadar berlebih, ruangan tersebut akan terasa tak nyaman untuk dihuni. Akan terasa bulky (penuh), silau, dan membuat kepala pening.

Lantas, apa saja yang harus Anda pikirkan ketika Anda ingin menerapkan warna neon ini pada hunian Anda?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.