Rumah Aman di Lahan Berkontur

Rumah - - Properti - TEKS ILUSTRASI

Duka kembali datang menghampiri masyarakat Indonesia. Puluhan rumah di Dusun Jemblung RT 05 RW 01, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, tertimbun tanah longsor pada Jumat, 12 Desember lalu. Korban tewas dan hilang mencapai ratusan.

Tinggal di hunian di kawasan berkontur—seperti bukit dan gunung—memang memiliki risiko lebih besar dibanding tinggal di dataran tak berkontur. Seperti yang terjadi di Banjarnegara, risikonya tak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga nyawa. Bencana ini tak hanya datang saat musim hujan saat tanah menjadi lebih gembur, tetapi bisa datang kapanpun di kala kontur bagian atas tak kuat menahan beban.

Walaupun berisiko tinggi, banyak orang yang acuh terhadap masalah ini. Pesona keindahan yang ditawarkan tanah berkontur, baik yang posisinya di atas bukit atau di atas gunung, menghipnotis banyak orang. Para pengembang besar banyak yang tertarik membangun rumah di kawasan ini. Coba Anda tengok di daerah Lembang Bandung, Puncak Bogor, Tembalang Semarang, atau Batu Malang. Ada banyak pengembang yang membangun rumah di kawasan berkontur.

Lantas, apa yang harus Anda perhatikan jika ingin membangun sendiri atau membeli rumah dari pengembang yang lokasinya berada di lahan berkontur?

Kemiringan Tanahnya

Pendeteksian rawan-tidaknya bencana longsor dapat Anda lihat dari kondisi fisik konturnya. Hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah kemiringan tanahnya. Semakin curam kemiringan tanahnya, semakin besar potensi longsor yang bakal terjadi. “Kondisi ideal lahan yang disarankan memiliki kemiringan maksimal 300,” ucap Edi Purwanto, Dosen Perumahan dan Pemukiman Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang.

Sebenarnya, kondisi kemiringan di atas 300 ini masih bisa ditoleransi dengan syarat, pengembang atau Anda yang ingin membangun rumah sendiri dapat menambahkan turap (dinding pembatas tanah) dari atas bukit hingga bawah. Selain itu, struktur fondasi bangunan rumah harus menggunakan pemancangan khusus. Tetapi penambahan ini tentunya akan menambah banyak biaya yang tak sedikit. Ini jugalah yang mendasari rumah di kawasan berbukit cenderung lebih mahal.

Alternatif lain yang biasa dilakukan pengembang adalah dengan cara memotong tanah dan mengisinya ke daerah yang lebih curam atau prosesnya biasa disebut dengan cut and fill. Tujuannya agar didapat kondisi yang lebih ideal. “Hampir semua perumahan yang dibangun di lahan berbukit melakukan proses cut and fill. Tetapi, idealnya, proses ini tidak mengubah bentuk bukit hingga orang tidak mengenali lagi keberadaan bukit tersebut,” ucap Agung Salladin, Manajer Pengembangan dan Pemasaran PT Wijaya Karya Realty Tbk.

Hindari Area Aliran Air

Jika Anda ingin membangun rumah atau membeli rumah dari pengembang, perhatikan juga fisik bangunan bukitnya. Jangan sampai, rumah yang Anda pilih dari pengembang atau membangun sendiri lokasinya berada di aliran air. Jika posisinya di bukit, ini akan terlihat dari cekungan tempat jalannya air saat musim hujan turun. Apalagi, jika area ini jenis tanahnya empuk, maka akan rawan sekali menjadi sumber longsor.

Pembangunan di area ini juga tak diperkenankan karena tanahnya cenderung memiliki pergerakan terus menerus. Jika Anda membangun rumah di area ini, tentunya akan memberikan beban yang terhadap tanah dan membuat pergerakan tanah menjadi tidak seimbang. Bencana longsor pun akan semakin tak terbendung.

Anda juga tak diperkenankan membangun rumah di area bawahnya, karena area ini termasuk ke dalam area rawan longsor. Kikisan air lama kelamaan akan membawa tanah menuruni bukit dan membuat area ini semakin rawan longsor. Jika Anda

IRFAN HIDAYAT irfan@tabloidrumah.com

IRFAN HIDAYAT

dok. pt wika realty,tbk Sebagai konsumen, hak Anda memperoleh dan mengetahui masterplan perumahan yang akan ditempati. Pengembang yang baik bisa menunjukkan masterplan ini. Contoh masterplan perumahan yang dibangun PT Wijaya Karya Realty TBK.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.