13

Rumah - - Solusi -

Bentuk mengikuti fungsi. Inilah prinsip dalam desain arsitektur yang menjadi pegangan Joe Willendra yang akrab disapa Joe dalam mendesain. Membuka pembicaraan tentang pentingnya seorang arsitek memahami perannya, Joe kembali menekankan arti arsitektur.

“Arsitektur itu bukan teknik membangun rumah, tetapi sebuah teknik memecahkan masalah melalui desain,“ujar pria lulusan Amerika ini. Arsitek atau desainer berbeda dengan seniman. “Memang di dalam arsitektur itu ada seni, proporsi, dan cahaya. Namun, yang

TEKS JOHANNA ERLY WIDYARTANTI erly@tabloidrumah.com utama dari semuanya dan menjadi dasar pembuatan desain adalah fungsi,” katanya.

Desain yang baik menurut pemilik biro konsultan W.OFFICE ini adalah desain yang bisa menjawab kebutuhan kliennya. Namun, disadarinya, tak semua klien bisa mengungkapkan kebutuhannya.

Karenanya, seorang arsitek harus punya seni menggali kemauan dan kebutuhan klien, bahkan melakukan investigasi secara detail tentang kemauan sang klien. “Proses menggali keinginan klien ini menjadi kunci keberhasilan desain nantinya,” tutur bapak satu orang putri ini. Hasil dari penggalian ini akan menghasilkan banyak informasi yang jika diibaratkan memasak, informasi itu adalah bahan-bahan yang diperlukan untuk diolah menjadi makanan.

Seberapa susah proses ini dilakukan? “Jawabnya tentu tak sama. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda-beda. apalagi untuk rumah tinggal yang selalu ada sentuhan personalnya.”

Bicara tentang keberhasilan sebuah proyek, Joe memastikan jika hal itu tergantung pada kolaborasi arsitek (perencana), kontraktor (pelaksana), dan juga klien. Ketiganya harus punya tujuan yang sama.

Setidaknya ada 3 hal pokok yang harus

FOTO ARIF BUDIMAN dipilih sebagai prioritas saat menjalankan sebuah proyek, yaitu waktu, bujet, atau kualitas. “Harus ditentukan salah satu, tidak boleh semuanya jadi prioritas,” ujarnya mengingatkan. Meski begitu, Joe mengiyakan, sebuah proyek yang berkualitas tidak selalu waktunya lama. Biasanya untuk kasus ini, proses mendesainnya yang memerlukan waktu yang lama.

Banyak arsitek tak “menggubris” kliennya. Itu artinya, dia tak menjalankan fungsinya sebagai konsultan dengan benar. Begitulah Joe mengkritisi beberapa arsitek yang tak melibatkan kliennya saat proses mendesain. Contohnya, klien perlu tahu kenapa sebuah lantai dalam suatu ruang dinaikkan, alasannya apa, dan sebagainya. Dengan cara ini sang klien akan merasa memiliki proyek itu, ikut dalam proses, mengikuti perjalanan rumahnya dari awal sampai terbangun. Jadi jangan diberikan hanya hasil akhirnya saja.

Perjalanan itu sama pentingnya dengan hasil akhir. “Sebagai perencana, kita paling hanya 1-3 tahun dalam proyek itu, tetapi mereka, si klien, harus tinggal selama puluhan tahun, sampai anak cucu. Jadi kita harus peduli itu. Pengetahuan yang kita miliki selayaknya kita share untuk memenuhi kebutuhan klien,” ujarnya menambahkan.

“Jadi arsitek itu untuk jadi egois, gampang banget. Memaknai peran kita itu yang sulit. Jangan mementingkan ego. Mendengarkan klien itu paling sulit dan butuh pengalaman. Di sekolah Arsitektur tidak ada pelajaran mendengarkan, yang ada bicara proyek, jelasin proyek. Karenanya, belum tentu kita bisa mendengarkan, sedangkan klien menyewa kita untuk didengar lho!”

Ditanya soal masterpiece proyek, Joe mengaku sulit. Ibarat harus memilih anak pertama atau kedua. Karena semua proyek seperti bayi buatnya. Dari semula kosong, terbangun, sampai jadi, ditinggali, dan sampai ditambah dan direnovasi. Sedangkan tentang proyek yang paling menarik dan dinginkannya adalah “proyek berikutnya”. Karena pasti akan punya tantangan yang berbeda.

Tentang impian, Joe ingin sampai nanti dan seterusnya tetap menikmati apa yang dikerjakannya, baik kegiatan profesinya dan

www. kegiatan mengajarnya. Dia ingin generasi berikutnya lebih baik dari generasinya saat ini. Karena setiap generasi harus berkembang. Ia mengajarkan kepada mahasiswanya untuk lebih berani bereksperimen, menemukan ideide baru, temukan gaya sendiri yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Untuk mewujudkan semuanya kuncinya adalah belajar lebih keras dan kerja lebih giat. Semuanya harus bisa karena segalanya berkembang saat ini, konstruksi dan teknologi.

“Jangan pernah berhenti berpikir,” ujarnya menutup perbincangan.

com

beberapa desain proyek Joe Willendra

tabloidrumah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.