Belajar dari Petani

Rumah - - Eksterior -

Menjadi salah seorang bagian dari sebuah yayasan yang bergerak di bidang pelestarian keanekaragaman hayati, yakni Yayasan Kehati, membuat saya sering berinteraksi dengan para petani dan nelayan.

Hal ini pula yang membuat saya perlahan mempelajari teknikteknik bercocok tanam dari mereka. Saya melihat, mereka tak lagi memanfaatkan lahan luas sebagai media tanam. Mereka bisa bercocok tanam di mana saja, mulai dari pekarangan rumah hingga pinggir kali.

Nah, kebetulan, rumah saya itu kan berlokasi di Depok, Jawa Barat, jadi otomatis saya berada di area permukiman yang padat. Sejak tahun kemarin, saya mencoba menerapkan konsep urban farming ini di rooftop rumah saya. Ukurannya pun kecil,

DOK. LISTIA RAHMANDARU GUNTUR hanya 2,5m x 3m. Tapi, yang penting, asupan sinar matahari ke area ini sangat banyak, sehingga saya bisa menanam sayuran, seperti kangkung, tomat, cabe, pakcoy, bayam, jeruk, dan bahan pangan lainnya di sana. Namun, karena lahannya kecil, sayuran dan buah-buahan yang saya tanam pun harus digilir dan berganti-ganti.

Selain itu, untuk membuat potpotnya, saya menggunakan wadah bekas pakai yang masih bisa saya gunakan lagi, seperti botol minyak goreng bekas dan wadah detergen bekas. Jadi enggak nyampah, kan?

Kesulitan di awal itu pasti, terutama ketika harus menentukan kapankah saya bisa mulai memanen hasil kebun saya ini. Pengetahuan saya sangat minim.

Senangnya lagi, dengan kegiatan berkebun ini, saya bisa mengajak

DOK. RINA KUSUMA anak-anak untuk semakin dekat dengan alam. Main air bareng. Seru deh! (Rina Kusuma, Education Officer Yayasan Kehati, Jakarta)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.