Bisa Jadi Lahan Bisnis

Rumah - - Eksterior -

Latar belakang saya menerapkan urban farming, khususnya food gardening (menanam bahan pangan) ini sebenarnya simpel banget. Kalau kita belanja ke pasar nih, misalnya butuh bumbu dapur seperti daun salam, laja, dan jeruk nipis, kita enggak bisa beli dalam jumlah sedikit, kan? Padahal, kenyataannya, kita cuma butuh beberapa buah saja. Alhasil, jadinya mubazir. Terbuangbuang. Terlebih lagi, rumah saya kan ada di kompleks, yang letaknya jauh dari pasar. Jadi susah kalau mau ke mana-mana.

Kebetulan, saya mengenal konsep ini dari tetangga saya, Kang Ridwan Kamil, yang kala itu masih belum menjadi wali kota. Waktu itu, beliau memperkenalkan program Bandung Berkebun di daerah saya. Akhirnya, program ini pun berkembang jadi Kampung Berkebun. Nah, mulailah saya giat berkebun di lingkungan saya sendiri dan menyebarkan “virus” ini ke sekitar saya.

Saya menerapkan konsep berkebun ini di loteng rumah saya, karena area tersebut terkena sinar matahari langsung. Soalnya, kalau menanam sayur, asupan sinar mataharinya harus cukup banyak. Saya sempat menanamnya di pekarangan saya, hanya kurang efektif, karena di dalam kebun itu sendiri sudah sangat rimbun.

Sebenarnya, untuk mulai berkebun dengan konsep urban farming itu sangat mudah, kok! Pertama, kita bisa beli bibitnya di mana saja. Dinas Pertanian sudah menyediakannya, lengkap dengan perangkat polybag- nya. Kita tinggal mengumpulkan para tetangga yang juga ingin mencoba berkebun seperti ini, lalu meminta surat keterangan dari RT setempat. Selain itu, banyak

DOK. MARIA G. SOEMITRO juga pertokoan yang menyediakan bibit-bibit tanaman ini.

Nah, serunya lagi, selain mempermudah saya untuk mendapatkan bahan-bahan masakan, setelah panen, hasilnya bisa saya olah kembali menjadi beragam santapan, seperti cupcake bayam, lalu jadi lahan bisnis, deh! Saya pun bisa menjualnya dengan percaya diri. Pasalnya, rasa dari sayuran ini lebih enak, segar, dan crunchy, karena langsung saya panen dan tidak menggunakan zat-zat kimia.

Pada tahun 2000an, tentu saja, saya—yang baru pertama mencoba konsep ini—memulainya dengan beberapa hambatan. Salah satunya saja gangguan hama. Tapi, lama kelamaan, saya biarkan saja. Pada prinsipnya, hama dan tanaman itu kan berada dalam rantai makanan. Jadi, ya sudah lah, berhubung saya tidak ada beban ketika bercocok tanam, kan?

Alhasil, dengan berkebun seperti ini, rumah saya pun jadi terasa teduh, dengan pasokan oksigen yang banyak di sekeliling hunian. Enak, kan? (Maria G. Soemitro, Penggiat Kampung Berkebun, Bandung)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.