APA KATA JURI DAN PENYELENGGARA?

Rumah - - Propan Arsitektur Nusantara -

YUWONO IMANTO

KETUA PANITIA SAYEMBARA DESA WISATA

Sayembara Desa Wisata adalah sayembara ketiga yang diadakan PT Propan Raya. Berbeda dengan dua sayembara sebelumnya, pada sayembara kali ini peserta ditantang untuk merancang sebuah konsep dan desain sebuah kawasan di salah satu site yang telah ditentukan panitia. Desain dan konsep yang dibuat nantinya harus memenuhi 3 kriteria yakni memiliki unsur estetika, melestarikan kekayaan dan budaya lokal— bahkan jika diperlukan mengembalikan kekayaan lokal yang hampir ditinggalkan, serta menghasilkan economic value berupa kedatangan wisatawan yang dapat mensejahterakan masyarakat desa. Desain ini juga harus memikirkan efek jangka panjang, jangan sampai wisatawan yang datang nantinya mengubah tatanan berbudaya dan menganggu kehidupan masyarakat setempat.

Panitia dan juri membebaskan para peserta untuk mengembangkan konsep dan imajinasi sesuai kriteria. Kami tidak membatasi ukuran kawasan yang harus didesain, bangunan apa yang mesti dibangun, dan sebagainya. Inilah yang membedakan sayembara Desa Wisata dengan sayembara lain dan menjadi tantangan untuk Anda, para arsitek dan desainer yang peduli dengan Arsitektur Nusantara.

DHARMALI

KUSUMADI

JURI SAYEMBARA DESA WISATA

Para peserta adalah arsitek professional. Karena itu saya mengharapkan mereka menelurkan rancangan yang praktis dan realistis. Karya bukan hanya sekedar usulan yang tidak bisa dijalankan karena tidak tepat dari segi bisnis atau tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat. Namun tentu saja, mereka tetap harus berfikir out of the box, menghasilkan ideide baru yang pernuh idealisme.

Perlukah mengkinikan dan menambahkan sentuhan modern di desa? Perlu. Wisatawan yang datang memang ingin melihat budaya asli, namun mereka pasti butuh kenyamanan. Sanitasi harus baik, tempat tinggal mereka harus nyaman dan sehat. Hal ini juga yang harus dipenuhi para peserta.

YORI ANTAR

KETUA TIM JURI SAYEMBARA DESA WISATA

Sayembara ini merupakan sayembara yang menantang karena peserta dituntut mengeluarkan imajinasi dan kepekaannya untuk menyelamatkan, membangun, mengembangkan dan memberi nilai tambah pada sebuah desa. Para peserta harus berfikir bahwa pariwisata yang tepat untuk Indonesia adalah eco-tourism, bukan modern tourism. Kekayaan lokal Indonesia—seperti pahatan atau ukiran— tak ada saingannya. Potensi seperti inilah yang harus digali dan ditemukan para peserta di desa pilihan mereka.

Peserta juga dituntut untuk bisa menghasilkan desa wisata tanpa menghilangkan kekhasan desa tersebut. Harus dicatat, kekuatan sebenarnya sudah ada di masyarakat lokal. Contohnya di Wae Rebo. Sejak diperbaiki, desa ini menjadi desa wisata yang mendatangkan banyak wisatawan yang melihat kekayaan lokal desa, menginap, makan masakan khas, dan belanja tenunan tradisional yang dibuat di sana. Hal ini ujung-ujungnya mensejahterakan masyarakat. Namun mereka tak lantas kehilangan budaya dan arsitektur lokal mereka. Mereka memang membangun bangunan-bangunan penunjang baru berfungsi modern (misalnya penginapan dan taman bacaan) akibat efek dari kedatangan wisatawan, namun yang perlu diingat, bangunan itu dibuat berdasarkan ciri khas arsitektur lokal mereka dan tidak merusak tatanan yang sudah ada.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.