“Rumah Kampung” Jadi Zona Nyaman Keluarga

Bata ekspos melapisi dinding depan, sebuah pedati parkir di taman, dan bale-bale menjadi sarana duduk di teras. Sebuah pemandangan yang membedakan rumah ini dengan rumah di sekitarnya.

Rumah - - Rumah Kita -

Tak susah menemukan rumah ini, meski dia berada pada sebuah gang yang tak terlalu lebar. Di antara rumah-rumah yang Tabloid RUMAH lewati, yang kesemuanya berdesain modern, rumah ini menjadi begitu menonjol karena berbeda.

Sang pemilik pun sangat yakin, kami tak akan susah mencarinya. “Yang di depannya ada pedati dan modelnya seperti rumah-rumah di kampung.” Inilah pesan yang diberikan kepada kami. Benar saja, meski baru sekali datang, tanpa kesulitan kami bisa dengan cepat menemukan rumah ini.

RUMAH KAMPUNG LEBIH ADEM

Bukan tanpa alasan jika rumah ini didesain seperti ini. Novianto Hadisuwito (48) dan Nurdiana Latifa (47)—pasangan suami-istri, pemilik rumah, sama-sama menyukai rumah ala kampung. “Bosen saja melihat rumah-rumah model sekarang yang minimalis,” ujar Nurdiana memberi alasan.

Lebih adem. Itu alasan berikutnya yang membuatnya sepakat dengan sang suami mewujudkan desain rumah ala kampung untuk rumah ke-2 mereka ini. “Sebelum ini, rumah pertama kami yang berada tak jauh dari rumah yang sekarang ini, desainnya sama dengan rumah-rumah lainnya, desain rumah sekarang, dan berada di kompleks,” jelasnya menambahkan.

Kesempatan pun terbuka saat berhasil membeli kaveling lagi dan punya kebebasan mendesain rumah dari mulai awal. “Niat pertama dan harus diwujudkan ya ‘membawa’ rumah kampung kami ke rumah baru ini,” tambahnya.

DUA BUDAYA

Kampung mana yang dibawa? Itulah pertanyaannya, mengingat Novianto maupun Nurdiana bukan berasal dari satu daerah. “Ya duaduanya kami adopsi. Unsur Betawi saya aplikasikan di teras depan rumah. Sedangkan dari Yogyakarta, asal-usul Bapak, lebih diaplikasikan di dalam rumah,” jelasnya.

Tak heran jika banyak ciri khas rumah betawi bisa dilihat di teras ini. Ada langkan, yaitu railing (pagar) teras yang dibuat dari kayu. Langkan ini dipesan khusus ke Setu Babakan. “Kami tahu soal Setu Babakan sebagai lokasi di mana banyak orang Betawi asli tinggal di sana, dari salah satu artikel di Tabloid RUMAH,” kata Nurdiana, yang ternyata adalah pelanggan Tabloid RUMAH dari pertama terbit sampai sekarang. Ibu seorang putra yang sudah kuliah ini mengaku senang sekali mendapat referensi itu. “Langsung saya hunting ke sana dan pesan di sana,” ujarnya.

Ciri khas Yogyakarta terwakili dari plafon gedheg (dibuat dari anyaman bambu) yang menghias teras dan beberapa bagian dalam rumah. Perabot dan dekorasi rumah pun sangat “nJawani” yang didominasi unsur kayu dan desain perabot-perabot zaman dulu yang banyak ditemui di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Layout rumah pun mengesankan rumah-rumah di kampung. Terbuka, minim sekat. Menghadirkan ruang-ruang besar dengan banyak kursi di mana biasa dipakai untuk berkumpul keluarga. Desain rumah yang mengadopsi kearifan lokal masyarakat desa yang terbiasa beraktivitas secara bersama-sama dan suasana persaudaraan.

BATA EKSPOS

Untuk menguatkan karakter kampung dan mendapatkan kesan adem, suami istri ini sepakat mendominasi dinding rumah mereka dengan mengaplikasikan bata ekspos. “Bata ekspos ini adalah bata ekspos asli Garut. Kami memesannya melalui tukang yang mengerjakan pembangunan rumah ini yang kebetulan berasal dari Garut,” ujar Nurdiana.

Satu hal yang agak merepotkan saat proses pembangunan adalah jika kehabisan bahan/material. “Enggak serta merta dapat segera membeli, tapi mesti pesan dan menunggu sampai dikirim dari daerah,” pungkasnya.

KISAH PEDATI DAN SUMUR BUATAN

Tak menghabiskan area lahan untuk bangunan, 2 taman ada di halaman depan dan belakang rumah. Sebuah pedati menjadi focal

point taman depan ini. Muhammad Mufti Hanif, sang putra, rupanya sangat suka kuda dan berkuda. Pedati ini sengaja dibeli untuk menyematkan karakter pemilik rumah sebagai penyuka kuda.

Lantas, apa yang melatarbelakangi dibuatnya sumur

di taman belakang? “Terinspirasi dari sebuah mesjid yang kami singgahi saat kami mudik,” kata Nurdiana. Saat ini, sumur buatan yang sama menjadi focal point taman belakang rumah dan menjadi objek menarik yang langsung terlihat saat orang masuk melalui pintu utama rumah.

Kehadiran pedati dan sumur di rumah ini, selain menjadi penghias rumah, berperan juga menguatkan karakter rumah kampung mereka.

BERANDA DAN BUKAAN

Punya beranda dan bukaan yang cukup banyak dan besarbesar, juga menajdi ciri rumahrumah di kampung. Hal yang sama diaplikasikan di rumah ini.

Beranda rumah tak hanya ada di lantai 1, tapi juga di lantai atas. Hasilnya, udara mengalir tanpa hambatan dari depan ke belakang di area depan rumah. Pergantian udara ini menciptakan kesegaran dan rasa adem. “Kami tak butuh AC di ruang tengah ini. Tak pernah merasa panas juga. Justru sangat sejuk,” ujar Nurdiana.

Menurut Nurdiana, ke depannya rumah ini akan dijadikan rumah singgah bagi keluarga ketika berkunjung ke Jakarta. Rencananya, pasangan ini ingin menghabiskan masa tua mereka nantinya di Yogyakarta. “Pengen masa tua kami jauh dari hiruk pikuk kota,” katanya. Setidaknya, saat berkunjung ke kota, rumah ini tetap menghadirkan suasana nyaman senyaman rumah di kampung mereka.

Begitulah, setiap orang adalah raja untuk rumahnya sendiri. Dan rumah yang paling indah dan nyaman adalah rumah yang dibangun dan ditata sesuai selera pribadi dan jiwa pemiliknya. Rumah ini kini menjadi tujuan pulang yang selalu dirindukan oleh Nurdiana, suami, dan anaknya, ke manapun mereka pergi, karena di rumah inilah jiwa mereka berada.

FOTO ARIF BUDIMAN

LUAS BANGUNAN: 210M2 LUAS LAHAN: 200M2

TEKS JOHANNA ERLY WIDYARTANTI erly@tabloidrumah.com

3 Teras yang dipagari langkan khas Betawi dan bangku kayu khas Jawa memadukan 2 budaya pemilik rumah, Betawi dan Yogyakarta.

Barang-barang peninggalan orang tua cocok diaplikasikan di rumah kampung ini.

Ruang keluarga memperoleh suplai udara segar dari taman belakang. Focal point view rumah ada di sumur buatan yang ada di tengah taman.

Sebagian dari penghargaan yang diperoleh Hanif, sang putra, dengan kegiatan berkudanya dimanfaatkan sebagai dekorasi di area tangga.

Ruang tamu dan seperangkat perabot kayu ddikombinasi rotan adalah barang peninggalan leluhur yang masih pas dihadirkan di rumah ini.

1

Lampu gantung khas kedaerahan. Memakai bohlam pada umumnya dan menggunakan rumah lampu terbuat dari tumbu (bakul). Kesatuan tema di ruang makan ditunjukkan dengan penggunaan material yang sama yaitu kayu jati belanda pada meja dan kursi makan serta kitchen set. Rumah Lampu dari Bakul

Curi Idenya!

Sumur buatan menjadi elemen keras taman yang mencuri perhatian. Dibuat sedalam 1m, dilapisi semen acian di bagian dalam dan batu kali templek di luar. Saat hujan bisa difungsikan sebagai tampungan air untuk menyiram tanaman.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.