BERKARYA DENGAN TANGAN DAN HATI

Mengikuti kata hati. Hal inilah yang menjadi alasan kuat Aphrodita Wibowo untuk memilih profesi crafter yang sudah digelutinya selama 3 tahun.

Rumah - - Profil - TEKS CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com

“Saya percaya, sesuatu yang dikerjakan dari hati, pasti akan mengalir dengan menyenangkan, sekalipun awalnya terasa berat karena memulainya dari bawah.”

Ada pepatah berkata, bahwa karya tangan seseorang merupakan cerminan kepribadian sang pembuatnya.

Hal tersebut pun kami rasakan, ketika melihat sosok perempuan mungil bernama Aphrodita Wibowo ini. Rona wajah cerahnya tak jauh berbeda dengan image dari “kawanan” boneka yang merupakan hasil karyanya itu. Terbuat dari material kain yang beraneka warna, serta diolah menjadi beragam bentuk yang jenaka, Dita—demikian panggilan akrabnya—“membawa” nyawa ceria pada setiap karya tangannya tersebut.

Dita menamai “kawanan” tersebut dengan julukan masa kecilnya, yakni Cemprut. “Soalnya, bagi saya, nama itu mewakili diri saya sendiri, khususnya sosok saya di masa kecil yang berani untuk bermimpi, lebih jujur, tulus, ceria, dan merdeka. Saya ingin mempertahankan semangattersebut,” ujar Dita antusias.

BERMULA DARI HOBI MASA KECIL

Bagi Dita, hobinya ini seakan sudah mendarah daging. Perempuan berhijab ini memang senang berkecimpung dalam dunia craft sejak ia masih berusia belia, diperkenalkan oleh kedua orang tuanya yang juga berminat sama.

“Bahkan, sejak SD, setiap saya iseng bikin kerajinan tangan untuk diri sendiri, banyak teman dan saudara yang ingin dibuatkan juga. Jadilah bisnis kecil-kecilan, yang berlanjut hingga bangku perkuliahan, deh!” kata Dita bercerita.

Setelah lulus kuliah dan menikah, sang suami—yang sering ia sebut dengan julukan “Pak Cemprut”— membebaskannya untuk memilih pekerjaan apa saja yang ia senangi.

Alhasil, ia pun mulai mengikuti kata hati, yakni terjun ke dunia craft. “Saya percaya, sesuatu yang dikerjakan dari hati, pasti akan mengalir dengan menyenangkan, sekalipun awalnya terasa berat karena memulainya dari bawah,” tambah Dita.

Sejak itu pula, ia hanya meminta modal sebesar Rp100.000 pada sang suami, untuk membeli alat dan bahan-bahan kerajinan. “Dimulai dari tahun 2008, saya mempelajari ilmu craft secara otodidak, sekaligus belajar bisnis kecil-kecilan. Nah, modalnya pun diputar terus menerus sampai sekarang. Begitu pula dengan ilmu

craft yang saya dapatkan. Sampai sekarang juga saya masih belajar, kok,” ungkap Dita rendah hati.

MEMBUAT BONEKA, BEBASKAN IMAJINASI

Awalnya, Dita mencoba membuat bermacam-macam karya, mulai dari tas, dompet, bros, syal, dan beragam kerajinan lainnya. “Sejak 3 tahun lalu, barulah saya mencoba membuat boneka, yang ternyata—tanpa disengaja—menjadi karakter Cemprut hingga saat ini,” ujar perempuan ceria ini.

Alhasil, Dita sangat nyaman ketika mengeksplorasi pembuatan kerajinan boneka. Menurutnya, imajinasinya dapat tersampaikan melalui karakter serta detail-detail bentuk bonekanya tersebut.

Lihat saja, koleksi produk Cemprut ini sangat berkarakter dan kaya warna. Selain membuat boneka manusia dan binatang, Dita juga membuat bentuk-bentuk unik yang tentunya jarang ditemukan di pasaran, seperti pepohonan, kaktus, hingga batang kayu bermotif khas. “Kawanan” boneka ini pun bisa memiliki beragam manfaat, bisa menjadi mainan anak, pajangan rumah, hingga bantal atau guling “teman” tidur sang buah hati. ?

MENYEBAR LEWAT JEJARING SOSIAL

Ternyata, nama Cemprut ini mulai dikenal oleh kalangan pecinta

craft dari mulut ke mulut. “Jadi, dulu kan saya ikut pindah ke Tangerang untuk ikut dengan suami. Nah, di tempat baru ini, saya belum punya banyak teman dan kenalan, jadi jalan satu-satunya adalah menyebarkannya lewat mulut ke mulut,” ungkap Dita.

Dari sanalah, banyak kerabat Dita yang menyarankan untuk mengikuti bazar akhir pekan, salah satunya di Pasar Flohmak BSD (Bumi Serpong Damai) dan Sunday Market di Ancol. Namun, sayangnya, lama kelamaan hal itu membuat tenaganya terkuras habis.

Setelah itu, Dita mulai mencoba berjualan hasil karyanya secara

online, yakni menggunakan jejaring sosial Multiply, lalu akhirnya pindah ke Facebook. “Ternyata, berjualan secara online itu lebih nyaman! Secara berkala, jaringan pertemanan bisa lebih cepat bertambah. Proses jual beli pun bisa dilakukan di mana saja. Sambil tidur-tiduran dan bersantai di rumah juga bisa, lho! Hehe...” jelas Dita.

“LAHIRAN” DAN “ADOPSI”

Tak hanya hasil karyanya saja yang unik. Bersama sang suami, Dita memperjualbelikan produkproduk Cemprut ini dengan konsep yang nyentrik pula.

Dalam proses bisnisnya ini, Dita memperkenalkan istilah “lahiran”, yang berarti peluncuran produk Cemprut terbaru yang dipublikasikan lewat dunia maya serta istilah “adopsi”, yang berarti menyerahkan produk-produknya tersebut ke tangan sang pembeli.

Proses bisnis ini pun diakui menjadi bagian tersulit yang harus ia hadapi. “Masalahnya, saya memang sangat jatuh cinta pada proses kreatif dalam membuat karya-karya Cemprut, namun saya bukan orang yang menyenangi proses jual beli. Apalagi, ketika banyak orang yang mulai menggemari produk Cemprut. Wah, saya sempat kewalahan, deh!” ujar Dita bernostalgia.

Untungnya, kehadiran Pak Cemprut—julukan sang suami— membuat proses “adopsi” ini berjalan lebih lancar. “Jadi deh, kami membuat duet maut dalam menjalankan Cemprut ini,” tambah Dita sambil tersenyum.

Bagi Dita, menjalankan sesuatu dari hati, khususnya kegiatan yang menafkahi lahir dan batin, akan menghasilkan sesuatu yang berharga. Sama halnya, ketika ia menjalankan produk Cemprut ini. Wah, sebuah inspirasi yang berharga, bukan?

Foto produk-produk Cemprut, ketika masa “lahiran” tiba.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.