Namun Lama masangnya

Kemunculan bahan material lain tak membuatnya goyah. Banyak keunggulan yang dimilikinya, walaupun banyak pula kelemahannya.

Rumah - - Ruang Utama - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

Walaupun sekarang ini banyak material alternatif beredar di pasar bahan bangunan, bata merah tetap jadi primadona. Masih banyak pemilik rumah, arsitek, dan kontraktor yang menggunakan bata merah sebagai bahan utama dinding rumahnya. Misalnya saja Bambang, kontraktor yang membangun banyak rumah di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Ia masih menggunakan material ini karena menurutnya bata merah lebih mudah didapatkan dan bisa diaplikasikan oleh semua tukangnya.

RUMAHAN VS PABRIKASI

Jika melewati Tol Cikarang, Anda akan melihat banyak rumah rendah beratap genting. Itulah Lio, tempat pembuatan bata merah. Ya, dulu bata merah hanya dibuat oleh industri rumahan. Dibuat dari tanah liat yang berwarna merah.

Setelah bata dimasukkan ke dalam cetakan secara manual, ia kemudian dibakar dalam tungku sederhana dengan suhu tinggi sehingga berwarna kemerahmerahan, lalu dijemur di bawah terik matahari. Karena dilakukan manual, ukuran bata tidak presisi, hasil pembakarannya pun tidak merata. Ukurannya standar, yakni panjang 17cm, lebar 10cm, dan tebal 3cm.

Sekarang ini, ada bata merah yang dibuat di pabrik. Bata merah jenis ini dicetak dengan menggunakan mesin sehingga ukurannya presisi dengan sisi-sisi dan tepi yang rapi. Pembakarannya dilakukan dengan menggunakan oven sehingga hasilnya merata.

Dari segi kekuatan, bata pabrikasi tak berbeda dengan bata rumahan, namun lebih presisi sehingga hasil akhirnya lebih rapi. Ukurannya juga lebih besar—yakni panjang 24m, lebar 10cm, tebal 5cm—sehingga proses pemasangannya lebih cepat.

COCOK UNTUK RUMAH TROPIS

Bata merah punya banyak kelebihan, di antaranya bahannya yang tak menyerap panas sehingga tidak membuat suhu di dalam rumah menjadi panas. Dibandingkan beton, tanah liat—bahan utama bata merah—memang memiliki koefisien penyerapan panas yang lebih sedikit. Itu sebabnya, batu bata cocok digunakan di rumah-rumah yang ada di negara beriklim tropis.

Ukuran bata merah yang kecil—jika dibandingkan beton— memang memperlama waktu pengerjaan dan memperbanyak penggunaan adukan semen. Namun, menurut Bambang, ukuran kecil ini memberikan kemudahan ketika harus membentuk bidang yang tak terlampau besar.

Berbeda dengan bata beton ataupun bata ringan, bata merah ini dapat dipasang dengan adukan semen biasa (semen ditambah pasir dan air).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.